Sukses

Lupakan PMS, Saatnya Berkenalan dengan PMDD

Anda pikir PMS itu mengerikan? Awas, ada yang lebih berbahaya yaitu PMDD. Sindrom ini dapat menyebabkan penderitanya bunuh diri!

Klikdokter.com, Jakarta Pernah mendengar istilah Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)? Kalau belum, kini saatnya bagi Anda untuk mengenal lebih jauh sindrom yang konon lebih kejam dari Pre-Menstrual Syndrome (PMS ) ini.

Anda mungkin sudah sering mendengar istilah PMS. Bahkan bisa dibilang, sebagian besar wanita pernah mengalaminya. Sindrom sebelum menstruasi ini meliputi gejala fisik (seperti nyeri pada payudara) dan emosi (seperti mudah marah).

Sekilas, PMDD memiliki gejala yang mirip dengan PMS. Namun, perubahan suasana hati yang terjadi biasanya sangat ekstrem dan dapat mengganggu hubungan Anda dengan lingkungan sekitar. Sindrom ini seringkali menetap meski menstruasi telah selesai.

Gejala PMDD muncul tujuh hingga sepuluh hari sebelum menstruasi. Gejala fisik yang ditimbulkan antara lain kembung, payudara terasa nyeri, lemas, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta mendadak merasa panas (hot flush).

Sedangkan gejala emosi yang biasanya muncul adalah sedih, putus asa, depresi, cemas, murung, dan marah berlebihan. Selain itu PMDD juga dapat membuat Anda merasa tidak bersemangat melakukan aktivitas biasa, susah berkonsentrasi, serta adanya perubahan kebiasaan makan dan tidur.

Sayangnya, hingga saat ini belum dapat dipastikan apa penyebab PMDD. Para ahli berspekulasi, sindrom ini disebabkan karena adanya reaksi tidak normal terhadap perubahan hormon saat menstruasi.

Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara PMDD dan level serotonin yang rendah. Serotonin berfungsi membantu proses pengiriman sinyal saraf ke otak. Hormon ini juga bertugas untuk mengendalikan suasana hati, sikap awas, tidur, dan rasa nyeri.

PMDD dinilai cukup berbahaya. Depresi yang parah dan cemas berlebihan akibat PMDD bahkan bisa menggiring orang yang mengalaminya untuk berpikir bunuh diri. Berita gembiranya, kasus PMDD hanya terdapat pada 5% wanita di seluruh dunia.

Bisakah sindrom ini diatasi? Penggunaan antidepresan, suplemen vitamin, obat antiradang, dan terapi hormonal (seperti pil KB) dapat membantu orang yang mengalami PMDD. Begitu juga dengan adanya perubahan diet dan olahraga.

Berhati- hatilah bila Anda atau orang- orang di sekitar Anda mengalami gejala PMS yang sangat parah. Bisa jadi, PMS yang dimaksud sebenarnya adalah PMDD. Bila gejala emosional semakin memburuk, sebaiknya berkonsultasilah pada ahli kejiwaan.

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar