Sukses

Waspadai Anak Dengan Kebiasaan Mengintip

Kebiasaan mengintip ini mulai harus diwaspadai jika pelakunya tidak bisa mengontrol keinginannya untuk tiga hal berikut ini dari paparan dr. Adithia Kwee disini.

Klikdokter.com - Apakah Anda memiliki anak usia remaja? Apakah Anda mendapati anak Anda memiliki kebiasaan mengintip? Kebiasaan mengintip sering dianggap wajar di kalangan masyarakat, terutama apabila pelakunya adalah usia remaja karena pada usia ini dianggap sedang terjadinya peningkatan jumlah hormon yang menyebabkan ketertarikan si anak terhadap lawan jenis dan hal-hal berbau seks, contohnya seperti gemar melihat gambar porno ataupun mengintip orang yang sedang telanjang atau melakukan aktivitas seksual. (Baca: Pria Lebih Menyukai Pornografi)

Kebiasaan mengintip ini mulai harus diwaspadai jika pelakunya tidak bisa mengontrol keinginannya untuk tiga hal berikut ini:

  1. Mengintip sampai mengganggu aktivitas sehari-harinya
  2. Kegiatan mengintip dilakukan berulang-ulang
  3. Bila tidak dilakukan dapat menimbulkan frustasi sampai depresi.

Bila sudah terjadi ketiga hal di atas, maka pelakunya sudah dapat digolongkan ke dalam penyimpangan seksual.

Istilah untuk penyimpangan seksual ini dinamakan voyeurism. Seorang voyeur akan menggunakan fantasinya untuk merangsang dirinya sendiri dan mencapai kepuasan. Voyeur akan menikmati segala proses pengintipannya terhadap orang yang sedang berganti pakaian, telanjang, ataupun melakukan aktivitas seksual tanpa orang lain tersebut menyadari perbuatannya. Biasanya selama mengintip atau setelah mengintip, pelaku akan melakukan masturbasi. Pelaku akan melakukan pengintipan ini hingga berjam-jam.

Bila anak remaja kita sudah menunjukkan kelainan ini, segera ditindak lanjuti dengan dibawa ke dokter. Akan dilakukan psikoterapi yang ditujukan untuk membantu si anak untuk mengendalikan keinginannya untuk mengintip. Selain itu juga anak akan diajak berpikir dan mendalami masalah kelainan psikologis yang dihadapinya.

Keinginan dari si anak untuk sembuh sangat penting untuk keberhasilan terapi ini. Selain itu tidak dibenarkan untuk mengucilkan dan menyalahkan si anak karena biasanya perilaku ini muncul karena terjadinya trauma di masa kanak-kanak, seperti sexual abuse, atau adanya pengalaman melihat aktivitas seksual saat anak-anak.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.[](AK)

 

Baca juga:

Inilah 5 Cara Menjadikan Anak Anda Lebih Pintar

Tidur Tingkatkan Kecerdasan Anak

 

Ditulis oleh:

dr. Adithia Kwee

Anggota Dewan Redaksi Medis

Klikdokter.com

 

0 Komentar

Belum ada komentar