Sukses

Waspada Penggunaan Obat yang Dapat Merusak Hati

Sebanyak 20-40% kerusakan hati menyeluruh disebabkan oleh obat-obatan. Oleh sebab itu, waspadalah akan penggunaan obat yang dapat merusak hati.

Tidak semua jenis obat dapat merusak hati. Namun kemungkinan kerusakan hati akan semakin meningkat pada jenis obat yang secara khusus dimetabolisme oleh hati. Kerusakan terjadi akibat efek langsung obat yang merusak sel-sel hati, maupun sisa zat hasil pengolahannya.

Di dunia medis sendiri, obat diketahui sebagai salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hati. Bahkan 20-40% kerusakan hati menyeluruh disebabkan oleh obat. Lebih dari 900 jenis obat dan herbal dilaporkan dapat menyebabkan gangguan hati.

Obat-obatan yang memiliki efek samping berupa kerusakan hati tidak semuanya memiliki kadar ‘perusak’ yang sama. Umumnya, penggunaan yang lama (misalnya berbulan-bulan) dengan dosis yang besar akan lebih meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan hati.

Selain itu, bila Anda pernah mengalami kerusakan hati akibat penyebab lain (misalnya: akibat infeksi, penggunaan alkohol), maka kemungkinan gangguan hati akibat obat-obatan akan semakin besar. Usia yang lebih lanjut dan faktor keturunan juga memiliki pengaruh besar atas terjadinya hal ini.

Obat yang Dapat Merusak Hati

Berikut adalah beberapa obat yang dapat menyebabkan gangguan pada hati, terutama bila dipakai dengan dosis yang berlebihan ataupun akibat digunakan dalam jangka waktu panjang:

  • Asetaminofen, digunakan untuk obat penurun demam dan antinyeri
  • Amiodaron, berfungsi untuk menormalkan irama jantung
  • Klorpromazin, obat yang digunakan untuk gangguan psikiatri
  • Diklofenak, digunakan sebagai obat penghilang nyeri
  • Isoniazid, antibakteri yang sering digunakan dalam pengobatan tuberculosis
  • Statin, golongan obat penurun kolesterol
  • Metildopa, obat antihipertensi yang salah satunya digunakan untuk preeklampsia pada ibu hamil
  • Asam valproat, digunakan untuk obat antikejang
  • Heparin, digunakan untuk mengencerkan darah

Meskipun memiliki risiko terhadap kerusakan hati, penggunaan obat-obatan tersebut seringkali disebabkan karena tidak adanya pilihan obat lain untuk membantu pasien. Jadi apa yang bisa Anda lakukan bila kondisinya seperti itu? Hal pertama yang dapat Anda lakukan adalah berkonsultasi dengan dokter yang merawat Anda mengenai pilihan obat. Selain itu, pastikan dokter tetap melakukan pemantauan pada kesehatan hati Anda selama masa konsumsi obat-obatan tersebut. Pendeteksian gejala kerusakan hati yang dilakukan sejak dini dapat mengurangi keparahan gangguan yang terjadi.

(RS/RH)

0 Komentar

Belum ada komentar