Sukses

Mengungkap Bahaya di Balik Seks Anal

Di balik pro dan kontra dari sisi budaya, seks anal ternyata menyimpan sejuta ancaman dari sisi kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Seks anal merupakan salah satu metode berhubungan seksual yang cukup banyak dipraktikkan. Tidak hanya pada hubungan sesama jenis, tetapi juga pada hubungan berlawanan jenis.

Seks anal tidak hanya berarti memasukkan kelamin ke dalam anus, tetapi juga alat bantu seksual seperti vibrator, jari, serta termasuk penggunaan mulut (oral-anal).

Seluruh cara dalam seks anal ini menyimpan bahayanya masing-masing, bahkan lebih berbahaya dari hubungan seksual melalui vagina yang umum diterapkan. Mengapa seks anal lebih berbahaya?

  1. Anus tidak memproduksi lubrikan

    Hubungan seksual melalui vagina akan menstimulasi produksi cairan pelumas atau lubrikan alami. Lubrikan ini berfungsi meminimalkan pergesekan sehingga risiko terjadinya luka di sekitar kelamin lebih kecil.

    Beda halnya dengan seks anal. Anus tidak memiliki kelenjar yang dapat memproduksi lubrikan. Dengan demikian pergesekan yang terjadi dapat meningkatkan risiko perlukaan.

    Luka yang terbentuk, sedikit atau banyak dapat menghasilkan darah, merusak lapisan kulit pelindung, dan semakin memperbesar risiko penularan berbagai infeksi menular seksual.

  2. Lapisan kulit anus sangat mudah iritasi

    Berbeda dengan bagian luarnya, lapisan kulit di sisi dalam anus sangat tipis dan mudah robek serta iritasi. Adanya robekan dan iritasi ini tentu akan semakin meningkatkan peluang terjadinya infeksi dan penyebaran berbagai penyakit seksual berbahaya.

  3. Anus penuh dengan bakteri

    Anus dan saluran pencernaan di atasnya berfungsi untuk menampung kotoran sisa pencernaan tubuh. Kotoran ini tidak lepas dari kontaminasi berbagai bakteri, termasuk E. coli. Bakteri ini dengan mudahnya akan menyebar dan menyebabkan infeksi ketika seseorang melakukan seks anal.

  4. Kelenturan anus terbatas

    Anus terdiri atas lapisan-lapisan kulit dan otot yang berperan dalam menahan kotoran tetap pada usus hingga jumlahnya cukup banyak untuk kemudian dikeluarkan. Seks anal yang dilakukan berulang akan membuat kelenturan otot di anus lama-kelamaan semakin berkurang.

    Akibatnya anus tidak lagi mampu menahan kotoran tetap pada tempatnya. Beberapa individu yang sering mempraktikkan seks anal mengaku kerap mendapati bercak kotoran di pakaian dalamnya akibat ketidakmampuan anus menahan kotoran tetap di dalam usus.

Seluruh konsekuensi di balik seks anal tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai jenis infeksi menular seksual. Beberapa infeksi yang cukup umum terjadi, antara lain gonore, sifilis, kutil kelamin, klamidia, herpes genital, hepatitis B, dan HIV.

Mengingat adanya berjuta bahaya di balik metode seks tersebut, ada baiknya seseorang mempertimbangkan kembali sebelum melakukan seks anal. Tak ada salahnya memilih cara lain yang lebih aman bagi kesehatan Anda maupun pasangan.

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar