Sukses

Kisah Pria yang Hidup Sembilan Tahun dengan HIV

Fajar Jasmin namanya. HIV yang ada di tubuhnya tidak membuatnya gentar. Baginya, virus itu adalah kata lain dari ‘keberanian’.

Bulan Desember 2007. Malam itu cerah. Tapi kehidupan seorang Fajar Jasmin seketika berubah. Ia dinyatakan positif HIV. Ia ingat, salah satu langkah pertama yang diambilnya adalah mendaftarkan diri ke Klinik Pokdisus, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Sebelumnya Fajar mengalami diare selama dua minggu. Penyebabnya tidak jelas. Kemudian dokter menyarankannya untuk melakukan tes HIV. Ia setuju. Apalagi, gaya hidupnya dulu memang berisiko tinggi. Salah satunya memakai narkotika suntik. 

“Saya tak terlalu terkejut sebetulnya, walaupun tetap saja agak terhenyak,” kata Fajar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyampaikan berita tersebut kepada sang istri dan ketiga anaknya.

Meski syok, mereka menerima kondisi Fajar dan tetap mendukungnya secara penuh. Mereka pun berinisiatif untuk melakukan tes HIV juga. Hasilnya, semua anggota keluarga negatif.  

Dengan status ODHA yang baru dimilikinya, Fajar harus mengambil satu keputusan lagi: meninggalkan pekerjaannya. Ini dinilainya sangat pelik. Pertama, kebijakan waktu itu adalah bahwa obat antiretroviral (obat untuk menekan virus HIV) hanya diberikan kepada mereka yang kekebalannya jatuh di bawah angka 200.

Artikel Lainnya: Seberapa Penting Pemeriksaan HIV Sebelum Menikah?

Artinya, mereka yang baru positif harus mengalami fase di mana kondisi kesehatannya akan memburuk sebelum mereka mendapatkan obat. Hal ini tentu saja menghalangi aktivitas fisik sehari-hari, termasuk Fajar yang harus sering absen dari pekerjaan.

Kedua, ia mengaku mengalami stigmatisasi dalam lingkup sosialnya. “Bagaimana saya dapat bekerja dengan optimal jika diskriminasi terus terjadi? Karena itu, saya meninggalkan pekerjaan yang lama.”

Tahun-tahun berikutnya, Fajar menemui banyak hal tak terduga. Hal yang berkelok-kelok, yang membuatnya terus percaya bahwa cinta dan keberanian pada akhirnya memang mampu mengalahkan segalanya.

1 dari 3 halaman

Menerobos Stigma HIV

Diskriminasi terhadap ODHA terus-menerus terjadi. Inilah yang membuat banyak dari mereka memilih untuk diam, bahkan mengisolasi diri. Namun, Fajar memilih jalan lain. Ia menyingkap statusnya, berbicara kepada publik seputar penyakitnya, menjadi suara bagi mereka yang belum berani membuka diri.

“Saya ingin menunjukkan bahwa HIV adalah non-issue, yang tak lain adalah kondisi kesehatan kronis biasa,” kata Fajar. “Ini perdebatan yang harusnya sudah selesai, sehingga masalah diskriminasi menunjukkan pola pikir yang arkaik (kuno).” 

Artikel Lainnya: Kaum Gay dan Transgender Paling Berisiko HIV/AIDS?

Fajar juga mengungkapkan bahwa dengan membuka status sebagai ODHA, banyak hal positif yang ia terima dalam hidup. Ia merasa menjadi pribadi yang lebih kuat karena terlatih mengelola masalah hubungan. “Teman-teman pun akan ‘tersaring’ dengan sendirinya. Yang tetap tinggal artinya teman sejati, hahaha…” ujarnya. 

Namun, jurang diskriminasi itu tidak hanya berhenti hanya pada dirinya.

Saat itu, tepatnya tahun 2011, Fajar menerima sebuah SMS dari SD Don Bosco 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia merasa bagai tersambar petir membacanya. Isinya mengatakan bahwa anak perempuannya batal diterima oleh sekolah tersebut. Pembatalan itu terjadi karena dirinya mengidap HIV.

Tak mau tinggal diam, Fajar segera melakukan mediasi untuk menyelesaikan persoalan dengan bantuan beberapa pihak –termasuk Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat. Keadilan pun menang. Anaknya diterima kembali di sekolah tersebut.

Melihat kilas balik hidupnya, Fajar mengaku sangat tergerak dengan sosok Nelson Mandela. “Ada satu hal yang menonjol darinya, yakni kemampuan untuk terus berdiri dengan kepala tegak –serta memaafkan, ketika ia punya seribu alasan untuk mendendam kepada situasi maupun orang lain.”

Artikel Lainnya: Virus AIDS Sudah Ada Sejak 100 Tahun Lalu

 

2 dari 3 halaman

Melangkah dengan Kepala Tegak

Dalam memberikan pemahaman seputar HIV kepada orang-orang terdekat maupun publik, Fajar berkata, “Saya hanya mengambil posisi di mana HIV, bagi saya, hanyalah ‘angin lalu’—seperti asma, misalnya.

Saya juga bekerja sebaik-baiknya untuk menunjukkan bahwa kami tetaplah pribadi yang produktif dan dapat berkontribusi terhadap masyakarat. Mengapa hanya ini? Karena memang paradigma lebih sulit dibongkar daripada pemahaman kognitif. Perlu usaha dan komitmen yang konsisten.”

Hingga kini, Fajar masih sangat terbuka mengenai status ODHA-nya. “Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk ikut menyiarkan pesan positif tentang HIV,” ungkapnya. Ia sekarang bekerja sebagai Manajer Komunikasi, PR dan Media. Di luar itu, ia berusaha untuk menghabiskan waktu luang dengan hal-hal menyenangkan, agar tidak jatuh ke dalam stres.

Selain berkumpul bersama keluarga, kegiatan yang Fajar gemari adalah membaca. Ia menyukai penulis Rusia klasik: Tolstoy, Dostoevsky, dan Solzhenitsyn. Di samping itu, ia sangat menikmati musik dan mengoleksi jam tangan kuno.

Kebahagiaan juga ia dapatkan dari anjing-anjingnya. Ia memiliki empat anjing di rumah: seekor Siberian Husky, yang dengan bergurau ia katakan “hampir tak ada gunanya di luar kepandaiannya berpose untuk difoto”, dua ekor Doberman, serta seekor Pit Bull hasil adopsi. Mereka sering kali menghiasi ‘beranda’ Instagram-nya.

Di balik itu semua, Fajar masih menyimpan banyak mimpi untuk hidupnya. “Saya ingin berdansa dengan anak perempuan saya saat acara pernikahannya nanti,” pungkasnya di akhir bincang-bincang dengan KlikDokter.

[RS/RH]

0 Komentar

Belum ada komentar