Sukses

Sulit Memperoleh Keturunan? Coba In Vitro Fertilization (Bayi Tabung)

Prosedur ini pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1978 di Inggris. Bayi pertama hasil IVF adalah Louis Brown yang dilahirkan pada bulan juli 1978. Louis brown telah melahirkan seorang bayi pada

 

Oleh : dr. Grace Valentine

Klikdokter.com - Bagi pasangan yang telah berusaha untuk memperoleh keturunan selama satu tahun atau lebih, ilmu pengetahuan telah menemukan suatu harapan baru berupa fertilisasi in vitro/ In vitro fertilization (IVF).

Prosedur ini pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1978 di Inggris. Bayi pertama hasil IVF adalah Louis Brown yang dilahirkan pada bulan juli 1978. Louis brown telah melahirkan seorang bayi pada tahun 2006 pada usianya yang ke 26. Bayi yang dilahirkannya didapatkan secara alami tanpa IVF. Sejak saat itu, ratusan hingga ribuan kehamilan sudah berhasil dilakukan melalui IVF dan modifikasinya dikenal sebagai teknologi reproduktif buatan/ assisted reproductive technologies (ARTs). Saat ini, istilah IVF sudah tidak asing lagi.

Infertilitas yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan pasangan untuk memperoleh kehamilan dengan penyebab apapun setelah 1 tahun berhubungan seksual tanpa kontrasepsi. Fertilisasi In vitro merupakan salahsatu prosedur untuk mengatasi infertilitas dan menghasilkan kehamilan melalui intervensi manusia secara langsung.

In vitro berarti ‘in glass’ atau dalam gelas. In vitro berarti semua proses yang dilakukan diluar tubuh, yaitu dilakukan pada lingkungan artificial/ buatan. Jadi IVF adalah proses fertilisasi yang dilakukan di laboratorium dan bukan di dalam tubuh wanita.

Secara umum pada IVF, ovarium (indung telur) distimulasi oleh kombinasi obat fertilitas, kemudian satu atau beberapa oosit (sel telur) diambil dari folikel ovarium. Fertilisasi dilakukan di laboratorium (“in vitro”). Setelah itu, satu atau lebih embrio ditransfer ke dalam uterus (rahim). Langkah-langkah ini membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu, yang disebut siklus IVF.

Indikasi IVF

IVF bukan merupakan langkah pertama untuk terapi infertilitas. Sebaliknya, IVF digunakan pada kasus infertilitas yang tidak dapat diatasi dengan terapi lain seperti obat fertilitas, pembedahan, dan inseminasi buatan.IVF merupakan terapi yang efektif untuk infertilitas kecuali pada infertilitas yang disebabkan oleh kelainan anatomi uterus seperti perlengketan didalam uterus (rahim)yang berat.

Indikasi IVF adalah pada infertilitas yang disebabkan oleh:

  1. Faktor tuba
  2. Disfungsi ovulasi ( setelah gagal dengan terapi lain)
  3. Ovarian reserve yang sedikit: jumlah telur yang sedikit
  4. Endometriosis ( setelah gagal dengan terapi lain)
  5. Infertilitas dari faktor pria yang berat
  6. Ovarian failure
  7. Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya (setelah gagal dengan terapi lain)

Kerugian IVF adalah mahal, membutuhkan prosedur dan obat yang berkaitan dengan beberapa risiko terhadap wanita, meningkatkan risiko kehamilan multipel, dan kemungkinan komplikasi fetal yang sedikit meningkat. Oleh karena itu, pilihan terapi alternatifseperti observasi sebaiknya dipertimbangkan pada wanita dengan tuba paten dan tanpa infertilitas faktor pria yang berat. Meskipun demikian, pada beberapa kondisi, wanita dengan kriteria sebelumnya mempunyai indikasi untuk dilakukan IVF. Kondisi tersebut adalah penyakit pelvis, endometriosis, infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya, dan terapi inseminasi intrauterin/ gonadotropin yang gagal.

Prosedur IVF

Langkah pertama dalam IVF adalah pemberian suntikan hormon agar diproduksi sel telur multiple di dalam ovarium (dalam siklus menstruasi normal, hanya dibentuk satu folikel dan folikel tersebut mengandung satu telur). Selanjutnya pasien akan diperiksa untuk menentukan waktu pengambilan sel telur yang tepat.

Sebelum prosedur pengambilan sel telur, pasien akan diberikan obat suntik yang berfungsi untuk mematangkan sel telur. Waktu adalah faktor yang sangat penting; sel telur harus diambil sebelum sel telur keluar dari folikel didalam ovarium. Bila sel telur diambil pada waktu yang terlalu dini atau terlalu lambat, sel telur tidak dapat bertumbuh dengan baik. Untuk menentukan waktu pengambilan yang tepat, dokter akan melakukan pemeriksaan darah dan ultrasonografi.

Pada prosedur pengambilan sel telur ( ovum pick up), pasien akan dibius. Selama prosedur dilakukan, dokter akan melihat folikel yang terbentuk di dalam ovarium dengan ultrasonografi dan sel telur diambil melalui jarum yang dimasukkan. Prosedur ini membutuhkan waktu 30 menit hingga 1 jam.

