Sukses

Cegah Anemia pada Anak dengan Zat Besi

Memenuhi kebutuhan zat besi harian anak sangatlah penting untuk mencegah anemia. Ini takarannya.

Andi, 6 tahun, terlihat sering mengantuk saat di sekolah. Ia sering tertidur dan sulit berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung. Usut punya usut, Andi ternyata menderita anemia.

Anemia adalah penyakit yang terjadi akibat tubuh kekurangan sel darah merah. Apa yang dialami Andi adalah kondisi yang banyak terjadi pada anak di Indonesia. Faktanya, lebih dari 25% anak di Indonesia mengalami anemia.

Penyakit ini dapat menimbulkan berbagai gejala –seperti pusing, sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, pucat, atau bahkan tidak bergejala apa-apa. Tampaknya sepele, tapi bisa menyebabkan gangguan kesehatan dan kecerdasan saat anak dewasa.

Sebagian besar kasus anemia pada anak di Indonesia terjadi akibat kekurangan zat besi. Kebutuhan zat besi akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Anak membutuhkan zat besi yang tinggi, terutama saat masa pubertas. Oleh karena itu, orangtua perlu mengetahui jumlah zat besi harian yang dibutuhkan anak.

Berikut kebutuhan zat besi harian berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013:

Usia

Kebutuhan zat besi (mg/hari)

0-6 bulan

-

7-11 bulan

7 mg

1-3 tahun

8 mg

4-6 tahun

9 mg

7-9 tahun

10 mg

10-12 tahun

13 mg (laki-laki), 20 mg (perempuan)

13-15 tahun

19 mg (laki-laki), 26 mg (perempuan)

16-18 tahun

15 mg (laki-laki), 26 mg (perempuan)

 

Kebutuhan zat besi harian dapat dipenuhi melalui makanan sehari-hari. Beberapa makanan yang bisa Anda jadikan pilihan untuk anak, antara lain:

  • Hati (100 g), dengan kandungan zat besi sebesar 9 mg
  • Daging sapi (100 g), dengan kandungan zat besi sebesar 3 mg
  • Kacang merah rebus (4 sendok), dengan kandungan zat besi sebesar 5 mg
  • Tahu (3 sendok), dengan kandungan zat besi sebesar 3 mg besi

Selain yang tertulis di atas, masih banyak makanan lain yang juga kaya zat besi. Misalnya ikan, telur, ayam, kacang tanah, dan sayuran hijau.

Makanan kaya zat besi sebaiknya tidak dikonsumsi secara bersamaan dengan teh atau kopi. Sebab teh dan kopi dapat menghambat penyerapan zat besi karena kandungan tanin di dalamnya.

Sebaliknya, makanan tinggi zat besi akan lebih baik bila dikonsumsi bersamaan dengan makanan tinggi vitamin C, seperti jeruk, stroberi, kiwi, melon dan lainnya. Cara tersebut dapat membantu penyerapan zat besi di usus.

Yuk, perhatikan kebutuhan zat besi si Kecil mulai saat ini. Dengan demikian, ia akan terhindar dari anemia dan kondisi-kondisi lain yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan dan kecerdasan di kemudian hari.

(NB/RH)

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar