Sukses

Serba Kebetulan

Saya waktu dites SMA, saya kebetulan diterima di ITB dan kebetulan diterima di FK (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Red) juga kebetulan diterima di Akademi Penerbang Indonesia (API).

Ini adalah kali keduanya Klikdokter.com dapat bertemu sosok guru besar yang bersahaja dan membumi. Kesempatan merupakan ketika seremoni pengangkatan dirinya menjadi Guru Besar di Aula FKUI 2 tahun yang lalu. Kali ini Klikdokter berkesempatan mengenal Prof. Dr. dr. Andrijono, Sp.OG(K) lebih akrab.

Sebagai guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dirinya mengaku semua apa yang terjadi pada dirinya adalah kebetulan belaka. Semula berawal dari semasa mudanya, figur pria murah senyum ini tidak pernah memiliki sebuah cita-cita untuk menjadi dokter.

“Saya waktu dites SMA, saya kebetulan diterima di ITB dan kebetulan diterima di FK (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Red) juga kebetulan diterima di Akademi Penerbang Indonesia (API). Dari ketiga itu, ya orangtua bilang; ‘yang di Jakarta aja deh, deket kan,’ jelas pria penggemar makanan gado-gado ini sambil menirukan perkataan orangtuanya.

“Sama juga waktu saya masuk kebidanan (Pendidikan Dokter Spesialis Kebidanan & Kandungan, FKUI). Kebetulannya, saya waktu itu lagi jalan-jalan ke toko buku, terus saya ketemu teman saya. Saya tanya,’kamu dari mana?’ teman saya jawab; ‘habis testing kebidanan’. Langsung aja saya ikut dia, ‘kalo gitu gue testing juga ah!’ Eh, terus saya kebetulan keterima. Ya udah deh saya masuk kebidanan,” tutur pria penghobi olahraga sepak bola dan bulu tangkis ini.

“Jadi staff onkologi itu pun kebetulan juga. Staff onkologi tuh sebetulnya punya calon staff sebelumnya. Tapi kebetulan calon staf tersebut ngga lulus. Kepala staf departemen pada saat itu langsung nawarin saya. Ya akhirnya saya masuk. Setelah saya masuk, eh kebetulan langsung dikirim ke Belanda. Jadi ya gitu, kebetulan semuanya. Dikirim ke Belanda juga kebetulan. Pas saya ngga ada acara, orang Belanda-nya datang ke Jakarta dan langsung ketemu saya. Langsung saya diminta Kepala Departemen untuk siap-siap untuk dikirim ke Belanda bulan depannya. Emang serba kebetulan, ngga ada visi kesana,” jelasnya sambil tertawa renyah mengenang masa lalunya.

Lebih jauh Prof. Andri –demikian beliau biasa disapa- menuturkan masa kecilnya, “dari kecil itu ayah saya selalu cerita, kalo saya ngegambar, saya pasti gambar pesawat terbang. Ngga pernah gambar kedokteran. Makanya saya keterima juga di API di Curug.”

Pria yang banyak menghabiskan masa mudanya ini di majelis-majelis taklim ini tidak neko-neko dalam memilih motto hidupnya, “mungkin karena saya dari SMA jadi ketua majelis taklim, kemudian dari semasa SD juga dibiasakan kenal dekat dengan masjid, ya kalau bukan karena faktor hiburan jaman dulu kan belum ada TV, jadi ya hiburannya ke masjid. Alhamdulillah, mottonya saya hidup yang lurus dan berkah serta bermanfaat.”

“Saya punya harapan pada generasi penerus bidang kedokteran dan mudah-mudahan bisa terjadi juga di luar bidang kedokteran. Saya rasa yang paling penting ini jadi orang harus jujur. Kalo jadi dokter ya harus jujur. Pasien yang diagnosanya begini, ya otomatis pengobatannya juga harus sesuai, jangan bohongin pasien.  Semuanya deh, dokter, pengacara, insinyur dan lainnya, harus jujur.  Itu poin paling penting. Dan kejujuran di Indonesia makin lama makin sedikit eksistensinya. Makanya kejujuran itu yang harus dipegang teguh,” tuturnya mantap.[](DA)

Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG(K)

RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI

Nama: 
Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG (K)
Tanggal Lahir: 
Jakarta, 7 Agustus 1953
Agama: 
Islam
Status: 
Menikah, dianugerahi 2 anak

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL

Program Pasca Sarjana Strata 3:
Jurusan Kedokteran Universitas Indonesia
2005-2007
Program Pendidikan Dokter Spesialis: 
Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
1982-1985
Lulus Pendidikan Kedokteran: 
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
1972 -1978

RIWAYAT PENDIDIKAN NON-FORMAL

- Kursus USG (Anggota HOGI), 2008 & 2006
- Kursus Patologi Serviks dan Kolposkopi, 2007 & 2005
- Kursus “The Management of Precancer Lesion of The Cervix”, 2003
- Pendidikan ahli Kolposkopi, 2002
- Kursus Patologi Serviks dan Kolposkopi, 2000
- Kursus Deteksi Dini Kanker Leher Rahim, 1999
- Kursus Penyegaran IV Pencegahan dan Deteksi Dini Penyakit Kanker, 1998
- Exposition and Workshop on Gynaecological Endoscopic Surgery, 1997
- 5th Instructional Course On Basic Neuro-Vascular Microsurgery, Singapore, 1997

 

0 Komentar

Belum ada komentar