Sukses

Lupakan PMS, Saatnya Berkenalan dengan PMDD

Efek dari PMDD dianggap lebih berbahaya dibandingkan PMS. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Pernah mendengar istilah premenstrual dysphoric disorder (PMDD)? Kalau belum, kini saatnya bagi Anda untuk mengenal lebih jauh sindrom yang konon lebih kejam dari premenstrual syndrome (PMS) ini.

PMS adalah sindrom sebelum menstruasi yang meliputi gejala fisik (seperti nyeri pada payudara) dan emosi (seperti mudah marah). Sekilas, PMDD memiliki gejala yang mirip dengan PMS. Namun, perubahan suasana hati yang terjadi biasanya sangat ekstrem dan dapat mengganggu hubungan Anda dengan lingkungan sekitar. 

1 dari 3 halaman

Beberapa Gejala PMDD

Perlu diketahui, gejala PMDD dapat muncul 1-2 minggu sebelum menstruasi. Gejala yang timbul berupa gejala fisik dan gejala emosional. Umumnya keluhan hilang 2-3 hari setelah haid mulai.

Gejala fisik PMDD yang ditimbulkan, antara lain:

  • Keluhan pencernaan: perut kembung, mual, muntah, diare, sembelit 
  • Payudara terasa nyeri
  • Badan lemas
  • Sakit kepala 
  • Jerawat
  • Kram perut
  • Berdebar-debar
  • Penurunan gairah seksual

Artikel Lainnya: Fakta di Balik 5 Mitos Populer Seputar PMS

Sedangkan gejala emosi PMDD yang biasanya muncul adalah:

  • Sedih
  • Putus asa
  • Depresi
  • Cemas
  • Marah berlebihan
  • Tidak bersemangat melakukan aktivitas biasa
  • Susah berkonsentrasi
  • Perubahan kebiasaan makan dan tidur
  • Serangan panik
  • Berpikir untuk bunuh diri

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apa penyebab PMDD. Para ahli berspekulasi, sindrom PMDD ini dipicu oleh adanya reaksi tidak normal terhadap perubahan hormon saat menstruasi.

Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara PMDD dan level serotonin yang rendah. Serotonin berfungsi membantu proses pengiriman sinyal saraf ke otak. Hormon ini juga bertugas untuk mengendalikan suasana hati, sikap awas, tidur, dan rasa nyeri terlebih lagi saat PMDD.

PMDD dinilai cukup berbahaya. Depresi yang parah dan cemas berlebihan akibat gangguan disforik pramenstruasi bahkan bisa menggiring orang yang mengalaminya untuk berpikir bunuh diri. Berita baiknya, kasus PMDD hanya terdapat pada 5% wanita di seluruh dunia.

2 dari 3 halaman

Bagaimana Cara Mengatasi PMDD?

Untungnya, ada beberapa cara yang dapat mengatasi keluhan PMDD ini, antara lain: 

  • Penggunaan Obat-obatan

Penggunaan antidepresan, suplemen vitamin, obat antiradang dan antinyeri, serta terapi hormonal (seperti pil KB) dapat membantu orang yang mengalami PMDD.

Artikel Lainnya: Jangan Lakukan Hal Ini Saat Pasangan Anda Sedang PMS

  • Perubahan Gaya Hidup

Beberapa perubahan yang dapat berguna bagi penderita gangguan disforik pramenstruasi adalah melakukan olahraga rutin (dapat memperbaiki mood), serta konsumsi makanan sehat diutamakan karbohidrat kompleks dan protein tanpa lemak (membantu meningkatkan kadar hormon serotonin).

Hal yang penting lain adalah manajemen stres. Beberapa jenis manajemen stres yang dapat dicoba adalah teknik relaksasi, meditasi, yoga, dan sebagainya.

  • Cognitive Behavioural Therapy (CBT)

Tujuan CBT adalah membentuk pola pikir dan kebiasaan yang baru, sehingga membantu Anda mengatasi emosi dan perasaan negatif yang dirasakan. Terapi ini umumnya dijalankan oleh psikolog atau psikiater.

Berhati-hatilah bila Anda atau orang-orang di sekitar Anda mengalami gejala PMS yang sangat parah. Bisa jadi, PMS yang dimaksud sebenarnya adalah PMDD. Bila gejala emosional semakin memburuk, sebaiknya berkonsultasilah pada ahli kejiwaan.

Dapatkan informasi kesehatan lainnya dengan membaca artikel di aplikasi KlikDokter. Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter melalui fitur Live Chat.

[FY]

0 Komentar

Belum ada komentar