Sukses

Cara Mengajarkan Anak untuk Meminta Maaf

Mengajarkan anak untuk meminta maaf akan membuat ia memahami arti tanggung jawab serta memupuk rasa empati. Bagaimana cara yang tepat dalam mengajarkan anak meminta maaf?

Kenzo (4 tahun) memukul kakaknya Rara (6 tahun) ketika ia tidak diizinkan meminjam mainan kakaknya. Ibu Kenzo kemudian menaruhnya di kamar dan memintanya untuk tetap di sana sampai Kenzo bersedia meminta maaf pada Rara. Beberapa saat kemudian, Kenzo keluar kamar dan menuruti sang ibu untuk meminta maaf pada kakaknya. Setelah itu, mereka kembali bermain seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya.

Ya, mengajarkan anak untuk meminta maaf memang bukan perkara mudah. Sebagian anak mungkin dapat dengan spontan melontarkan kata maaf dari hati, dan sebagian lainnya hanya melakukan sekadar untuk meredakan situasi. Akan tetapi, ada beberapa anak yang tidak terbiasa meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. 

Penting untuk diingat bahwa anak baru akan dapat memahami apa yang dirasakan orang lain ketika ia sudah berusia 6-7 tahun. Sebelumnya, sebagai orangtua Anda harus ekstra sabar mengajarkannya cara dan makna dari permintaan maaf. Saat suatu hari sang anak dengan sukarela dan sepenuh hati meminta maaf, Anda patut berbangga. Ini berarti ia telah memahami betul bahwa dirinya salah dan bertanggung jawab memperbaiki kesalahannya. Tiga cara efektif ini akan sangat membantu Anda mengajarkan anak untuk meminta maaf.

Beri contoh permintaan maaf, berulang-ulang

Anak belajar banyak dari apa yang ia dengar dan lihat. Sebagai orangtua, Anda harus banyak mengajarinya bersikap kesatria dengan meminta maaf segera setelah berbuat salah atau keliru. Dengan demikian, sang anak juga akan belajar bahwa menyampaikan permintaan maaf adalah hal spontan yang harus dilakukan segera setelah berbuat salah. Lakukan ini terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan yang dapat ia tanamkan di kesehariannya.

Tidak perlu takut untuk mengakui salah

Berapa banyak dari Anda yang mendapati sang anak melakukan perbuatan salah, lalu mengarang cerita yang membenarkan dirinya dan menempatkan orang lain di kesalahan tersebut? Tidak perlu khawatir, Anda tidak sendirian. Faktanya, di usia balita, anak memang cenderung defensif dan kerap membenarkan diri sendiri. Ini adalah hal yang wajar terjadi seiring dengan proses anak menuju dewasa. Namun demikian, apa yang dilakukannya memang tidak bisa dibiarkan. Tegaskan padanya bahwa berbuat salah itu bisa dilakukan siapapun, bahkan ibu dan ayah. Yang terpenting, ia mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Beri dukungan verbal untuk permintaan maaf

Segala yang diajarkan pada anak sebaiknya disampaikan dengan kata-kata, begitu pula saat mengajarkan anak meminta maaf. Ketika anak melakukan kesalahan, Anda bisa menginisiasi permintaan maaf dengan mengatakan, “Apa yang harus kita lakukan ketika kita melakukan kesalahan?” atau “Apa yang bisa kita lakukan agar temanmu jadi tidak sedih?”.

Targetnya, anak akan menyampaikan permintaan maaf dengan spontan dan sukarela, tanpa diminta. Akan tetapi, jangan pernah memaksakan anak meminta maaf bila ia bersikeras tidak ingin melakukannya. Ingat, anak masih dalam tahap belajar. Biarkan proses ini berjalan alami dan tanpa tekanan. Ajari segala pembelajaran dengan kasih sayang. Setelah ia berhasil memiliki kemampuan meminta maaf ini, berikan apresiasi dengan pelukan erat atau pujian.

(RS/RH)

Baca juga:

0 Komentar

Belum ada komentar