Sukses

Menderita Diabetes Tipe 1, Wanita Ini Dipercaya Pimpin Inggris

Banyak teladan dari berbagai tokoh dunia yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik seperti penyakit diabetes, bukan halangan untuk berkontribusi dalam kehidupan.

Theresa May, wanita berkebangsaan Inggris yang baru saja ditunjuk menjadi perdana menteri untuk negaranya ini, menjadi sorotan dunia. Tidak hanya karena karier politiknya, tetapi juga karena sikap positifnya dalam menghadapi kondisi medis serius yang ia alami: diabetes tipe 1.

Salah Diagnosis

Suatu hari di tahun 2013, Theresia merasakan kondisi tidak nyaman pada tubuhnya. Ia pun memutuskan untuk menemui dokter demi mengetahui penyebabnya. Di luar dugaan, dokter menerangkan bahwa Theresa menderita diabetes tipe 2. Meski berat, ia sepakat dengan diagnosis tersebut. Penurunan berat badan, sering minum, dan buang air kecil dengan frekuensi yang lebih sering dari biasanya adalah hal-hal yang meyakinkannya. Ia pun melakukan terapi dan manajemen penyakit untuk penderita diabetes tipe 2.

Setelah beberapa pekan menjalani terapi dan modifikasi pola hidup, kondisinya tidak kunjung membaik. Ia kembali melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi bahwa ia sebenarnya mengidap diabetes tipe 1. Ini mengejutkan, sebab diabetes tipe 1 sangat jarang dijumpai pada orang berusia lebih dari 40 tahun. Bahkan, diagnosis ini biasanya sudah dapat ditemukan sejak masa kanak-kanak, terutama di negara dengan sistem pelayanan kesehatan yang sudah maju.

Manajemen Diri

Menderita diabetes tipe 1 tidak menghalangi Theresa untuk dapat beraktivitas sesuai tuntutan profesinya. Ia memilih untuk bersikap cerdas sekaligus terbuka mengenai penyakitnya. Ketika harus rapat yang memakan waktu seharian, dimana ia membutuhkan asupan makanan untuk mencegah kondisi kekurangan gula darah, ia menyiasatinya dengan menitipkan kacang-kacangan pada seorang staf yang duduk di belakangnya. Dengan demikian, Theresa tetap bisa mendapatkan asupan gula dan kalori tanpa mengganggu jalannya rapat.

Dalam jamuan makan malam, ia tidak sungkan untuk mempersilakan tamu makan terlebih dulu karena ia harus menginjeksi insulin ke dalam tubuhnya. Sikap disiplin namun kooperatif ini menumbuhkan respek dan perhatian dari para koleganya, sehingga mereka dapat menerima kondisi Theresa.

Terus Positif

Dalam suatu kesempatan wawancara, Theresa menegaskan, “Penyakit ini tidak akan memengaruhi kemampuan saya dalam bekerja. Saya cukup berhati-hati dalam memilih makanan dan tentu saja tidak lupa untuk rutin menyuntik (insulin). Ada jutaan orang yang seperti saya. Untungnya saya tidak takut jarum suntik.”

Theresa May kemudian melanjutkan, “Ada sebuah kutipan menarik dari Steve Redgrave yang didiagnosis memiliki diabetes sebelum ia memenangkan medali emas Olimpiade terakhirnya. Ia berkata bahwa diabetes harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan saya, alih-alih sebaliknya.”

Pada dasarnya, jika ditangani oleh tenaga medis profesional dan dikelola bersama pasien dengan disiplin, penyakit diabetes dapat dikendalikan serta tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk berkontribusi dalam kehidupan dan berprestasi.   

“Penderita diabetes tipe 1 dapat menjadi siapa pun yang ia inginkan, baik perdana menteri, dokter, maupun guru,” pungkas Theresa dalam wawancaranya dengan the Daily Mail.

[RS/RH]

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar