Sukses

Mengatasi Intoleransi Laktosa pada Anak

Intoleransi laktosa sering disalahartikan sebagai alergi atau diare. Apa gejalanya dan bagaimana cara menanganinya?

Klikdokter.com, Jakarta Laktosa merupakan salah satu karbohidrat penting yang terdapat dalam susu, baik ASI maupun susu formula. Ketika seorang anak mengalami intoleransi laktosa, biasanya timbul gejala berupa diare berlebih, nyeri perut, rasa kembung, sering buang gas, dan sebagainya.

Secara umum, gejala intoleransi laktosa pada sebagian besar anak dapat dikendalikan dengan mengubah diet sehari-hari. Mengurangi atau menghindari makanan berlaktosa dan menggantinya dengan makanan bebas laktosa merupakan salah satu solusi.

Namun, perubahan spesifik yang perlu dilakukan tergantung dari seberapa sensitif anak tersebut terhadap laktosa. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung laktosa dapat menyebabkan berkurangnya beberapa vitamin dan mineral tertentu dalam tubuh. Jadi, sangat penting untuk mendiskusikan dengan dokter mengenai menu makanan yang ideal.

Salah satu sumber makanan yang mengandung laktosa adalah susu. Bergantung dari derajat intoleransi laktosa yang dialami, jumlah susu atau produk susu dalam diet sehari-hari dapat dimodifikasi.

Bila konsumsi susu yang sangat sedikit tetap menimbulkan keluhan, terdapat beberapa pilihan alternatif seperti susu formula bebas laktosa atau susu soya. Selain itu, makanan yang mengandung produk susu, seperti krim, keju, yoghurt, es krim, dan mentega, juga mengandung laktosa.

Susu merupakan salah satu sumber asupan kalsium untuk tubuh, yang berfungsi untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, kontraksi otot, dan pembekuan darah.

Bila konsumsi susu dan produk susu dibatasi, disarankan untuk mengonsumsi makanan kaya kalsium lainnya, seperti brokoli, bayam, tahu, dan kacang-kacangan. Ini penting untuk memastikan jumlah kalsium dalam tubuh tetap dalam batas normal.

Karena terdapat beberapa kondisi medis dengan gejala serupa intoleransi laktosa (misalnya diare), harap berkonsultasi dengan dokter secara langsung untuk menegakkan diagnosis. Dengan demikian, dokter dapat menentukan penanganan yang paling sesuai untuk anak.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar