Sukses

Mengenal Lebih Jauh Resistensi Tuberkulosis

Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa bermunculan kasus resistensi Tuberkulosis (TB) dengan berbagai spektrum keparahannya? ?Man made phenomenon? adalah jawabannya. Resistensi Tuberkulosis ditimbulkan karena...

Oleh: dr. Alvin Nursalim

KLIKDOKTER.com - Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa bermunculan kasus resistensi Tuberkulosis (TB) dengan berbagai spektrum keparahannya? “Man made phenomenon” adalah jawabannya. Resistensi Tuberkulosis ditimbulkan karena ulah manusia melalui pengobatan yang tidak sesuai standar, baik dari segi regimen, dosis atau pengobatan yang tidak teratur. Hal ini turut ditekankan oleh dr. Arifin Nawas, Sp.P., dalam sesi pembukaan workshop DOTS dan ISTC.

“Penanganan kasus TB yang sesuai standar DOTS dan ISTC wajib dilakukan bagi semua dokter yang melayani kasus TB,” ungkap dr Arifin. Resistensi Tuberkulosis tentu membuat masalah baru bagi praktisi kesehatan diatas tumpukan masalah yang sudah ada. Penanganan kasus resistensi TB memerlukan perhatian khusus karena angka kesembuhan yang lebih rendah dan tingkat mortalitas yang lebih tinggi.

Penyebab dan mekanisme resistensi
Secara umum terdapat tiga aspek yang perlu kita soroti ketika berbicara mengenai penyebab resistensi. Hal ini diungkapkan dr Arifin dalam salah satu sesi workshop. Aspek pertama adalah aspek provider/program yang ada. Adapun beberapa masalah yang mungkin dihadapi provider adalah tidak ada pedoman TB atau pedoman TB yang tidak tepat, tenaga kesehatan yang tidak terlatih, pengobatan yang tidak dimonitor dengan baik, kurangnya koordinasi dan dana untuk penanganan TB.

Aspek kedua yang perlu kita amati adalah aspek obat. Ketersediaan obat (supply) yang tidak cukup dan kualitas obat yang buruk merupakan dua hal yang perlu diperhatikan. Aspek ketiga adalah pasien, kepatuhan dan keteraturan minum obat merupakan hal yang perlu ditekankan. Penjelasan yang memadai mengenai pentingnya kepatuhan minum obat dengan regimen dan dosis yang tepat sangat diperlukan.

Resistensi Tuberkulosis yang terjadi secara alamiah jarang terjadi. Salah satu penyebab paling umum penyebab resistensi adalah pengobatan yang tidak adekuat. Secara mikrobiologi, terjadinya resistensi diakibatkan oleh mutasi genetik yang dialami oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.

Mutasi genetik pada kuman Mycobacterium tuberculosis menyebabkan OAT tidak efektif melawan basil mutan. Contoh dari beberapa mutasi yang telah didokumentasikan adalah mutasi gen katG, inhA atau ahpC untuk galur resistensi INH.  Pada umumnya, resistensi pada Mycobacterium tuberculosis melibatkan perubahan genetik berupa mutasi titik maupun delesi genetik pada gen kromosom bakteri. Mutasi titik pada gen bakteri dapat menyebabkan substitusi asam amino yang berujung pada fenotip resistensi. Mutasi gen pada bakteri dapat menyebabkan hilangnya atau kesalahan fungsi suatu gen, salah satunya melalui hilangnya protein target atau enzim aktivator OAT.

Diagnosis resistensi Tuberkulosis
Diagnosis kasus resistensi TB, baik MDR TB maupun XDR TB berawal dari pengenalan karakteristik pasien dengan risiko resistensi. Pada umumnya terdapat beberapa faktor risiko resistensi TB. Menurut pemaparan dr Arifin Nawas terdapat beberapa faktor risiko yang patut diwaspadai. “Faktor-faktor risiko yang patut diwaspadai adalah adanya riwayat pengobatan TB, riwayat tidak patuh atau putus obat, penduduk dari daerah endemis MDR TB/ resistensi TB, pajanan dengan kasus resistensi dan adanya infeksi HIV” ungkap dr. Arifin.

Perkembangan pasien selama pengobatan juga perlu diperhatikan. Dokter perlu mengetahui beberapa keadaan kegagalan obat secara dini. Keluhan batuk pasien seharusnya sudah membaik dalam waktu dua minggu setelah pengobatan. Selain itu, terdapat beberapa tanda-tanda lain yang menandakan kegagalan pengobatan seperti sputum tidak konversi, batuk masih ada atau berulang, demam masih berlanjut, dan tidak ada perbaikan keadaan umum seperti peningkatan berat badan.

Setelah seorang dokter memiliki kecurigaan terhadap kasus resistensi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikannya. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan uji kultur M. tuberkulosis dan resistensi obat. Pemeriksaan laboratorium untuk resistensi memerlukan sarana dan keahlian khusus, sehingga disarankan untuk pemeriksaan kasus terduga resistensi dilaksanakan di laboratorium yang sesuai standard internasional dan telah tersertifikasi. Hal inilah yang masih menjadi kendala di Indonesia, dimana jumlah sarana berupa laboratorium yang memenuhi standar masih sangat terbatas.

FDC dan resistensi
Telah disebutkan diatas bahwa salah satu penyebab resistensi adalah ketidak patuhan berobat pasien dan kualitas pengobatan TB. Banyaknya regimen obat dan kompleksitas pengobatan TB membuat WHO dan International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) merekomendasikan penggunaan fixed-dose combination (FDC) dalam penanganan TB.

FDC memudahkan pengobatan dan juga dapat mengurangi kejadian resistensi melalui pemilihan obat yang tidak tepat dan monoterapi. Dengan regimen FDC yang lebih ringkas diharapkan kepatuhan pasien dalam minum obat juga akan meningkat. Kepatuhan pasien yang tinggi dan kualitas FDC yang baik merupakan strategi yang dapat dilakukan untuk menekan angka resistensi. Namun, penggunaan FDC tetap harus diikuti dengan penerapan strategi DOTS dalam penanganan Tuberkulosis.

Pengetahuan mengenai karakteristik dan faktor risiko terjadinya resistensi penting diketahui. Hal ini untuk menekan jumlah kasus resistensi Tuberkulosis. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.[](AN)

0 Komentar

Belum ada komentar