Sukses

Berkenalan dengan Obesitas pada Anak Lewat Arya

Akhir-akhir ini Indonesia memiliki selebrita baru, Arya ‘Si Bocah Obesitas’. Namun di balik kepopulerannya, kisah Arya menyadarkan banyak pihak bahwa obesitas pada anak adalah hal yang berbahaya.

Berkenalan dengan Arya

Arya Permana adalah bocah berusia 10 tahun yang kini duduk di bangku kelas 3 SD. Seharusnya anak seusianya sedang giat menimba ilmu di sekolah dan menikmati waktu bermain bersama teman sebayanya. Nyatanya, Arya hanya mampu berdiam diri di rumah. Obesitas telah ‘memaksa’ Arya untuk tak lagi bersekolah.

Ya, berjalan 20 meter menuju sekolah membuatnya mudah lelah dan sesak napas. Meski tak benar-benar putus sekolah –dengan kehadiran pengajar setiap tiga hari di rumahnya- tetap saja membuat prestasinya menurun. Impian untuk terus menjadi juara kelas pun harus kandas akibat obesitas.

Siapa yang Salah?

Berat rata-rata anak laki-laki berusia 10 tahun adalah 39 kg. Berat Arya? 190 kg! Ini membuat Arya masuk ke dalam obesitas ekstrim.

Menurut kedua orangtuanya, si bocah obesitas lahir dalam keadaan normal dengan bobot lahir 3,8 kg. Namun menginjak usia 4-5 tahun, berat badan Arya mulai menanjak. Pada masa  tersebut, Arya gemar bergaul sambil jajan mie instan dan minuman manis. Dalam sehari, ia bisa menenggak 20 gelas minuman manis kemasan dan mengonsumsi 4 bungkus mie instan. Kebiasaan ini terus berlanjut, hingga  pada usia 8 tahun bobotnya melonjak menjadi 100 kg –dan akhirnya mencapai 190 kg pada usia 10 tahun. Ayah Arya mengaku kesulitan untuk mengontrol nafsu makan anaknya. Jika dilarang ia akan menangis, dan marah sambil bergulingan di lantai.

Perjalanan Kembali ke Bobot Ideal

Untuk menanggalkan gelar bocah obesitas, Arya kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di sana ia menjalani diet ketat dengan hanya mengonsumsi 3 porsi menu sebesar 2500 kalori –yang diperuntukan bagi anak dengan bobot 50 kg. Menu tersebut pun didominasi oleh makanan kaya serat seperti sayur dan buah.

Selain itu, Arya juga wajib untuk berjalan kaki sejauh 50 meter, tiga kali dalam sehari. Dokter menargetkan Arya dapat membuang tiga perempat bobot tubuhnya dan mencapai berat ideal 50 kg dalam waktu satu tahun.

Usaha ini dilakukan tim dokter tanpa melakukan sedot lemak.  Meski demikian, operasi pengecilan lambung dapat dilakukan kelak apabila dirasakan perlu.

Obesitas pada Anak, Berbahayakah?

Bagi sebagian besar orang, anak gemuk memang terlihat lebih menyenangkan daripada anak kurus. Bahkan ada anggapan anak gemuk terlihat lebih sehat. Padahal ini salah. Kegemukan pada anak yang dibiarkan tanpa kontrol justru dapat membawa akibat fatal bagi masa depannya. Berbagai penelitian di dunia menunjukkan anak yang menderita obesitas akan memiliki risiko yang lebih tinggi dalam mengidap diabetes, kolesterol tinggi, dan darah tinggi saat dewasa.

Selain berdampak pada kesehatan, sisi psikologis anak pun akan terganggu. Anak obesitas seringkali menjadi sasaran bullying oleh teman-temannya. Ia pun akan mengalami kesulitan saat beraktivitas; seperti tidur, bermain, dan berolahraga.

Cegah Sejak Dini

Mengingat segala efek samping yang dapat ditimbulkan, penting bagi orangtua untuk mengatur pola makan anak dengan bijaksana. Kurangi karbohidrat dan makanan berlemak. Sebaliknya, perbanyaklah sayur dan buah dalam menu makanannya. Porsi nasi ideal bagi anak adalah sebesar kepalan tangannya, sementara porsi daging atau protein adalah selebar dan setebal telapak tangannya (tanpa jari). Hindari konsumsi makanan dan minuman kemasan –termasuk soda. Jenis makanan dan minuman tersebut dapat menyumbang kalori yang sangat banyak bagi tubuh.

Jangan putus asa jika anak menolak aturan baru Anda. Jelaskanlah bahwa ini Anda lakukan demi kebaikan dan kesehatannya. Bagaimanapun juga, sudah kewajiban Anda sebagai orangtua untuk mencegah terbentuknya ‘Arya si Bocah Obesitas’ yang baru.

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar