Sukses

Mengingat Perjuangan Ibu Melahirkan Lewat Film Kartini

Pergulatan Kartini tidak hanya untuk kesetaraan antara wanita dan pria. Ia juga berjuang sampai titik darah penghabisan, untuk melahirkan.

Klikdokter.com, Jakarta Selama ini bila membicarakan Kartini, orang kerap luput dengan kisah kematiannya. Pejuang emansipasi wanita ini meninggal empat hari setelah melahirkan anak pertama sekaligus terakhirnya. Perjuangannya pun berakhir di usia yang masih sangat muda, 25 tahun.

‘Membaca’ Angka Kematian Ibu di Indonesia

Kartini diyakini meninggal akibat preeklampsia, suatu komplikasi pada kehamilan yang mengakibatkan naiknya tekanan darah dan merusak organ-organ tubuh. Kondisi ini kadang berkembang tanpa gejala, sehingga rawan terlambat ditangani.

Melihat hal tersebut, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengungkapkan pentingnya menyadari risiko kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, angka kematian ibu masih sangat tinggi. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012, angka ini mencapai 359 dari 100.000 kelahiran hidup.

“Beberapa faktor yang meningkatkan angka kematian ibu adalah usia yang terlalu muda atau terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak, dan terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan,” kata Giwo Rubianto Wiyogo, Ketua Umum Kowani, saat pembukaan Special Screening “Kartini” di Plaza Indonesia XXI, Jakarta Pusat (Rabu, 5 Maret 2017).

Faktor-faktor lainnya adalah infeksi, penyakit yang diderita ibu saat hamil, jarak kehamilan yang terlalu dekat, telat mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat, dan sebagainya.

Berkaca Lewat Adegan Film Kartini

Setelah pembukaan oleh Kowani dan para pemain utama, film “Kartini” pun dimulai. Berdurasi hampir dua jam, biopik garapan Hanung Bramantyo ini memang tidak mempersoalkan peran Kartini sebagai seorang istri (dan calon ibu), tetapi lebih menunjukkan pergolakan batinnya saat dipingit.

Meski demikian, ada satu adegan yang menggambarkan betapa mudanya anak-anak perempuan menjadi ibu pada zaman kolonial Belanda. Mereka menikah dan melahirkan pada usia belasan tahun. Belum banyak edukasi mengenai bahayanya kehamilan dan persalinan dini saat itu.

Seratus tiga belas tahun sudah berlalu sejak Kartini tiada. Namun, nyatanya preeklampsia masih terjadi dan menyebabkan kematian.

“Tak ada seorang pun wanita yang harus meninggal karena membawa anak ke dunia,” ujar Giwo. Ia berharap, angka kematian ibu di Indonesia akan menurun tahun ini agar tidak perlu lagi ada ‘Kartini- Kartini’ lainnya.

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar