Sukses

Apa itu Perokok Pasif?

Naiknya harga rokok, tidak hanya akan menurunkan jumlah perokok aktif, tetapi juga jumlah perokok pasif. Tahukah Anda apa itu perokok pasif?

Kenaikan drastis harga jual rokok per kemasan yang banyak dibicarakan di media diharapkan dapat menurunkan jumlah perokok di Indonesia. Ini tidak hanya akan mengurangi jumlah perokok aktif saja, tetapi juga jumlah perokok pasif. Tahukah Anda apa itu perokok pasif?

Perokok pasif, atau second-hand smoke, adalah istilah untuk seseorang yang tidak merokok namun ikut terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Asap tersebut adalah gabungan dari asap yang dihembuskan oleh perokok dengan asap dari ujung batang rokok yang menyala. Asap tersebut mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia yang 69 di antaranya merupakan zat penyebab kanker.

Di samping itu, istilah third-hand smoke juga kini mulai digunakan untuk memberikan penekanan tambahan bahwa asap rokok memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi orang-orang yang tidak merokok. Third-hand smoke adalah orang yang terpapar sisa-sisa zat dari asap rokok –yang dapat berada di udara hingga sekitar 2,5 jam setelah rokok dimatikan– sehingga dapat menempel pada pakaian ataupun benda-benda di sekitarnya.

Walaupun tidak merokok, perokok pasif juga tetap mengalami konsekuensi yang hampir sama dengan perokok aktif. Data dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak merokok namun tinggal serumah dengan perokok memiliki peningkatan risiko hingga 30% untuk menderita kanker paru. Selain itu, risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit paru obstruktif kronik juga meningkat pada perokok pasif.

Utamanya, merokok secara pasif dianggap sangat berbahaya bagi anak-anak. Angka kejadian Sudden Infant Death Syndrome –atau bayi di bawah usia 1 tahun yang meninggal secara tiba-tiba– dikatakan meningkat hingga 2 kali lipat pada ibu yang merokok. Asap rokok dari lingkungan juga dapat memicu timbulnya penyakit saluran pernapasan –seperti; common cold, bronkitis, pneumonia, serta serangan asma akut pada anak dengan riwayat asma.

Peningkatan pengetahuan masyarakat dan pemerintah terkait dampak berbahaya bagi perokok pasif juga mendukung dibuatnya gedung-gedung serta kawasan bebas asap rokok, serta ruangan terpisah dan tertutup untuk merokok. Ini diharapkan dapat mencegah peningkatan angka kejadian penyakit-penyakit berbahaya terkait dengan merokok secara pasif, sekaligus menurunkan jumlah perokok di Negara ini.

(NB/RH)

Baca juga:

  1. Bahaya Merokok Saat Hamil
  2. Mengapa Penis Pria Perokok Kurang Keras?
  3. Benarkah Rokok Elektrik Bisa Hentikan Ketergantungan?

0 Komentar

Belum ada komentar