Sukses

Dokter Gigi Penemu Formula Penumbuh Tulang

Berkat ketekunan dan cita-citanya untuk membantu masyarakat, seorang dokter gigi yang juga seorang dosen peneliti di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, berhasil menemukan formula penambal tulang dan gigi. Perkenalkan: drg. Ika Dewi Ana, PhD.

Formula berwujud butiran putih dengan diameter 6 mm dan panjang 10 mm itu bernama Gama-CHA. Itulah alat kesehatan untuk meregenerasi gigi dan jaringan tulang manusia. Formula tersebut merupakan hasil karya anak bangsa, drg. Ika Dewi Ana, PhD. Sebuah kontribusi besar bagi perkembangan ilmu dan praktik kedokteran gigi di Indonesia.

Perjuangan panjangnya dalam meneliti Gama-CHA ini telah melewati berbagai uji coba –baik pada hewan maupun manusia. Hingga akhirnya produk tersebut layak untuk bisa diproduksi. Wanita kelahiran Yogyakarta, 16 September 1968 ini pertama kali memperkenalkan karyanya di Hotel Borobudur, Jakarta, pada tahun 2014. Acara tersebut dihadiri Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Wamenkes Ali Ghufron Mukti, dan Dirut Kimia Farma Rusdi Rosman.

Lewat produk hasil penelitian selama 15 tahun ini, drg. Ika Dewi Ana, PhD berharap Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor. Gama-CHA sudah tercatat dalam e-catalog obat untuk pelayanan kesehatan BPJS dan dijual dengan harga Rp. 350.000. Sedangkan produk impor sejenis dijual dengan harga Rp.850.000 - 2.500.000 per kotak. Sebelum ada Gama-CHA, dokter melakukan bone grafting dari seorang pasien untuk menambal tulang yang patah. Prosedur ini memiliki kelemahan yaitu pasien jadi memiliki 2 luka operasi. Selain itu, grafting mempunyai resiko penularan virus seperti HIV.

Sejak tahun 1970, para peneliti di dunia mengembangkan penggunaan Hydroxyl Apatite yang terdiri dari Calcium, Phosphate dan Hydroxyl. Namun 6 bulan setelah Hydroxyl ditanam dalam tubuh, ternyata tidak dapat meregenerasi tulang. Hal ini dikarenakan tulang kita terdiri dari Carbonate Apatite bukan Hydroxyl Apatite seperti yang dikatakan oleh ahli kesehatan sebelumnya. Menurut drg. Ika Dewi Ana, PhD, Carbonate Apatite diserap oleh tubuh lalu merangsang pertumbuhan sel tulang yang baru.

Hadirnya Gama-CHA dalam dunia kedokteran gigi adalah membawa angin segar bagi praktik dokter gigi sekaligus memberi harapan cerah bagi pasien. Seperti yang kita ketahui, seseorang yang menjalani pencabutan gigi, akan mengalami penyusutan tulang alveolar (tulang disekitar gigi) sebanyak 40-50% pada 6 bulan pertama dan terus berlanjut sepanjang hidup. Keadaan tulang alveolar yang menyusut bisa berubah menjadi pendek, tipis, tajam sehingga kurang ideal untuk pembuatan gigi palsu yang cekat maupun lepasan. Dengan penggunaan Gama-CHA sesaat setelah pencabutan gigi, dalam waktu 2-3 bulan, tulang akan terbentuk seperti aslinya.

Pasien dengan gigi palsu cekat kini tidak perlu kuatir sisa makanan akan terselip dibawah crown and bridge. Pasien dengan gigi palsu lepasan juga tidak perlu mengganti protesa karena kecekatannya yang berkurang. Keluhan gigi palsu yang longgar pun dapat diminimalisir.

Kini Gama-CHA temuan drg. Ika Dewi Ana, PhD telah diproduksi massal oleh PT Swayasa Prakarsa, dan didistribusikan oleh PT Kimia Farma dan PT Cobra Dental Indonesia. Rencananya, Gama –CHA akan diekspor oleh PT Kimia Farma berencana ke negara-negara Timur Tengah dengan keyakinan produk ini halal. Semoga hasil karya dan kerja keras anak bangsa yang mendunia ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.

(MFW/RH)

Baca juga: 

1. Dokter Pejuang di Era Kemerdekaan Indonesia:

2. Dokter Pejuang di Era Sekarang:

0 Komentar

Belum ada komentar