Setelah itu, sel telur akan dicampurkan dengan sperma pasangan di dalam laboratorium. Kemudian sel telur yang telah difertilisasi (embrio) akan disimpan di laboratorium selama3-5 hari untuk mencapai pertumbuhan optimal.

Setelah embrio siap, dokter akan mentransfer satu atau lebih embrio ke dalam uterus pasien (embryo transfer). Prosedur ini lebih cepat dan lebih mudah daripada prosedur pengambilan sel telur. Dokter akan memasukkan pipa fleksibel yang disebut kateter melalui vagina dan serviks ke dalam uterus. Untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan, sebagian besar ahli IVF menyarankan transfer 3-4 embrio per prosedur. Namun hal ini dapat meningkatkan risiko kehamilan multiple, yang dapat meningkatkan risiko pada ibu maupun janin.

Setelah prosedur transfer selesai, pasien dibiarkan berbaring selama beberapa jam dan boleh pulang 4-6 jam kemudian. Dokter akan melakukan tes kehamilan 2 minggu setelah transfer embrio dilakukan.

Pada kasus dimana terdapat gangguan pada sperma pria, dokter akan mengkombinasikan teknik IVF dengan prosedur yang disebut injeksi sperma intrasitoplasma/ intracytoplasmic sperm injection (ICSI). Pada prosedur ini, sperma diambil dari cairan semen atau pada kasus tertentu diambil dari testis dan dimasukkan langsung kedalam sel telur. Setelah terbentuk embrio yang hidup, embrio tersebut ditransferkan ke dalam uterus.

Angka keberhasilan IVF dan faktor yang mempengaruhi

Faktor yang mempengaruhi kesuksesan IVF adalah usia, diagnosis infertilitas, dan riwayat obstetrik reproduksi sebelumnya. Angka keberhasilan >32% pada rata-rata semua siklus dan persentase siklus yang menghasilkan kelahiran hidup sebesar 25,6%

Usia

Usia rata-rata wanita yang melakukan ART di Amerika adalah 36 tahun. Usia wanita merupakan determinan kesuksesan IVF. Angka kesuksesan menurun pada wanita berusia > 40 tahun dibandingkan dengan wanita dengan usia lebih muda.

Pada tahun 2005, angka keberhasilan IVF menghasilkan kelahiran hidup dihubungkan dengan usia ibu adalah < 35 tahun (37%), 35-37 tahun (29%), 38-40 tahun (20%), 41-42 tahun (11%), dan > 42 tahun (4%). Hal ini disebabkan oleh respon ovarium terhadap stimulasi hormon gonadotropin menurun sehingga telur yang dihasilkan untuk dilakukan IVF juga menurun dan angka implantasi per embrio yang menurun akibat kualitas telur yang kurang baik. Selain itu, risiko keguguran lebih tinggi pada wanita lebih tua.

Riwayat obstetrik reproduksi sebelumnya

Studi menunjukkan adanya hidrosalfing menurunkan keberhasilan IVF; angka kelahiran hidup sati setengah kali lebih rendah dibandingkan dengan wanita tanpa hidrosalfing. Selanjutnya, pda penelitian menunjukkan salfingektomi yang dilakukan pada wanita dengan hidrosalfing sebelum dilakukan IVF memperbaiki angka kehamilan. Cairan hidrosalfing dapat mengganggu keberhasilan kehamilan melalui efek negatif terhadap embrio yang ditransfer dan keadaan endometrium untuk implantasi.

Selain itu, efek adanya mioma terhadap IVF tergantung pada letak mioma. Mioma submukosa menurunkan kemungkinan kesuksesan IVF dan sebaliknya mioma subserosa tidak memberikan efek terhadap kesuksesan IVF.

Merokok dapat menurunkan kesuksesan IVF dan berkaitan dengan banyak efek samping dalam kesehatan. Kami menyarankan perokok untuk berhenti merokok.

Adanya riwayat kelahiran hidup sebelumnya meningkatkan kemungkinan keberhasilan IVF, namun riwayat keguguran satu atau lebih menurunkan kemungkinan keberhasilan.

Faktor terpenting yang berkaitan dengan prosedur IVF adalah jumlah telur yang diambil dan jumlah embrio berkualitas baik yang berhasil dilakukan di laboratorium.

Hal yang perlu diperhatikan

Risiko terpenting yang berkaitan dengan IVF adalah peningkatan kemungkinan kehamilan multiple. Hal ini disebabkan banyaknya jumlah embrio yang ditransfer yang dapat menghasilkan kehamilan kembar, triplet atau pada kasus yang sangat jarang kuadriplet. Selain itu, dapat terjadi komplikasi dari stimulasi berlebihan terhadap ovarium dan peningkatan risiko kehamilan ektopik.

Defek lahir pada anak yang lahir melalui prosedur ini juga telah diteliti dan pada studi terkini pada 1000 anak yang diperoleh melalui IVF di 5 negara Eropa yang dipantau dari lahir hingga usia 5 tahun ditemukan anak yang sehat seperti anak yang diperoleh melalui cara alami. Namun pada studi lain menemukan risiko kelainan genetic yang sedikit meningkat pada anak yang diperoleh melalui teknik IVF.[]

    0 Komentar

    Belum ada komentar