Sukses

Kembar Siam, Apakah Harus Selalu Dioperasi?

Kemungkinan besar pasangan kembar siam memang harus mendapatkan tindakan operasi pemisahan. Tapi ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelumnya.

Rose dan Gracie adalah sepasang kembar siam yang lahir pada tahun 2000 di Manchester, Inggris. Keduanya menempel di bagian bawah tubuh dengan kondisi pembuluh darah aorta, kandung kemih, dan sirkulasi darah yang bersatu. Meskipun berdempetan, Gracie lebih sehat dan kuat dibandingkan dengan saudarinya. Organ-organ vital milik Rose –seperti paru-paru, jantung, hati, dan otak– tidak berfungsi. Sebaliknya, segala organ vital milik Gracie berfungsi dengan baik. Rose diibaratkan ‘ ‘hidup bagai parasit’ bagi saudara kembar siamnya.

Akibat saling berbagi organ, dokter memvonis keduanya tidak dapat bertahan hidup lebih dari 6 bulan jika tidak dipisahkan. Namun apabila keduanya dipisahkan, Rose pasti akan meninggal. Sementara Gracie dapat bertahan hidup.

Kedua orangtua Rose dan Gracie tidak tega untuk memutuskan nasib kedua putrinya. Hingga pada akhirnya, pengadilan Inggris memutuskan agar tim dokter memisahkan kedua bayi kembar siam tersebut. Seperti yang telah diduga sebelumnya, Rose meninggal 3 bulan setelah operasi pemisahan. Sementara Gracie dapat bertahan hidup. Saat ini ia tumbuh menjadi remaja 14 tahun yang sehat dan pintar.

Operasi Pertama di Dunia

Operasi pemisahan kembar siam pertama di dunia berhasil dilakukan oleh dr. Johannes Fatio pada tahun 1689. Ahli bedah berbakat ini berhasil memisahkan sepasang bayi kembar siam yang berdempetan di dada bagian bawah.

Indonesia juga boleh berbangga atas keberhasilan Prof. Dr. R.M. Padmosantjojo, SpBS(K) dalam memisahkan kembar dempet kepala –Yuliana dan Yuliani– pada tahun 1987. Berkat tangan dingin, kegigihan, dan kesabaran Prof. Padmo, operasi yang memakan waktu 13 jam dan melibatkan 96 dokter tersebut sukses.

Yuliana dan Yuliani kini tumbuh menjadi gadis yang sukses. Yuliani menjadi dokter, sementara Yuliana menjadi doktor. (Baca juga: Yuliana dan Yuliani, Kembar Siam dari Indonesia)

Tak Selalu Berhasil

Operasi pemisahan kembar siam sangat berisiko. Apalagi jika kembar siam tersebut berdempetan di kepala. Meski telah mengetahui semua risiko dan akibat terburuk, Ladan dan Laleh Bijani –sepasang kembar siam dari Iran yang ketika itu berusia 29 tahun– tetap mantap untuk menjalani operasi. Mereka ingin mandiri dan menempuh jalan kehidupannya sendiri.

Namun takdir berkehendak lain. Operasi yang dijalankan di Rumah Sakit Raffles, Singapura, berlangsung lebih dari 10 jam dan melibatkan 28 dokter ahli bedah saraf serta 100 tenaga medis lain gagal.

Meskipun tim medis telah memberikan performa terbaik, Ladan tetap mengalami kehilangan banyak darah dan meninggal saat operasi masih berlangsung. Tak lama, Laleh pun menyusul saudara kembar siamnya itu.

Banyak Pertimbangan

Kemampuan bertahan hidup masing-masing bayi, risiko, hingga faktor emosional dan psikis pasangan kembar siam yang sudah tumbuh dewasa adalah beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Karenanya, operasi pemisahan bayi kembar siam tidak serta-merta dapat diputuskan untuk dilakukan.

(NB/RH)

0 Komentar

Belum ada komentar