Sukses

Tidur Lebih Lama, Lebih Baik?

Tidur Lebih Lama, Lebih Baik?

 

Oleh : dr. Salma Oktaria

Klikdokter.com - Selama beberapa tahun lamanya kita senantiasa diingatkan mengenai dampak yang mungkin timbul akibat penurunan kualitas dan waktu tidur, sehingga banyak yang beranggapan bahwa tindakan memperpanjang waktu tidur sudah dapat memperbaiki keadaan ini. Yang tidak banyak diketahui adalah ternyata waktu tidur yang terlalu banyak juga dapat membuat kita lelah. Alih-alih merasa lebih segar, badan justru terasa lelah dan lunglai setelah bangun dari tidur panjang, dan hal ini dapat berlanjut hingga satu hari penuh.

Keadaan ini dikenal sebagai mabuk tidur (sleep drunkenness). Di antara gejala yang mungkin timbul antara lain adalah sakit kepala, kesulitan dalam mengingat dan memusatkan perhatian, serta perasaan lelah sepanjang hari. 

Dengan demikian, jika Anda beranggapan bahwa waktu tidur yang lama dapat membuat Anda lebih siap beraktivitas tanpa perlu tidur kembali, maka Anda harus mulai membenahi pikiran tersebut. Setiap manusia memerlukan tidur untuk memulihkan tenaganya. Saat tidur, pikiran dan tubuh kita sedang melakukan proses yang kompleks meliputi perbaikan otot, mengatur memori, dsb. Proses ini memerlukan energi yang cukup besar, sehingga dapat membuat Anda merasa lebih lelah saat terbangun dari tidur yang cukup panjang.

“Tidur terlalu lama sepertinya tidak membuat kita merasa lebih baik. Banyak orang yang mengaku bahwa kualitas tidur mereka menjadi lebih buruk apabila mereka tidur lebih lama di akhir pekan dibandingkan kualitas tidur mereka selama hari kerja”, ucap dr. Daniel Kripke, salah satu direksi Clinic Sleep Center di La Jolla, California.

Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata lamanya waktu tidur tidak hanya membuat kita merasa lebih lelah, akan tetapi juga dapat menyebabkan beberapa kondisi medis yang lebih serius. Pada tahun 2007, Finnish study menemukan bahwa risiko kematian dapat meningkat sekitar 20% pada mereka yang tidur lebih dari 8 jam sehari. Akan tetapi pada tahun yang sama, British study juga mengungkapkan bahwa orang yang tidur selama kurang dari 5 jam sehari juga menghadapi risiko yang sama.  Selain itu, studi lain menunjukkan bahwa risiko stroke dapat meningkat pada mereka yang tidur lebih dari 8 jam sehari secara rutin dibandingkan mereka yang waktu tidurnya kurang.

Masalah ini umumnya sudah dapat diatasi dengan melakukan modifikasi pada waktu tidur Anda. Akan tetapi, pada beberapa orang, waktu tidur yang terlalu panjang dapat dikaitkan dengan beberapa kondisi lain yang mendasari. Kebiasaan tidur lama lebih dari 8 jam setiap harinya disebut juga sebagai hypersomnia. Beberapa penyebab hypersomnia di antaranya adalah:

  • Penurunan kualitas tidur
  • Kondisi medis lain, seperti sleep apneu, narkolepsi, gangguan pergerakan kaki/tangan secara periodik, depresi, berat badan berlebih, dsb, dan
  • Faktor genetik. Hal ini didukung oleh sebuah penelitian yang dipublikasikan di the Journal Science yang menemukan sebuah gen, hDEC2, yang diduga terlibat dalam menentukan lama tidur seseorang.[](SO)

 

    0 Komentar

    Belum ada komentar