Sukses

Menyambut Hari Tuberkulosis Sedunia 2017

Peringatan hari tuberkulosis sedunia diharapkan dapat menurunkan angka kejadian tuberkulosis di dunia. Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Klikdokter.com, Jakarta Tanggal 24 Maret ditetapkan sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai dampak penyakit yang endemis ini. Sejauh ini, sudah seperti apa kemajuan yang berhasil dicapai?

Tuberkulosis itu sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Paru-paru adalah organ yang paling sering terinfeksi bakteri ini

Penularannya seringkali terjadi melalui udara dan saat seseorang dengan tuberkulosis batuk atau bersin yang akhirnya mencemari udara. Orang dengan sistem daya tahan tubuh menurun seperti malnutrisi, diabetes, atau infeksi HIV, rentan terhadap penularan penyakit ini.

Meskipun tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang dapat disembuhkan dan dicegah, angka kejadian masih relatif tinggi. Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat sekitar 10.4 juta jatuh sakit dan 1.8 juta meninggal akibat infeksi tuberkulosis pada tahun 2015.

Penyakit ini memiliki angka kejadian yang tinggi pada anak-anak, dengan lebih dari 1 juta anak terinfeksi di tahun 2015. Selain itu, sekitar 95% kematian akibat tuberkulosis terjadi di negara berkembang dan Indonesia menduduki posisi kedua dengan angka kejadian tuberkulosis terbanyak di dunia.

Dalam rangka menurunkan angka kejadian tuberkulosis dan mencapai salah satu Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengakhiri epidemi tuberkulosis menjelang tahun 2030, para pakar dari WHO merumuskan “End TB Strategy” pada bulan Mei 2014.

Hal ini diterapkan dengan melibatkan penyusunan kebijakan yang lebih ketat, menambah sistem dukungan untuk pencegahan dan penanganan tuberculosis. Juga meningkatkan intensitas penelitian dan inovasi di bidang tuberkulosis, serta mengintegrasi pusat pelayanan dan pencegahan tuberkulosis yang difokuskan pada pasien.

Dengan banyaknya inisiatif yang diajukan untuk menanggulangi tuberkulosis di dunia, diharapkan dapat menurunkan angka kejadian dan angka kematian akibat penyakit tersebut dapat tercapai pada tahun 2030. Untuk mencapai hal itu, tentunya dibutuhkan komitmen dan sinergi dari pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat.

(DA/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar