Sukses

Demi Kemaslahatan Masyarakat, Dokter Rela Menikah Diwakili Sebilah Keris

Tulisan ini mengajak Anda untuk mengenal sosok seorang dokter yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat. Pengabdian yang besar hingga ia rela menomorduakan kehidupan pribadinya.

Berasal dari keluarga berstrata sosial bawah tidak menurunkan semangat Kariadi untuk menuntut ilmu dan bercita-cita untuk menjadi dokter. Lahir pada 15 September 1905 di kota Malang ditengah keluarga yang sederhana. Hidupnya semakin memprihatinkan saat kedua orang tuanya meninggal dunia.

Tinggal di lingkungan wedana dalam pengasuhan pamannya memberi kesempatan bagi Kariadi untuk menuntut ilmu. Beliau berhasil menamatkan pendidikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Malang, HIS Sidoardjo, dan  lulus dari Sekolah Kedokteran untuk Pribumi di Surabaya Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Lingkungan perkuliahan NIAS yang berlokasi satu kompleks dengan STOVIT (Sekolah Kedokteran Gigi) mempertemukannya dengan drg. Soenarti yang kemudian menjadi kekasihnya.

Setelah disumpah menjadi dokter, Kariadi bekerja sebagai asisten tokoh pergerakan, dr. Soetomo, di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) selama tiga tahun. Pengabdian yang tinggi membuat dr. Kariadi setuju untuk ditugaskan ke berbagai daerah seperti Manokwari, Tanah Papua, Kroya (Banyumas) dan Martapura.

Jelang pernikannya dengan drg. Soenarti pada tanggal 1 Agustus 1933, terjadi  wabah malaria di Manokwari. Demi keselamatan warga, Kariadi memutuskan untuk tinggal dan melakukan penelitian tentang kesehatan masyarakat Papua dalam rangka memberantas penyakit malaria dan filariasis. Pernikahan berlangsung tanpa kehadiran sosok Kariadi yang hanya diwakili sebilah keris. Bisakah Anda membayangkannya dalam pernikahan Anda sendiri?

Setelah itu, tepatnya 1 Juli 1942, Kariadi ditugaskan sebagai Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara), Semarang. Sebagai dokter muda, gaji 600 gulden tidak membuat keluarganya hidup mewah. (Sebagai gambaran, saat itu uang 1 gulden dapat digunakan untuk membeli 7 kg gula premium.) Tak jarang ia membantu pasien yang hanya mampu membayar jasa pengobatan dengan hasil pertanian. Bahkan ia rela memberi pengobatan secara cuma-cuma atau merogoh uang pribadi untuk membantu mereka.

Sebagai kepala laboratorium, pekerjaannya dekat dengan mikroskop. Ketika cedar olie atau immersion oil yang digunakan untuk pemeriksaan mikroskopik susah diperoleh, ia berusaha keras  mencari bahan penggantinya. Berkat ketekunannya, pada tahun 1944 dokter Kariadi membuat minyak dari bahan daun kenanga.

Formula yang diberi nama Minyak Semarang itu, atas persetujuan Semarang Iji Hookoo Kai, diganti nama menjadi Oleum Promicroscopiekar. Semarang Iji Hookoo Kai (Himpunan Kebaktian Dokter Semarang) itu sendiri merupakan organisasi resmi pemerintah Indonesia yang ada di bawah pengawasan Jepang. Soekarno adalah penasihat utama organisasi ini.

Tanggal 14 Oktober 1945, pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah.

Pimpinan Rumah Sakit Purusara langsung memberitahukan agar dr. Kariadi segera memeriksa Reservoir Siranda. Ia pun dengan cepat memutuskan untuk pergi memeriksanya karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Dalam perjalanan, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang dan iapun ditembak. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Namun ketika tiba di kamar bedah, nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.

Pada 17 Oktober 1945, jenazah dr. Kariadi dimakamkan di halaman rumah sakit. Pada 19 Oktober 1945, terjadilah pertempuran yang berlangsung lima hari di berbagai penjuru Kota Semarang. Pada 5 November 1961, kerangka dr. Kariadi dipindahkan dari halaman RS Purusara ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasa dr. Kariadi, pada 1964 RSUP Purusara (yang sejak 1949 menjadi RSUP Semarang) berganti nama menjadi Rumah Sakit Dokter Kariadi. Pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1968, dr. Kariadi dianugerahi Satyalencana Kebaktian Sosial oleh Presiden Soeharto, secara Anumerta.

(MFW/RH)

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar