Sukses

4 Mitos Keliru Tentang Pendidikan Anak

Hal yang paling penting dalam membesarkan anak yang sehat, cerdas, dan bahagia adalah keberadaan dan kebijaksanaan Anda sebagai orangtua mereka. Namun masih ada mitos-mitos yang perlu diluruskan, yang dapat menentukan tumbuh kembang anak Anda.

Sering kali orangtua terlalu khawatir melihat perilaku anak yang masih senang bermain dan cenderung tidak mau diam untuk belajar menyimak dan mendengarkan. Orangtua lantas langsung menilai anak mereka mengalami gangguan konsentrasi. Di sisi lain, orangtua sangat percaya pada salah satu metode pembelajaran yang diklaim dapat mencerdaskan anak, sehingga tidak lagi memikirkan apakah pendidikan tersebut telah sesuai untuk kondisi anak atau tidak.

Berangkat dari hal tersebut, inilah beberapa mitos keliru mengenai pendidikan anak:

1. “Gizi adalah kunci utama perkembangan otak bayi.”

Gizi tidak serta-merta menjadi faktor kunci keberhasilan orangtua dalam proses perkembangan otak anak. Lingkungan natural seorang bayi – sinyal, suara, rasa, sentuhan, bau-bauan tertentu setiap hari – ternyata memberi stimulus yang cukup baik untuk memicu perkembangan otaknya.

Misalnya, ketika Anda bernyanyi saat memberi makan atau memakaikan pakaian kepada anak, hal tersebut akan merangsang gelombang otak anak untuk bekerja aktif. Inilah yang ternyata dapat memicu perkembangan otak seorang anak menjadi optimal.

2. “Anak perlu ditempatkan di kelas khusus karena terlambat bicara dibanding anak-anak lain.”

Jangan tergesa-gesa memercayai pernyataan yang mengatakan bahwa anak Anda autis karena dia terlambat bicara, kemudian menempatkannya di kelas khusus.

Penelitian menunjukkan bahwa 60% anak yang awalnya terlambat bicara, dapat mengejar ketinggalan dari anak-anak sebayanya dalam waktu dua atau tiga tahun. Memiliki spesialis tumbuh kembang anak memang hal yang sangat bagus. Tapi sekali lagi, jangan dulu menerima diagnosis “ada kelainan” pada anak Anda sebelum meminta second opinion dari ahli yang lain.

3. “Anak Anda menderita ADHD karena tidak dapat diam di kelas.

Apakah anak Anda tidak bisa diam saat guru bercerita atau sedang menjelaskan pelajaran? Memang, kebanyakan institusi pendidikan di Indonesia masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional di mana sekolah menggunakan metode belajar “duduk diam dan dengarkan” atau “duduk diam kerjakan apa yang disuruh”.

Dalam menerima segala bentuk pembelajaran motorik, anak memang cenderung lebih aktif bergerak untuk memenuhi keingintahuannya, dan seharusnya hal tersebut tidaklah masalah.

Sangat menyedihkan jika guru atau orangtua atau siapa pun langsung menghakimi anak yang tidak bisa diam sebagai anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau gangguan konsentrasi. Karena itu, orangtua diharapkan mampu menyadari bahwa cara belajar setiap anak tidaklah sama.

4. “Bisa membaca pada usia dini adalah tanda-tanda anak genius.”

Orangtua mana yang tidak bangga karena anaknya dapat membaca di saat usianya masih sangat dini? Sedangkan pada beberapa anak, mereka dapat membaca setelah masuk sekolah. Banyak orangtua beranggapan bahwa anak mereka sangatlah genius, tapi apakah benar demikian?

Pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga 100% benar. Ternyata kemampuan membaca anak dipengaruhi oleh kesungguhan orangtua dalam mengajarkan anaknya. Orangtua yang giat mengajarkan anaknya membaca sejak usia dini ternyata memang mendapatkan hasil berupa anak yang lebih cepat membaca dibandingkan dengan anak-anak lain. Namun bukan berarti anak tersebut genius, terkadang anak yang terlambat membaca memiliki kecerdasan yang lebih, hanya kurang terasah.

0 Komentar

Belum ada komentar