Sukses

Bahaya di Balik Teh Hijau Dosis Tinggi

Teh hijau merupakan salah satu jenis minuman yang diyakini sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Namun, bagaimana jika teh hijau ini dikonsumsi dalam dosis tinggi? Berikut info medis dari dr. Anita Amalia Sari.

Teh merupakan salah satu minuman populer di dunia, tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, hampir semua rumah makan pasti menyajikan menu teh.

Salah satu jenis teh yang digemari oleh masyarakat adalah teh hijau. Teh hijau umumnya dikonsumsi sebagai minuman, namun dapat pula dijumpai sebagai perasa dalam kue dan roti. Selain itu, ekstrak teh hijau juga tak jarang dijumpai di dalam berbagi macam suplemen herbal.

Teh hijau sejak lama dipercaya memiliki efek positif bagi kesehatan tubuh, karena teh hijau memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Ekstrak teh hijau sering digunakan dalam suplemen untuk menunjang kesehatan, mencegah kanker, mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah, menurunkan kadar lemak dalam darah, membantu menurunkan berat badan, mengandung probiotik dan lain sebagainya. Namun demikian, ada juga efek samping yang dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi teh hijau. Beberapa efek samping yang sering ditemukan akibat mengonsumsi teh hijau, misalnya sakit kepala, pusing dan mual.

Meskipun memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, keamanan dan toleransi penggunaan ekstrak teh hijau dosis tinggi dalam jangka panjang masih belum banyak diketahui. Terdapat beberapa laporan tentang kerusakan hati akibat mengonsumsi ekstrak teh hijau dosis tinggi. Pada percobaan yang dilakukan pada tikus, estrak teh hijau dosis tinggi menyebabkan kerusakan hati pada hewan tersebut.

Terkait hal ini, laporan mengenai kerusakan hati akibat konsumsi teh hijau setiap hari dalam bentuk minuman masih belum ditemukan. Namun, United States Pharmacopeia menemukan setidaknya 34 laporan adanya potensi hepatotoksisitas – kerusakan hati akibat obat – yang disebabkan oleh ekstrak teh hijau dosis tinggi, yang sering kali ditemukan dalam suplemen kesehatan, seperti pada produk suplemen penurun berat badan.

Pada sebagian besar kasus, kerusakan hati umumnya muncul dalam waktu 3 bulan setelah penggunaan obat-obatan tersebut, dengan gejala seperti hepatitis akut. Meskipun mekanismenya masih belum jelas, komponen catechin (epigallocatechin-3-gallate/EGCG) yang terdapat di dalam teh hijau disinyalir sebagai penyebab hepatotoksisitas. Selain itu, adanya interaksi teh hijau dengan komponen lain di dalam suplemen yang dapat meningkatkan risiko kerusakan hati juga harus diperhatikan.

Dosis epigallocatehcin yang masih diperbolehkan adalah 800 mg/hari, selama maksimal 4 minggu. Jika Anda mengonsumsi sekitar 3-5 cangkir (720-1200 ml) teh hijau per hari, maka Anda mengonsumsi setidaknya 250 mg catechin per hari. Konsumsi ekstrak teh hijau disarankan dengan/setelah makan, karena jika dikonsumsi dalam keadaan perut kosong dapat meningkatkan kadar EGCG dalam tubuh hingga 5 kali lipat.

Oleh sebab itu, meskipun secara tradisional teh hijau tergolong aman, adanya laporan-laporan kasus terbaru tentang kerusakan hati yang berhubungan dengan konsumsi ekstrak teh hijau dosis tinggi, tentu hal ini tidak boleh diabaikan begitu saja.

Agar terhindar dari efek samping kerusakan hati sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen makanan ataupun suplemen penurun berat badan, terutama suplemen yang mengandung berbagai macam kandungan.

0 Komentar

Belum ada komentar