Sukses

Anak Mudah Cemas, Apa Sebabnya?

Seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami gangguan cemas. Tapi, apa yang membuat anak mudah cemas?

Klikdokter.com, Jakarta Selayaknya orang dewasa, anak juga dapat merasa cemas. Sayangnya, orang tua sering kali tak merespons dengan baik. Akibatnya tak jarang hal tersebut berkembang menjadi gangguan kejiwaan pada kemudian hari. Karena itu, Anda perlu memerhatikan apa yang membuat anak mudah cemas.

Sebenarnya, rasa cemas adalah respons otak terhadap stimulus yang dianggap berbahaya. Hal ini wajar karena bertujuan untuk menghindari seseorang dari ancaman bahaya.

Pada anak, rasa cemas merupakan bagian dari perkembangan emosi. Penyebab kecemasan pun bervariasi seiring dengan perkembangan usia.

Contoh yang paling awal dan sering terjadi adalah cemas berpisah (separation anxiety). Anak akan menangis, meronta, dan meraung saat ditinggal pergi oleh orang terdekatnya—seperti orang tua atau pengasuhnya.

Separation anxiety terjadi karena anak telah mengenali orang-orang terdekatnya tersebut sehingga ketika mereka pergi, rasa cemas pun akan muncul. Kondisi ini mengalami puncaknya pada usia 12 hingga 18 bulan, dan berkurang pada usia 2 hingga 3 tahun.

Berbeda dengan balita, anak usia prasekolah biasanya merasa takut terhadap beberapa hal yang spesifik. Misalnya, hewan, serangga, ketinggian, dan ruangan gelap.

Saat mulai sekolah, mereka akan mengalami cemas terhadap teman baru, kelas baru, sekolah baru, dan masa ujian sekolah. Normalnya, kondisi ini berlangsung beberapa waktu dan rasa takut akan berkurang dengan sendirinya.

Namun, pada beberapa anak, rasa takut dan cemas tersebut akan menetap hingga menimbulkan gangguan.

Gangguan Cemas pada Anak

Paul Stallard, seorang profesor bidang kesehatan mental anak dan keluarga dari Universitas Bath, mengatakan saat seorang anak merasa cemas sepanjang hari dalam jangka waktu yang lama, kemungkinan anak tersebut mengalami gangguan cemas.

Lalu, bagaimana ciri-ciri anak yang mengalami gangguan cemas?

  • Anak merasa cemas terus-menerus, sepanjang hari, dan terhadap banyak hal.
  • Pada anak yang lebih kecil, ia menjadi mudah menangis dan sangat bergantung terhadap orangtuanya.
  • Anak sulit tidur, sering terbangun pada malam hari, sering mengompol.
  • Pada anak yang sudah sekolah, akan merasa kesulitan untuk bergaul dan cenderung menghindari teman-temannya.

Bila anak Anda memiliki satu-dua ciri tersebut, tak perlu panik dan langsung berpikir ia mengalami gangguan cemas. Tetaplah tenang di hadapan anak, terutama bila ia mulai menunjukkan tanda kecemasan.

Orangtua yang bersikap cemas akan membuat anak semakin cemas. Bila terdapat gangguan aktivitas sehari-hari pada anak akibat kecemasannya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Kini Anda tahu apa saja yang membuat anak mudh cemas. Ingat, cemas tak selalu wajar, tetapi bisa juga ciri sebuah gangguan. Mengenalinya sejak awal akan menghindarkan anak dari gangguan yang lebih berat pada kemudian hari.

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar