Sukses

MRA ASEAN 2015 Siap Dihadapi Indonesia

Pria yang memiliki prinsip mengutamakan kepentingan nasional Indonesia ini menjelaskan bahwa, ruang lingkup integrasi jasa kesehatan ASEAN yang disepakati dalam kerjasama tersebut mengacu pada klasifikasi WTO, yakni tentang Medical and Dental Services, Ve

Menyongsong MRA (Mutual Recognitian Arrangement) ASEAN 2015, Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar menjelaskan tentang persiapan dan juga pelakanaanya sejauh ini. Menurut beliau, sektor jasa di bidang kesehatan juga merupakan sektor yang diperdagangkan, namun istilah komoditas ini semata-mata digunakan sebagai terminologi yang lazim digunakan untuk dapat melihat permasalahan ini dari kacamata yang lebih luas. Namun, ujar beliau, “Sebagai komoditas yang diperdagangkan, setiap negara menggunakan instrumen pembatasan sebagai alat proteksi perdagangan jasa dalam bentuk FEP (foreign equity participation), pembatasan market access dan national treatment.”

Pria yang memiliki prinsip mengutamakan kepentingan nasional Indonesia ini menjelaskan bahwa, ruang lingkup integrasi jasa kesehatan ASEAN yang disepakati dalam kerjasama tersebut mengacu pada klasifikasi WTO, yakni tentang Medical and Dental Services, Veterinary Services, Services Provided by midwives, nurses, physiotherapists and paramedical personnel, dan juga Social Services. “ASEAN juga telah menyepakati dan mulai memberlakukan MRA on Nursing, Medical Practitioners, dan Dental Practitioner mulai 1 Januari 2010.”, kata beliau.

Mengenai kesiapan Indonesia dalam keterbukaan tersebut, Mahendra Siregar percaya, dengan persiapan yang baik dan kerja keras khususnya dari para profesional jasa kesehatan Indonesia, niscaya industri kesehatan kita siap mengahadapi keterbukaan itu. Dalam menghadapi suhu persaingan yang demikian tinggi, beliau mengatakan bahwa kekuatan Indonesia berada di jasa pengasuh lanjut usia, perawat dan dokter (umum dan gigi) yang cukup terbuka dengan semakin meningkatnya permintaan dunia. Oleh karenanya, disamping membenahi kondisi sarana dan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri, Indonesia juga harus mendorong upaya ekspansi pemasok jasa tersebut bagi Negara ASEAN lainnya maupun dunia.

Sehubungan dengan tingginya persentase warga Indonesia yang berobat ke luar negeri, Mahendra Siregar menjelaskan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mengambil prakarsa kebijakan baik jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang untuk mengatasi potensi yang mengancam tenaga kerja kesehatan Indonesia. Langkah kebijakan Pemerintah untuk jangka pendek hingga menengah dilakukan melalui peningkatan kapasitas para spesialis jasa kesehatan Indonesia untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih baik dan untuk bekerja di negara-negara tujuan ekspor. Sementara untuk jangka panjang, langkah kebijakan yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas jasa kesehatan guna menarik minat warga negara Indonesia yang sering berobat ke luar negeri atau warga negara asing (ASEAN lainnya) agar mengonsumsi jasa kesehatan di Indonesia.

Sementara itu, berbicara tentang pribadi seorang Mahendra Siregar, ternyata adalah seorang yang sangat memperhatikan kesehatannya. Karena ingin sekali mempunyai cucu yang banyak di beberapa tahun ke depan, maka beliau sering berolahraga seperti fitness, berenang apabila waktu memungkinkan dan jalan kaki dengan keluarga, dengan begitu beliau mampu menjaga kesehatan hingga anak-anaknya berkeluarga nanti. “Utamanya jangan stress, terutama oleh pekerjaan, karena masih banyak yang lebih penting dalam hidup ini daripada pekerjaan semata-mata.”, ujar beliau. Saat ditanya bagaimana makna kesehatan untuk Mahendra Siregar, beliau pun menjawab, “Kesehatan yang prima adalah prasayarat bagi kebahagiaan setiap orang.”.[] (JRA)

Mahendra Siregar

0 Komentar

Belum ada komentar