Sukses

Begini Cara Mengendalikan Pikiran Kotor

Puasa tidak hanya persoalan menahan haus dan lapar, melainkan juga mengendalikan diri dari pikiran-pikiran kotor. Jadi, kalau sudah membayangkan yang tidak-tidak, apa yang bisa dilakukan untuk membasminya?

Sebuah pertanyaan menarik muncul hari ini. “Dok, bagaimana caranya mengendalikan pikiran kotor saat berpuasa?”

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa otak adalah pusat kendali pikiran dan emosi. Otak juga menjadi pusat koordinasi bagi jaringan sistem neurotransmitter dan sistem neuroendokrin yang meliputi saraf, hormon dan zat kimia lain yang bertanggung jawab untuk banyak hal—salah satunya terkait mekanisme tubuh dalam memiliki dan merespons gairah seksual.

Contoh sederhana, dalam keadaan tanpa tekanan, dengan menyaksikan gambar atau tayangan yang berisi konten seksual dengan kadar yang cukup menstimulasi, anggota genital (alat kemaluan) seseorang dapat turut merespons dalam bentuk terjadinya ereksi bahkan hingga merembesnya cairan dari kemaluan.

Respons tubuh terhadap rangsangan visual, meskipun tanpa stimulus fisik, ini menjadi salah satu tanda bahwa pikiran memengaruhi emosi, dan emosi atau sikap mental memengaruhi cara tubuh bereaksi. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa otak sebagai organ tubuh manusia memiliki kemampuan yang sangat besar dan perlu dijaga.

Pikiran kotor biasanya adalah salah satu manifestasi dari terpaparnya seseorang dengan faktor seksual tertentu. Memberi paparan seksual kepada otak melalui bacaan, gambar dan tayangan merupakan keputusan pribadi yang dapat dikendalikan. Perlu diingat, tingkat sensitivitas otak terhadap rangsangan seksual dapat berubah terkait banyak faktor, misalnya paparan yang reguler dan terus meningkat membuat otak seolah belajar meminta akses lebih banyak dan cepat terhadap input materi seksual. Hal ini berpotensi merugikan karena orang yang seperti ini akan berkurang produktivitasnya dan kemampuan analisisnya.

Untuk itu, jika ingin mulai mengendalikan pikiran kotor, ada baiknya untuk memulai dengan menghindarkan diri dari paparan atau stimulus seksual selama berpuasa. Dapat dimengerti, bahwa diperpendeknya jam aktivitas kerja di kantor dan belajar di sekolah selama bulan puasa membuat banyak orang merasa memiliki waktu lebih banyak daripada biasanya.

Ketidakmampuan mengelola waktu dengan baik ini yang biasanya membuat seseorang mencari kegiatan yang mudah, murah, dianggap menyenangkan tetapi juga menantang. Bagi mereka yang terbiasa hidup akif dan memiliki pergaulan luas, mengisi kegiatan dengan aktivitas positif tentu bukan hal yang sulit. Tetapi bagi yang kurang kreatif, bisa jadi justru mengisi dengan kegiatan yang merugikan seperti mengeksplorasi konten seksual di dunia maya dan sumber lain.

Jadi, hindarilah paparan konten seksual dengan mengelola waktu lebih baik, dan sibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Selamat berpuasa!

0 Komentar

Belum ada komentar