Sukses

Perbedaan Stres dan Depresi, serta Cara Mengatasinya

Sering dianggap sama, stres dan depresi ternyata merupakan dua masalah yang berbeda, lho! Apa perbedaan stres dan depresi? Ini lengkapnya.

Stres dan depresi tidaklah sama. Akan tetapi, kadang orang menganggapnya sebagai hal yang serupa. Stres juga tidak selamanya buruk. Hampir semua orang pernah mengalami stres, misalnya saat menghadapi macet, wawancara kerja, masalah keluarga, atau perihal karir dan keuangan.

Memang benar, stres terlalu lama dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan, tapi stres juga bisa menghadirkan manfaat baik. Contohnya, saat sedang deadline, stres memicu tubuh untuk memperbaiki kinerja. Artinya, seseorang dapat menemukan potensi lebih dalam lagi karena stres tersebut.

Namun, stres biasanya akan hilang setelah situasi yang buruk tersebut terlewati atau saat orang tersebut melakukan hobinya. Pada orang yang rentan, kondisi stres dapat menyebabkan depresi berat. Lalu, sebenarnya bagaimana perbedaan stres dan depresi? 

1 dari 4 halaman

Perbedaan Stress dan Depresi

Stres bukan merupakan kondisi mental. Stres dapat menjadi salah satu cara manusia bertahan hidup. Biasanya, stres dapat dipicu oleh suatu hal dan akan hilang setelah peristiwa hidup berubah. 

Akan tetapi, bila stres terjadi dalam jangka waktu lama dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang bisa jatuh ke dalam keadaan depresi. Berikut adalah gejala-gejala stres yang harus Anda tahu: 

  • Sulit konsentrasi 
  • Sulit tidur
  • Gangguan memori 
  • Perubahan kebiasaan makan 
  • Mudah marah atau mudah tersinggung
  • Sulit bekerja 
  • Sering merasa sakit kepala 

Sementara itu, depresi menurut American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 (DSM-V) adalah gangguan mood yang terjadi selama dua minggu berturut-turut. 

Depresi membutuhkan diagnosis medis mendalam. Meskipun stres dihubungkan dengan suatu kejadian tertentu, namun depresi dapat terjadi tanpa pemicu. Gejala depresi antara lain: 

  • Merasa sedih dan putus asa 
  • Menarik diri 
  • Hilang minat 
  • Kurang energi
  • Merasa gelisah 
  • Mudah tersinggung 
  • Merasa rendah diri 
  • Pikiran untuk bunuh diri 

Artikel Lainnya: Saat Depresi, Jangan Konsumsi 7 Makanan dan Minuman Ini

2 dari 4 halaman

Adakah Hubungan Keduanya?

Stres terlalu lama dapat menyebabkan perubahan di bagian neurotransmitter otak. Di antaranya, stres dapat meningkatkan hormon kortisol dan mengurangi produksi hormon serotonin serta dopamin. 

Sistem hormon ini bekerja untuk mengatur proses biologis tubuh, yaitu tidur, nafsu makan, energi, dan dorongan seks. Respon stres yang gagal dihentikan dan diatur ulang setelah peristiwa pemicu berlalu, akhirnya dapat menyebabkan seseorang terkena depresi. 

Sebuah penelitian mengungkapkan, faktor-faktor yang berperan kepada timbulnya depresi adalah genetik, perubahan tingkat hormon, kondisi medis, stres, kesedihan atau keadaan kehidupan yang sulit. Perlu diingat kembali, terkadang depresi terjadi tanpa ada pemicu sama sekali.

Pria dan wanita di segala usia, tingkat pendidikan, latar belakang sosial dan, ekonomi bisa menderita depresi. Dampak depresi bisa lebih parah bila terdapat penyakit lain, seperti diabetes, stroke, dan jantung.

Artikel Lainnya: 10 Profesi yang Rentan Depresi, Apakah Anda Termasuk?

3 dari 4 halaman

Cara Menghilangkan Stres dan Depresi

Dengan melakukan penanganan terhadap stres, maka kita dapat mencegah terjadinya depresi. Berikut beberapa cara mencegah dan mengatur tingkat stres: 

  • Cukup tidur
  • Makan makanan sehat 
  • Olahraga secara teratur
  • Melakukan hobi 
  • Meditasi 
  • Bercerita kepada teman 

Apabila Anda merasa tidak dapat menangani kondisi mental sendiri, jangan tunggu terlalu lama. Segeralah berkonsultasi kepada psikiater atau psikolog. Anda juga bisa meminta dukungan kepada teman atau keluarga guna membantu mengendalikan stres.

Sedangkan depresi, umumnya membutuhkan perawatan yang lebih kompleks. Diagnosis depresi ditegakkan oleh tenaga ahli kemudian akan dilakukan perawatan secara bertahap, baik berupa obat-obatan atau terapi. 

Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Berkonsultasi dengan psikiater masih enggan dilakukan karena dianggap identik dengan gangguan jiwa serius. 

Padahal, berbicara mengenai masalah kesehatan mental kepada ahlinya bukanlah hal yang memalukan, malah sangat disarankan. Cari tahu cara atau tips mengendalikan stres serta informasi tentang depresi lainnya dengan membaca artikel di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

1 Komentar