Sukses

Kerusakan Otak Bayangi Karier Pegulat Profesional

Menjadi bagian dari olahraga dengan banyak kontak fisik turut meningkatkan faktor risiko menderita CTE. NamunAnda yang tidak ikut ambil bagian pun dapat berisiko mengalami hal yang sama. Apa itu CTE?

Baru-baru ini, media ramai memberitakan pengajuan class action lawsuit dari para mantan pegulat profesional pada WWE (World Wrestling Entertainment). Ini terkait cedera otak yang kabarnya diderita oleh para pegulat setelah melepas karier.

Berita seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Tahun 2015 silam, para mantan pemain football di Amerika juga mengajukan tuntutan serupa pada NFL (National Footbal League). Mereka mengajukan tuntutan atas cedera yang sama –yaitu Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE). Untuk mudahnya, ini dapat disebut sebagai cedera kepala berulang. Apa itu CTE dan mengapa keluhan muncul setelah para atlet ini melepas kariernya?

CTE (Chronic Traumatic Encephalopathy)

CTE telah dikenal sejak tahun 1920-an sebagai bentuk degenerasi otak yang sering dikaitkan dengan olahraga tinju. Dulu CTE disebut sebagai ‘dementia pugilistica’ –ditandai dengan kemerosotan fungsi otak drastis pada para petinju. CTE adalah gangguan kemerosotan fungsi otak pada orang-orang yang mengalami benturan kepala dan gegar otak berulang. Biasanya terjadi pada anggota militer, petinju, pegulat, atau orang dengan kegiatan kontak fisik rutin lainnya.

Awalnya, CTE terdiagnosis saat otopsi pasien yang sudah meninggal –dimana akan ditemukan penurunan massa otak dan perubahan-perubahan fitur otak. Lewat berbagai penelitian, CTE kini dapat didiagnosis dengan melihat gejala-gejala khas pada penderitanya. Gejalanya seringkali tersembunyi dan membahayakan –diawali dengan menurunnya fokus, konsentrasi, dan daya ingat. Penderita juga biasanya sering merasa kebingungan dan mengalami disorientasi, yang disusul rasa pusing dan sakit kepala berulang.

Perjalanan penyakit yang cepat akan menimbulkan gejala-gejala lebih berat –seperti menurunnya daya penglihatan dan pikun. Pada kasus CTE yang parah, penderita dapat mengalami gangguan gerak, tremor, tuli, dan gangguan bicara. Keparahan penyakit ini sejalan dengan lamanya penderita terpapar faktor risiko dan frekuensi benturan pada kepala.

Pencegahan

Hingga saat ini, belum ada cara pasti yang dapat digunakan untuk mendiagnosis CTE pada penderita yang masih hidup. Namun dokter dapat melakukan tes pada fungsi-fungsi otak dan melakukan pencitraan kepala jika dicurigai pasien mengalami CTE. Pemeriksaan MRI, PET-scan, dan EEG adalah beberapa penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosia cedera pada kepala.

Menjadi bagian dari olahraga dengan banyak kontak fisik –seperti gulat, football, atau tinju memang merupakan faktor risiko besar untuk menderita CTE. Namun demikian, bukan berarti CTE tidak dapat terjadi pada Anda. Jika harus melakukan aktivitas yang rawan terjadi benturan di kepala, gunakan pelindung kepala sesuai standar –termasuk saat berkendara dengan sepeda atau motor. Usai benturan, kenali tanda seperti: penurunan/hilang kesadaran, sakit kepala hebat, muntah berulang, atau kejang. Segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

(NB/RH)

0 Komentar

Belum ada komentar