Sukses

Personalized Medicine dalam Pengobatan Kanker

Selama ini pemberian "obat satu untuk semua" merupakan hal yang umum dalam pelayanan kesehatan di berbagai belahan dunia. Misalnya saja jika seorang pasien A menderita kolesterol tinggi diberikan simvastatin demikian juga dengan pasien B yang menderita penyakit yang sama diberikan obat yang sama. Padahal...

Oleh: Poppy Firzani Arifin

KlikDokter.com - Selama ini pemberian "obat satu untuk semua" merupakan hal yang umum dalam pelayanan kesehatan di berbagai belahan dunia. Misalnya saja jika seorang pasien A menderita kolesterol tinggi diberikan simvastatin demikian juga dengan pasien B yang menderita penyakit yang sama diberikan obat yang sama.  Padahal pasien dengan diagnosis penyakit yang sama bisa memberikan respon berbeda terhadap suatu obat.  Obat X bisa efektif pada pasien A tapi tidak pada pasien B.,bahkan pada beberapa kasus terjadi efek samping yang tidak diharapkan.  Oleh sebab itu beberapa tahun terakhir ini mulai dikembangkan konsep "personalized medicine" (pengobatan personal) suatu konsep yang didasari dengan mempelajari genotipe pasien sehingga pasien mendapatkan terapi atau obat yang tepat untuk penyakitnya.

Pengobatan personal ini mulai banyak dilakukan dalam penanganan penyakit kanker dimana sang pasien harus berpacu dengan waktu dan pengobatan harus sefektif mungkin  Pada pengobatan personal pasien akan datang ke dokter yang kemudian akan dilakukan uji genetik. Dengan melakukan uji genetik, dokter bisa menentukan pengobatan yang cocok, sehingga respons terhadap obatnya pun akan lebih efektif. Ini akan bisa mengurangi biaya dan pengobatan akan aman dan lebih efisien.  Yang menjadi landasan dari personalized medicine adalah biomaker (petanda kanker) yang dikembangkan berdasarkan.variasi genetik. 

Sumber:

http://www.currinbiotech.com/categories/20101004_1

Contoh pengobatan personal yang sudah banyak diaplikasikan dan diakui oleh FDA adalah pengobatan untuk kanker payudara menggunakan antibodi monoklonal trastuzumab dengan target biomarker gen HER2. . Penderita kanker payudara dengan HER2 positif akan merespon pengobatan dengan trastuzumab.  Demikian pula dengan penggunaan antibodi monoklonal cetuximab.

Cetuximab ini hanya akan memberikan efek yang baik gen KRAS, yang mengatur proliferasi sel kanker, tidak mengalami mutasi. Cetuximab bekerja mencegah aktivasi jalur proliferasi sel kanker dengan menghambat aktivitas protein KRAS. Apabila gen KRAS mengalami mutasi maka struktur protein yang diproduksi akan mengalami perubahan konformasi sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh cetuximab dan akibatnya cetuximab menjadi tidak efektif lagi sebagai obat anti kanker. "Personalized medicine akan memberikan treatment yang tepat, dengan dosis tepat, untuk pasien yang tepat, pada waktu yang tepat sehingga memberikan hasil yang baik.[]

    0 Komentar

    Belum ada komentar