Sukses

Berkenalan dengan Dokter Gigi Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. DR. Moestopo, beliau adalah seorang dokter gigi pejuang kemerdekaan, juga seorang pendidik yang berdedikasi tinggi.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Moestopo pindah ke Surabaya untuk mengikuti kuliah di Lembaga Pendidikan Kedokteran Gigi STOVIT (School tot Opleiding van Indische Tandartsen). Kurangnya biaya untuk kuliah membuatnya harus berjualan beras dan mendapat bantuan biaya dari kakaknya.

Selanjutnya. Dokter kelahiran di Kediri, Jawa Timur, 13 Juli 1913 ini mengambil pendidikan lanjutan di Surabaya dan Yogyakarta. Kemudian beliau bekerja menjadi asisten dokter gigi spesialis orthodontik di Surabaya dan diangkat menjadi asisten direktur STOVIT.

Semasa penjajahan Jepang, beliau pernah ditangkap dan bekerja sebagai dokter gigi untuk tentara Jepang. Ia juga menerima pelatihan militer di Bogor bersama Jenderal Sudirman dan Jenderal Gatot Subroto, dimana mereka mendapat peringkat tertinggi di kelasnya. Selama pelatihan, beliau berhasil menggabungkan ilmu kedokteran dengan ilmu strategi perang. Penilaian tinggi didapatnya dari penulisan makalah mengenai konsep senjata bambu runcing ujungnya diberi kotoran kuda yang akan membuat musuh terkena tetanus.

Setelah lulus, Moestopo diberi perintah untuk memimpin pasukan PETA di Sidoarjo. Kemudian beliau diangkat menjadi Komandan pasukan yang mengamankan daerah Gresik dan Surabaya. Selain berjuang demi kemerdekaan dan di bidang kesehatan, beliau juga aktif membantu mengurangi tingkat pengangguran dengan mendirikan workshop yang  memproduksi sabun dan sikat gigi.

Masa Revolusi Nasional

Setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2 dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, Moestopo menyusun kekuatan militer di Surabaya dan melucuti tentara Jepang dengan bambu runcing. Karena keberhasilannya lantas ia mengangkat dirinya sebagai Menteri Pertahanan. Pada tanggal 25 Oktober 1945 Pasukan Infantri India dibawah pimpinan Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby datang dan mengutus Capt Macdonald untuk bertemu Moestopo. Pertemuan itu membuat Moestopo sangat menentang kedatangan tentara Inggris ke Indonesia.

Tentara Inggris pergi menemui Gubernur Jawa Timur Soeryo untuk mendapat dukungan positif dan Soeryo akhirnya menerima kedatangan tentara Inggris di Surabaya. Disana Moestopo bertemu dengan Kolonel Pugh yang menjelaskan maksud kedatangan Inggris. Selanjutnya Moestopo setuju untuk bertemu Mallaby.

Pada tanggal 27 Oktober, Pesawat Douglas C-47 Skytrain di Batavia menyebarkan pamflet yang ditandatangani oleh Jendral Douglas Hawthorn yang isinya memerintahkan agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata mereka dalam waktu 48 jam atau dibunuh. Karena hal ini bertentangan dengan persetujuannya bersama Mallaby, Moestopo dan sekutunya menolak untuk menuruti keinginan tentara Inggris. Lalu terjadilah pertempuran dari tanggal 28-30 Oktober yang puncaknya ditandai oleh kematian Mallaby.

Pertengahan tahun 1946, Moestopo dikirim ke Subang untuk memimpin pasukan Terate. Diluar pasukan militernya, ia merekrut para pencopet dan pelacur untuk bergabung dalam pasukan tersebut. Strategi beliau berhasil menyebarkan kebingungan. Ia pun berhasil mengumpulkan bahan pokok di belakang sepengetahuan pasukan Belanda.

Setelah perang usai, Moestopo kembali ke Jakarta dan menjabat sebagai Kepala Bagian Bidang Bedah Rahang di rumah sakit tentara yang sekarang dikenal dengan RSPAD Gatot Subroto. Dedikasinya yang tinggi dalam membina dan mengajarkan ilmu kedokteran gigi membuat Moestopo membuka pelatihan di rumah untuk para dokter gigi tentang pelatihan dasar mengenai kebersihan, nutrisi dan anatomi di waktu senggangnya.

Sebagai seorang dokter gigi yang terus berjuang dalam dunia kedokteran gigi, tahun 1957 Moestopo mengubah status pelatihannya di rumah menjadi formal. Setelah beliau kembali dari pelatihan di Amerika Serikat, tanggal 15 Februari 1961 ia mendirikan Universitas Moestopo sebagai bukti kepeduliannya terhadap kemajuan dunia kedokteran gigi di Indonesia.

Pada tahun 1961 dokter gigi pejuang kemerdekaan Indonesia ini menerima gelar Doktor dari Universitas Indonesia. Moestopo meninggal dunia tanggal 29 September 1986 dan dimakamkan di Pemakaman Cikutra, Bandung. Pada tanggal 9 November 2007 beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pada tahun yang sama menerima penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana.

(RH)

Baca juga artikel tentang:

1. Dokter Pejuang di Era Kemerdekaan Indonesia:

2. Dokter Pejuang di Era Sekarang:

0 Komentar

Belum ada komentar