Sukses

Suicide Squad: Ketika Joker Trauma

Hati-hati dengan trauma. Jika tak ditangani dengan tepat, Anda bisa berakhir seperti Joker dalam film Suicide Squad.

Anda penggemar film superhero? Jika ya, maka bisa jadi Anda ingin menonton Suicide Squad. Film yang dibintangi oleh Jared Leto memang sedang menjadi perbincangan hangat sebagian masyarakat. 

Tapi kalau Anda pikir ini hanyalah sekedar film superhero biasa, maka Anda salah. Di balik kisah heroik dalam film ini, tersimpan cerita tentang masa lalu kelam dan penuh trauma dari Joker –peran yang dimainkan Jared. 

Seperti Joker, setiap orang memang memiliki masa lalu. Itulah yang membentuk pribadi setiap orang. Namun memiliki masa lalu yang penuh trauma seperti Joker akan ‘menorehkan’ cerita tersendiri. Kondisi yang menakutkan, mengancam, dan membuat stres bisa terjadi pada siapapun.

Perbedaannya terletak pada responnya. Cemas, susah tidur, atau susah fokus merupakan respons yang sering muncul. Pada beberapa orang, hal tersebut bisa hilang seiring berjalannya waktu. Sayangnya, beberapa orang lainnya tak seberuntung itu. Kondisi ini disebut post traumatic stress disorder (PTSD).

Apa itu post traumatic stres disorder?

Post traumatic stress disorder adalah gangguan mental yang terjadi karena adanya trauma. Bisa berupa kematian, ancaman kematian, cedera serius, bencana alam, kecelakaan kekerasan atau kejadian tertentu.  Suatu kejadian bisa menyebabkan trauma jika membuat seseorang takut, tertekan atau stres. Trauma itu sendiri merupakan hal yang tak terduga dan tentunya tidak diharapkan terjadi.

Apa saja gejalanya?

Gejala PTSD dapat berupa kilas balik berulang akan kejadian yang membuat traumatik, mimpi buruk, hingga pikiran berulang akan kejadian tersebut. Orang yang mengalaminya cenderung menghindari hal-hal yang mengingatkan mereka akan kejadian tersebut. Misalnya, seseorang yang mengalami kecelakaan mobil akan menghindari menyetir dalam kurun waktu tertentu. Orang yang mengalami PTSD juga dapat mengalami kesulitan tidur, susah berkonsentrasi, mudah tersinggung, cemas, hingga tidak beremosi. Mereka juga akan mengalami kesulitan mengenali dan mengontrol emosinya.

Siapa yang dapat mengalami PTSD?

Setiap orang yang pernah mengalami trauma berisiko mengalami PTSD. Namun apakah seseorang mengalami PTSD atau tidak tergantung oleh banyak hal. Seperti: Lama/durasi trauma, respons, jumlah atau frekuensi kejadian traumatik, hingga dukungan yang diterima setelah mengalami kejadian tersebut. Beberapa profesi yang berisiko tinggi terhadap PTSD antara lain anggota militer, polisi, paramedis, dokter, dan pemadam kebakaran.

Bagaimana penanganannya?

Banyak orang yang merasa bersalah atau malu mengungkapkan pengalamannya. Padahal trauma merupakan kejadian yang menyakitkan serta dapat berdampak besar bagi hidup seseorang. Jadi penting untuk ditangani dengan serius.

Penanganan PTSD dapat berupa konseling yang disebut dengan cognitive-behavioural therapy. Terapi ini bertujuan untuk memahami dan mengontrol pikiran, perasaan, perilaku serta bagaimana seseorang sebaiknya merespons suatu masalah. Obat–obatan seperti obat antiansietas atau antidepresan juga bias membantu.

Dukungan dari lingkungan sekitar adalah hal yang penting. Anda bisa berbagi pengalaman dengan orang lain yang pernah mengalami kejadian serupa. Sebaliknya, Anda pun bisa belajar dari orang lain. Jika kerabat atau keluarga terdekat ada yang mengalami PTSD, berempatilah dalam mendengarkan keluh kesahnya. Hindari menghakimi atau memberi saran yang membuatnya merasa terpojok.

Kini Anda tahu bahwa trauma bukanlah hal yang remeh. Mesksi kisahnya hanya dalam film, Joker telah membuat Anda lebih mengenal seluk beluk trauma dan PTSD. Jadi, Anda siap untuk melihat Joker beraksi dalam Suicide Squad?

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar