Sukses

Ini Penyebab dan Solusi Keputihan Berbau Amis

Keputihan yang berbau amis disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang berlebihan di dalam vagina. Bagaimana solusinya?

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian besar wanita pernah mengalami keputihan, baik yang normal maupun tidak. Keputihan tidak normal sering disebabkan oleh bakterial vaginosis (BV). Kondisi ini biasanya dikeluhkan sebagai keputihan yang encer, berwarna keabuan hingga kehijauan, serta berbau amis.

Lebih dari 50 persen kasus BV tidak bergejala. Akibatnya, wanita sering tidak menyadari dirinya terinfeksi BV. Bau amis dari keputihan kerap baru disadari setelah berhubungan intim. Rasa gatal bisa muncul, terutama bila keputihan sangat banyak. Keputihan jenis ini dipicu oleh perubahan komposisi bakteri di dalam vagina.

Dalam keadaan normal, vagina didominasi oleh bakteri Lactobacillus sp. Berkurangnya jumlah lactobacilli menyebabkan produksi asam laktat menurun, sehingga pH vagina lebih basa dan mendukung pertumbuhan bakteri lain seperti Gardnerella vaginalis dan Mycoplasma hominis. Peningkatan pertumbuhan kedua bakteri ini menimbulkan keputihan berbau amis.

Perubahan komposisi bakteri dipicu oleh beberapa faktor, seperti melakukan hubungan intim yang tidak aman dan kerap bergonta-ganti pasangan. Pemicu lainnya yaitu sering mencuci bagian dalam vagina (vaginal douching), merokok, memakai alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), dan menggunakan spermisida dosis tinggi. Keputihan jenis ini juga dapat terjadi pada wanita yang belum aktif secara seksual seperti pada remaja.

Kenali solusinya

Keputihan akibat BV diatasi dengan pemberian antibiotik seperti metronidazole atau klindamisin. Antibiotik ini dapat berupa obat minum, gel atau krim yang dimasukkan ke dalam vagina.

Meski telah diobati dan sembuh, BV dapat kambuh kembali. Karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan baik dengan obat maupun perawatan area kewanitaan yang benar.

Nah, berikut ini solusi untuk mencegah keputihan berbau amis:

  • Lakukan pembersihan area kewanitaan luar mulai dari rambut pubis, pangkal paha hingga dekat anus sebanyak 1-2 kali per hari, dan tidak lebih dari 2-3 menit. Bersihkan dengan gerakan lembut melingkar dari arah depan ke belakang. Gunakan air mengalir untuk membilas, lalu keringkan dengan handuk bersih.
  • Hindari membersihkan bagian dalam vagina (vaginal douching) karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri vagina dan menyebabkan keputihan.
  • Bila ingin menggunakan produk kewanitaan, pilih sabun cair yang mengandung asam laktat (pH asam 4,2-5,6) serta hipoalergenik. Sabun ini hanya untuk pemakaian luar.
  • Hindari kebiasaan menggunakan tisu basah dan bedak pada area kewanitaan.
  • Bersihkan area kewanitaan setiap setelah berhubungan intim.
  • Setialah dengan satu pasangan seksual, atau gunakan pengaman seperti kondom setiap berhubungan intim.
  • Saat menstruasi, penggunaan pembalut dalam waktu lama dapat menaikkan pH area kewanitaan menjadi lebih basa. Penggunakan produk kewanitaan dengan pH asam dapat membantu mempertahankan pH optimal selama menstruasi. Selain itu, tampon atau pembalut harus diganti minimal setiap 6 jam.
  • Jangan lupa untuk menyelesaikan rangkaian pengobatan bakterial vaginosis, sekalipun gejala telah berkurang setelah mengonsumsi beberapa dosis obat.
  • Bila keputihan berbau amis sering kambuh (lebih dari 3 kali dalam waktu 12 bulan terakhir), pencegahan dapat dilakukan dengan penggunaan gel metronidazole vagina 2 kali seminggu selama 3-6 bulan.

Bila mengalami keputihan yang berlebihan atau berbau amis, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai. Mengobati keputihan secara mandiri dengan produk-produk yang dijual bebas tidak dianjurkan karena dapat memperburuk kesehatan vagina.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar