Sukses

Wanita Hamil Sebaiknya Tidak Minum dari Botol Plastik

Benarkah wanita hamil yang minum dari botol plastik lebih berpeluang memiliki anak-anak yang gemuk? Simak penjelasannya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda mendengar istilah BPA (bisphenol A)? Ini adalah zat kimia yang terkandung di dalam kemasan plastik. Sebuah studi terbaru menyimpulkan bahwa wanita hamil yang gemar minum dari botol plastik yang mengandung BPA dapat meningkatkan risiko obesitas pada bayinya di kemudian hari.

BPA banyak dipakai pada produk-produk berbahan dasar plastik. Contohnya botol bayi, botol minum, mainan anak, kemasan makanan, dan sebagai bahan pelapis dinding dalam makanan serta minuman kaleng.

Banyak studi ilmiah yang menunjukkan hubungan antara BPA dengan gangguan kesehatan yang serius –seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, dan gangguan hati pada orang dewasa. Kini, BPA diketahui dapat menimbulkan gangguan perkembangan pada otak dan sistem hormon sejak dalam kandungan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Endocrinology menggunakan bayi tikus dalam percobaannya. Tikus yang terlahir dari ibu yang terpapar BPA cenderung kurang responsif dengan hormon leptin yang bertanggung jawab terhadap perasaan kenyang. Dalam kondisi normal, leptin akan menekan rasa lapar ketika tubuh tidak memerlukan energi.

Paparan dosis rendah BPA di dalam kandungan akan secara permanen mengubah respon otak tikus terhadap leptin. Senyawa BPA akan mengubah sirkuit saraf otak yang mengatur perilaku makan dan keseimbangan energi.

Dari studi ini, peneliti menyimpulkan bahwa hal yang serupa juga dapat terjadi pada Wanita Hamil. Ketika janin terpapar BPA dosis rendah tetapi terus-menerus selama kehamilan, otaknya akan menjadi kurang sensitif terhadap leptin.

Akibatnya, bayi yang lahir berpotensi mengalami kegemukan pada kemudian hari. Selain risiko obesitas, paparan BPA pada janin juga diklaim berhubungan dengan autisme dan penurunan skor inteligensia.

Paparan terhadap BPA sebenarnya tidak terhindarkan. Di Amerika Serikat, kandungan BPA dalam urine ditemukan pada 9 dari 10 orang. Di Indonesia, walau belum ada data, bisa dilihat bahwa penggunaan kemasan plastik sangat masif.

Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan BPA:

  • Gunakan produk-produk yang bebas BPA. Produk-produk ini umumnya berlabel ‘BPA-free’. Bila labelnya tidak ada, periksa kode plastik pada kemasan. Plastik dengan kode 3 dan 7 umumnya mengandung BPA.
  • Kurangi konsumsi makanan dan minuman kaleng. Dinding dalam kaleng kemasan umumnya dilapisi resin yang mengandung BPA.
  • Hindari memanaskan plastik polikarbonat ke dalam microwave atau mencucinya. Partikel plastik dapat rusak hingga menyebabkan BPA bocor keluar dan mengenai makanan.
  • Gunakan kemasan alternatif yang berbahan kaca, keramik, atau baja tahan karat untuk menyimpan makanan dan minuman panas.

Bagi wanita hamil, sebaiknya gunakan kemasan botol plastik hanya ketika bepergian. Ketika berada di rumah, usahakan agar menggunakan gelas atau cangkir untuk minum. Ingatlah bahwa bayi sehat berawal dari lingkungan yang sehat!

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar