Sukses

Perlukah Imunisasi Difteri di Sekolah?

Untuk menyukseskan program BIAS (Bulan Imunisasi Anak di Sekolah), salah satu imunisasi yang diberikan adalah vaksin difteri toksoid.

Difteri merupakan salah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Di Indonesia, pada tahun 2011 terjadi peningkatan anak yang menderita difteri dan menyebabkan 13 anak meninggal dunia.

Gejala difteri meliputi demam dan terkadang menggigil, kerongkongan sakit, suara parau, mual, muntah, sakit kepala, hidung berlendir dan kadang-kadang bercampur darah, serta dapat teraba adanya benjolan atau bengkak pada daerah leher.

Cara penularan difteri melalui kontak langsung dengan penderita difteri atau pasien carrier difteri. Misalnya kontak langsung melalui percikan ludah (saat batuk, bersin dan berbicara), cairan dari kulit yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung melalui debu, baju, buku maupun mainan yang terkontaminasi. Hal tersebut mudah didapatkan di area bermain yang sering didatangi oleh anak-anak, sehingga risiko anak untuk terpapar bakteri penyebab difteri sangat tinggi.

Untuk imunisasi rutin, anak bisa diberikan 5 dosis pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan dan saat masuk sekolah. Untuk imunisasi primer terhadap difteri, digunakan toksoid difteri yang kemudian digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP.

Mari bersama-sama menyukseskan program BIAS untuk melindungi dan mencegah munculnya difteri!

(RS/RH)

0 Komentar

Belum ada komentar