Sukses

Polemik Ibu Bekerja vs Tidak Bekerja

Sebuah penelitian dalam jurnal psikologis mengatakan bahwa ibu bekerja lebih banyak mengalami stres.

Semua ibu pasti ingin mencurahkan seluruh perhatian dan waktunya untuk mengawasi serta mendidik sang anak. Namun kebutuhan keluarga yang semakin tinggi mengharuskan wanita untuk ikut memikul beban perekonomian keluarga. Menjadi ibu yang bekerja dan ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga) sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ibu Bekerja

Ibu bekerja, selain bertanggung jawab mengurus rumah tangga, juga memiliki tanggung jawab di luar rumah –baik di tempat kerja atau wiraswasta dengan kisaran 6-8 jam sehari. Sebagian besar alasan ibu untuk tetap bekerja adalah karena kebutuhan eksistensi dalam diri sendiri atau karena tuntutan ekonomi yang meningkat. Ibu yang masuk dalam kelompok ini dituntut untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan rumah tangga, yang merupakan kesulitan paling sering dihadapi. Ini kerap menimbulkan stres berkepanjangan akibat ketidakpuasan dalam pekerjaan yang dapat berubah menjadi burnout.

Ibu Tidak Bekerja

Ibu yang tidak bekerja (di kantor) adalah ibu yang tinggal di rumah dengan melakukan tugas-tugas rumah tangga sehari-hari. Ibu yang masuk dalam kelompok ini memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. Dalam prosesnya, tentu terjadi keterlibatan emosi yang besar dan berlangsung secara monoton sehingga juga berisiko mengalami stres yang dapat berujung pada burnout.

Melihat paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja sama-sama mengalami saat-saat kurang menyenangkan. Bila terjadi secara berkepanjangan, hal tersebut akan menimbulkan stres yang berpotensi berujung pada burnout. Jadi, apa pun yang ditetapkan untuk diri Anda, pastikan keputusan Anda cocok dengan kepribadian yang dimiliki. Dengan dukungan penuh dari keluarga dan sahabat tercinta, tentu Anda akan berhasil melewati fase ini.

(NB)

Baca Juga:

1 Komentar