Sukses

Imunisasi Campak di Sekolah, Perlukah?

Jangan sepelekan campak pada anak! Penyakit ini termasuk berbahaya dan memiliki virulensi yang sangat hebat, sehingga mudah menjadi wabah.

Salah satu imunisasi yang diberikan dalam program Bulan Imunisasi Anak di Sekolah (BIAS) adalah vaksin campak. Campak merupakan penyakit infeksi virus campak dari golongan paramxyovirus. Gejala awal campak ditandai dengan demam, batuk, pilek, mata merah dan berair, diikuti dengan ruam kulit yang khas –biasanya muncul pada hari ketiga hingga hari ketujuh.

Sekilas penyakit ini tampak seperti infeksi virus biasa, tapi jangan menganggapnya remeh. Campak termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki virulensi yang sangat hebat, sehingga mudah menjadi wabah.

Kapan harus memberikan vaksinasi campak?

Pemberian vaksin campak dilaksanakan sebanyak dua kali. Pertama saat anak berusia 9 bulan dan kedua di usia 6 tahun lewat program BIAS di kelas 1. Dianjurkan agar pemberian campak pertama anak dilakukan sesuai jadwal.

Mengapa vaksinasi campak harus diulang?

Sejak lahir anak sudah memiliki antibodi alamiah yang didapat dari ibu. Namun seiring dengan pertambahan usia, jumlah antibodi tersebut menurun. Oleh karena itu, vaksin campak sebaiknya diberikan pada usia 9 bulan dan diulang saat anak berada di usia sekolah dasar.

Penelitian terhadap antibodi campak pada anak sekolah kelompok usia 10-12 tahun menunjukkan bahwa hanya 50% yang masih mempunyai antibodi campak di atas ambang pencegahan, sedangkan 28.3% di antara kelompok usia 5-7 tahun pernah menderita campak walaupun sudah diimunisasi saat bayi.

Apa saja efek samping dari vaksinasi campak?

Vaksinasi campak dapat menimbulkan efek samping berupa sakit ringan dan bengkak pada lokasi suntikan, yang terjadi 24 jam setelah vaksinasi. Pada 5-15% kasus terjadi demam (selama 1-2 hari), biasanya 8-10 hari setelah vaksinasi. Pada 2% terjadi kasus kemerahan (selama 2 hari), biasanya 7-10 hari setelah vaksinasi.

Adakah aturan tertentu pada pemberian vaksinasi campak?

Ya. Vaksin ini sebaiknya tidak diberikan bagi:

  • Orang yang alergi terhadap dosis vaksin campak sebelumnya.
  • Orang yang alergi berat terhadap kanamisin dan eritromisin.
  • Wanita hamil, karena efek vaksin campak terhadap janin belum diketahui.
  • Anak dengan infeksi akut disertai demam.
  • Anak dengan defisiensi sistem kekebalan.
  • Anak dengan pengobatan intensif yang bersifat imunosupresif (menekan atau mengurangi aktivitas imun).
  • Anak yang memiliki kerentanan tinggi terhadap protein telur.

(RS/RH)

0 Komentar

Belum ada komentar