Sukses

Perlukah Booster ASI?

Banyak ibu menyusui mengonsumsi makanan atau suplemen untuk meningkatkan produksi ASI. Apakah hal tersebut benar bermanfaat?

Badan kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. Begitu besar dan banyaknya manfaat ASI bagi bayi dan ibu, sehingga ASI dijuluki sebagai “emas cair”.

Untuk mendapatkan manfaat ASI yang optimal, WHO menganjurkan agar para ibu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah itu, pemberian ASI dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan didampingi oleh MPASI (Makanan Pendamping ASI).

Berkat gencarnya pemberian informasi seputar ASI dan menyusui, jumlah ibu yang memutuskan untuk memberikan ASI kepada bayinya telah mengalami peningkatan yang pesat dekade ini. Pada tahun 1970-an, jumlah ibu yang menyusui hanya 48%. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan dewasa ini, di mana jumlah ibu menyusui telah naik menjadi 90%.

Tidak Semudah yang Dibayangkan

Meskipun terlihat sederhana, ternyata menyusui tidaklah semudah membalikkan telapak tangan bagi sebagian ibu. Kurangnya pengalaman maupun informasi kerap membuat para ibu resah.

Menurut survei yang dilakukan oleh penelitian, beberapa hal yang menyebabkan para ibu kesulitan dan terkadang memutuskan untuk menyudahi saja proses menyusui, misalnya jumlah ASI yang tidak cukup, masalah puting lecet, ibu sakit, dan ibu harus kembali bekerja.

Masalah utama pada kasus ini adalah para ibu menganggap bahwa mereka memproduksi ASI kurang dari yang dibutuhkan oleh bayi.

Menurut hukum alam, para ibu dianugerahi Tuhan dengan kemampuan untuk memberi ASI yang cukup. Namun ada sebagian kecil ibu yang karena satu dan lain hal memiliki kesulitan dalam hal ini. Misalnya kelainan pada jaringan susu di payudara, gangguan hormonal, dan telah menjalani prosedur operasi pada payudara.

Usaha Memperbanyak ASI

Berbagai cara dilakukan oleh para ibu untuk dapat memproduksi ASI yang berlimpah atau minimal cukup bagi sang buah hati.

Banyak ibu berpaling pada makanan atau suplemen yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI, atau disebut juga ASI booster (galactagogue). Mulai dari yang telah dipercaya selama turun-temurun oleh nenek moyang, hingga yang terkenal dalam budaya barat.

Macam-Macam ASI Booster

ASI booster yang paling terkenal dalam budaya Indonesia adalah daun katuk. Sebuah penelitian yang dilakukan di Yogyakarta memberikan ekstrak daun katuk dengan dosis 3 x 300 mg selama 15 hari. Pada hari ke 2-3, didapati produksi ASI ibu yang mendapat suplemen daun katuk ini meningkat hingga 50%. Penelitian serupa yang dilakukan di Semarang dan Bandung juga mengonfirmasi hal yang sama.

Sementara itu, dalam kebudayaan barat dikenal beberapa jenis herbal yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI, seperti fenugreek, blessed thistle, dan fennel. Dari semua tumbuhan tersebut, fenugreek adalah yang paling direkomendasikan dan telah teruji klinis dapat meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui.

Menurut sebuah asosiasi menyusui di Amerika, La Leche League, fenugreek dapat meningkatkan produksi ASI pada 75% ibu menyusui. Dosis fenugreek yang dianjurkan oleh Academy of Breastfeeding Medicine’s Protocol adalah 1-4 kapsul, yang diminum 3-4 kali (sebesar 1,74-4,9 gram) sehari. Namun di Jerman, dosis fenugreek yang direkomendasikan lebih tinggi, yakni 6 gram sehari yang dibagi dalam 3-4 dosis.

Untuk kasus tertentu, apabila herbal masih kurang berhasil dalam meningkatkan produksi ASI maka Anda dapat menggunakan obat sebagai booster ASI . Domperidone – obat yang selama ini dikenal untuk meredakan gejala mual – ternyata juga dapat meningkatkan hormon prolaktin –hormon yang dihasilkan otak untuk meningkatkan produksi ASI di kelenjar susu payudara. Namun demikian, obat ini hanya boleh digunakan atas petunjuk dokter. [NB]

0 Komentar

Belum ada komentar