Sukses

Mikrosefalia, Dampak Berbahaya Infeksi Zika

Salah satu hal yang membuat Zika sangat diwaspadai adalah potensi terjadinya mikrosefalia pada janin dalam kandungan, apabila ibunya terinfeksi Zika saat hamil.

Kejadian infeksi Zika mulai merebak di Brasil pada awal tahun 2015. Kemudian pada bulan September 2015, mulai terdeteksi jumlah bayi yang mengalami kecacatan berupa mikrosefalia sangat meningkat. Sejak saat itulah, peneliti menduga bahwa infeksi Zika pada ibu hamil dapat menyebabkan mikrosefalia pada bayi yang dikandungnya. Pada pertengahan tahun ini, New England Journal of Medicine mempertegas bahwa Zika terbukti dapat menyebabkan kecacatan tersebut.

Mengenal Mikrosefalia

Data yang ada menunjukkan bahwa dari 10.000 ibu hamil yang terinfeksi Zika, sebanyak 2-12 bayi lahir dengan mikrosefalia. Risiko mikrosefalia paling tinggi terjadi bila ibu hamil terkena infeksi Zika pada trimester pertama kehamilannya.

Mikrosefalia itu sendiri merupakan kecacatan yang ditandai dengan ukuran lingkar kepala bayi yang lebih kecil dari ukuran normal pada usianya. Hal ini merupakan tanda bahwa otak tidak berkembang sebagaimana harusnya. Kelainan ini sudah terjadi sejak bayi di dalam kandungan, dan sering disertai dengan kecacatan lainnya.

Bayi dengan mikrosefalia dapat mengalami berbagai gejala dan disabilitas, tergantung pada beratnya mikrosefalia yang dialami. Gejala dan disabilitas yang dapat dialami, diantaranya:

  • Keterlambatan perkembangan (misalnya: terlambat bicara, terlambat berjalan).
  • Gangguan menelan.
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran.
  • Perawakan pendek.
  • Retardasi mental.
  • Kejang berulang.

Bagaimana mendeteksi mikrosefalia?

Mikrosefalia sebenarnya sudah mulai dapat terdeteksi sejak bayi di dalam kandungan. Deteksi dapat dilakukan dengan mengukur diameter kepala bayi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) sejak akhir trimester kedua. Dokter akan membandingkan diameter kepala bayi dengan ukuran yang seharusnya, dan memeriksa apakah terdapat kecacatan organ yang dialami oleh bayi.

Namun demikian, tidak semua kasus mikrosefalia terdeteksi sejak saat kehamilan. Setelah bayi lahir, mikrosefalia dapat diketahui dengan mengukur lingkar kepala bayi dan membandingkannya dengan ukuran lingkar kepala seharusnya menurut kurva pertumbuhan.

Mikrosefalia merupakan kondisi kecacatan yang tidak dapat disembuhkan melalui obat-obatan. Hal yang dapat dilakukan pada anak yang mengalami mikrosefalia adalah melakukan rehabilitasi dan latihan untuk mengoptimalkan kemampuannya, misalnya dengan melakukan terapi wicara, fisioterapi, dan terapi okupasi. Obat-obatan dapat diberikan untuk gejala tertentu, misalnya bila terdapat gejala kejang.

Mikrosefalia merupakan penyakit serius yang berdampak seumur hidup. Pencegahan dan deteksi dininya merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

(RS/RH)

Baca juga:

0 Komentar

Belum ada komentar