Sukses

Wanita Ini Alergi Ciuman Mesra dari Suaminya, Kok Bisa?

Ciuman dan pelukan adalah ekspresi tanda cinta seseorang. Namun itu tidak berlaku pada wanita yang satu ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Simak di sini.

Ciuman kerap digunakan sebagai ekspresi tanda cinta seseorang. Sayangnya, tindakan mesra yang diberikan sang suami pada Johanna, sang istri justru membuatnya alergi hebat. Bahkan bisa mengancam nyawanya.

Empat tahun lalu, Scott dan Johanna Watkins hidup layaknya pasangan pada umumnya. Mereka banyak melakukan aktivitas bersama, tinggal dalam satu rumah, dan mengekspresikan kemesraan dengan berpelukan maupun berciuman.

Namun kini, kehidupan itu berubah total. Tiga tahun terakhir, Johanna mengalami reaksi fisik yang aneh bila suaminya berada di dekatnya. Johanna sontak mengalami sakit kepala dan sesak napas. Jangankan berciuman, berada dalam satu ruangan dengan sang suami saja membuat gejala tersebut muncul dan harus membuatnya dilarikan ke rumah sakit.

Ia sempat mengalami kesalahan diagnosis hingga 30 kali karena penyakitnya yang unik. Akhirnya didapat hasil bahwa Johanna menderita penyakit alergi yang sangat langka. Penyakit ini disebut Mast Cell Activation Disease.

Pada kasus Johanna, ia mengalami alergi terhadap berbagai jenis aroma. Salah satunya adalah aroma suaminya. “Jadi, cara terbaik untuk melindungi Johanna adalah dengan tidak bertemu langsung dengannya”, ungkap Scott.

Johanna pun tinggal di sebuah ruangan isolasi. Semua jenis aroma dan sinar matahari tidak dapat masuk ke ruangan tersebut demi menjaga agar reaksi alergi tidak timbul. Hanya saudara kandung Johanna yang dapat masuk ke ruangan tersebut. Sebab hanya aroma saudara kandungnya yang tidak membuatnya alergi.

Belum berhenti sampai di situ, Johanna juga alergi terhadap berbagai jenis makanan. Bahkan selama setahun terakhir, Johanna juga hanya mengonsumsi dua jenis menu makanan.

Tapi sebenarnya apa itu Mast Cell Activation Disease (MCAD)? Ini adalah suatu penyakit alergi yang disebabkan oleh sel mast –sel yang berperan menjaga daya tahan tubuh dari infeksi kuman penyakit– menjadi terlalu aktif dan menyerang tubuh sendiri.

Pada kasus Johanna, sel mast menjadi sangat aktif menyerang dirinya ketika tubuhnya terpapar aroma tertentu. Pada penderita MCAD, gejala alergi yang dialami dapat berbeda-beda, dari ringan sampai berat.

Gejala ringan dapat berupa sakit kepala, kemerahan atau gatal di kulit, dan kram perut. Sedangkan gejala berat dapat berupa sesak napas, shock, gangguan irama jantung, atau bahkan henti jantung. Sayangnya, hingga kini pengobatan yang tepat untuk MCAD masih dicari dan diteliti.

“Awalnya saya sangat stres dan tidak bisa menerima keadaan ini. Tapi sekarang saya sudah berdamai dengan keadaan ini. Saya tahu, mau tidak mau saya harus menghadapinya.,” kata Johanna.

“Saya dan Scott tetap hidup dalam satu rumah, tetapi di lantai yang berbeda. Saya berbincang dengannya melalui video-call setiap hari, menonton film yang sama di waktu yang sama dengannya, dan memakan masakan buatannya setiap hari sudah cukup membuat saya bahagia”, lanjutnya.

Meski tidak dapat mengekpresikan cinta dalam sentuhan fisik, seperti berpelukan dan berciuman, Scott meyakinkan Johanna bahwa ia akan tetap bersama. Ia akan terus berusaha menemukan pengobatan yang tepat bagi sang istri tercinta.

Semoga pengobatan yang tepat untuk MCAD segera ditemukan, agar Johanna dan penderita MCAD lainnya dapat pulih dari alergi yang mengerikan ini.

(NB/RH)

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar