Sukses

Dampak Buruk Nonton Televisi bagi Anak

Berapa jam dalam sehari anak menonton TV? Hati-hati, menonton TV sama dengan terbuangnya waktu anak belajar berbahasa!

Tidak jarang, seorang ibu mengeluhkan anaknya yang berusia 2 tahun belum bisa berbicara sama sekali. Setelah ditelusuri lebih lanjut, sering kali ditemukan anak dibiarkan menonton TV maupun tayangan sejenisnya. Alasannya agar anak tidak bosan ketika orangtuanya sedang sibuk.

Tapi seburuk itukah pengaruh televisi bagi anak? Bagaimana sebenarnya hubungan antara televisi dan perkembangan bahasa anak?

Belajar Berbahasa

Anak belajar berbicara dan berkomunikasi melalui interaksi dengan orang-orang terdekatnya. Proses ini tidak akan berubah sekalipun teknologi baru senantiasa bermunculan.

Menonton TV sama dengan terbuangnya waktu anak belajar berbahasa secara sia-sia. Anak akan kehilangan waktu yang seharusnya dipakai untuk berinteraksi dengan orangtua/pengasuh.

Mudahnya seperti ini, apa yang akan Anda lakukan dalam perjalanan bila hanya berdua dengan anak? Bila diberikan gadget atau tontonan yang menarik, anak akan duduk diam dan Anda mungkin tidak akan sering mengajaknya bicara.

Bila ia tidak diberikan apa pun, pasti Anda akan berbicara kepadanya sesering mungkin sekalipun ia tidak merespons. Secara normal, manusia akan cenderung mengisi keheningan dengan pembicaraan.

Tontonan Edukatif

Tayangan edukatif yang menawarkan pembelajaran kosakata, alfabet, dan sejenisnya hanyalah bagian yang sangat kecil dari sebuah komunikasi. Komunikasi yang sesungguhnya harus ada interaksi, memberi dan menerima.

Dalam komunikasi terdapat pula isyarat nonverbal yang memberikan arti lebih mendalam dari pesan yang disampaikan. Oleh sebab itu, tayangan TV maupun video apa pun tidak dapat menggantikan interaksi antarindividual untuk belajar berbahasa maupun berkomunikasi.

Dampak Televisi

Jean Berko Gleason, seorang pakar perkembangan bahasa anak, mengungkapkan fakta mengenai TV yang menyala. Saat menyala –walaupun tidak ada yang melihat, sudah cukup membuat keterlambatan perkembangan bahasa pada anak.

Dalam keadaan normal, orangtua akan berbicara 941 kata/jam ketika batita ada di sekitarnya. Saat televisi menyala, jumlah tersebut berkurang menjadi 770 kata. Dengan kata lain, jumlah kata yang lebih sedikit sama dengan pembelajaran yang lebih sedikit pula.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 12 bulan dan menonton TV lebih dari 2 jam sehari, berpeluang 6 kali lebih besar mengalami keterlambatan berbahasa. Anak-anak ini terpapar TV terlalu dini, yaitu di sekitar usia 10 bulan, sebelum mereka dapat mengucapkan kata pertama yang memiliki arti.

Enam puluh persen anak yang mengalami keterlambatan berbahasa ini, menonton TV tanpa didampingi oleh orangtua maupun pengasuh. Dibandingkan dengan anak-anak yang didampingi selama menonton TV, anak-anak yang tidak didampingi berpeluang 8.5 kali lebih besar mengalami keterlambatan berbahasa.

Selain dampak terhadap perkembangan bahasa anak, menonton TV sebelum usia 18 bulan juga memiliki efek negatif jangka panjang pada kemampuan membaca, memori jangka pendek, gangguan tidur, dan gangguan memusatkan perhatian.

Televisi bukanlah solusi

Melihat dampak TV yang begitu besar terhadap perkembangan bahasa anak, sebaiknya biarkan anak bermain sendiri ketika Anda sedang sibuk atau butuh waktu istirahat sejenak. Anak menjadi terlatih untuk memecahkan masalah. Ia pun akan menggunakan imajinasinya dan terpicu untuk berpikir kreatif agar dapat menghibur dirinya sendiri.

Tiga tahun pertama merupakan waktu yang sangat penting bagi perkembangan bahasa anak. Periode ini merupakan waktu di mana otak paling mudah mempelajari bahasa baru dan membangun jalur komunikasi yang akan digunakan seumur hidup. Ketika periode ini berlalu, akan lebih sulit bagi anak untuk belajar dan mengembangkan keterampilan berbahasanya. Karena itu, orangtua harus fokus pada pemanfaatan waktu yang berkualitas melalui aktivitas yang memicu komunikasi dan interaksi dua arah.

[RS/RH]

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar