Sukses

Fakta di Balik Kecanduan Belanja

Kecanduan belanja, atau shopaholic, ternyata berhubungan erat dengan kondisi kesehatan! Kenali fakta di balik kecanduan belanja.

Kecanduan belanja (shopaholic) ternyata dapat menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan. Pasalnya, kondisi kecanduan belanja ini merangsang hormon endorfin dan dopamin pada otak, sama seperti efek yang ditimbulkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol.

Faktanya, sebanyak 9 juta wanita di Amerika Serikat menderita kelainan berbelanja yang kompulsif. Dr. Ruth Engs, seorang Profesor dari Ilmu Kesehatan Terapan Universitas Indiana mengatakan bahwa penyebab kecanduan, seperti kecanduan belanja, minuman keras dan berjudi belum diketahui, namun beberapa bukti baru mengatakan bahwa beberapa orang, yakni sekitar 10-15%, mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk memiliki kecanduan tersebut, yang berkombinasi dengan faktor lingkungan.

Penyebab dan akibat dari kecanduan belanja merupakan hal yang serius, karena dapat menyangkut pada faktor keuangan, sosial dan emosional, sama seperti jenis kecanduan lainnya.

Dengan kata lain, penyebab dari kecanduan ini masih belum diketahui secara pasti, namun kelainan ini bisa terjadi secara turun-menurun di keluarga. Perilaku tersebut terkadang diperkuat dengan keberadaan bermacam-macam tekanan dalam hidup. Faktor seperti stres pekerjaan, stres keluarga dan kesehatan fisik mempunyai peranan penting terkait tempo ketagihan yang dialami, walaupun masih sedikit bukti yang mendukung hal ini.

Banyak orang dengan kecanduan belanja akan menyangkal bahwa mereka mengalami hal tersebut. Dan terkadang, keadaan penyangkalan yang dibiarkan secara berkelanjutan dapat berlangsung bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

Situasi tersebut menjadi lebih menantang karena sulit untuk menentukan batas-batas seseorang dapat dikatakan kecanduan belanja karena sebagian besar orang cenderung untuk berbelanja dari waktu ke waktu.

Shopaholic atau kecanduan belanja sebenarnya tidak hanya dilihat dari seberapa sering frekuensi berbelanja yang dilakukan atau jumlah uang yang dihabiskan selama berbelanja, melainkan dilihat dari pengukuran apakah benar atau tidak orang tersebut menderita kecanduan belanja yang dimaksud, apakah orang tersebut akan terus berbelanja walaupun tagihan sudah membengkak, dan hal-hal lain yang lebih esensial.

Terdapat beberapa tanda yang dapat menerangkan bahwa orang tersebut adalah seseorang yang kecanduan belanja. Beberapa tanda tersebut, antara lain:

  • Berbelanja melebihi anggaran. Sering kali seseorang akan berbelanja lebih dari pendapatan mereka. Orang pada umumnya akan mengatakan “Saya tidak sanggup lagi untuk membeli ini atau itu.” Namun seseorang dengan kondisi kecanduan belanja tidak akan mengenali batasan dari sebuah anggaran dan akan terus berbelanja.
  • Berbelanja kompulsif. Seseorang yang kecanduan belanja sering kali berbelanja dengan kompulsif. Artinya, ketika mereka berniat berbelanja untuk satu pasang sepatu, hasil akhirnya justru malah berbelanja 10 pasang sepatu.
  • Permasalahan kronis. Kecanduan belanja menjadi masalah berulang-ulang.
  • Menyembunyikan masalah berbelanja. Seseorang yang kecanduan belanja akan menyembunyikan apa yang mereka belanjakan karena mereka tidak mau orang lain mengetahui dan mengkritik tindakan mereka. Terkadang mereka juga memiliki kartu kredit rahasia.
  • Lingkaran tak berujung. Beberapa orang akan mengembalikan belanjaan mereka karena rasa bersalah, namun rasa bersalah tersebut justru malah mengakibatkan keinginan yang lebih besar lagi untuk berbelanja.
  • Hubungan yang retak. Retaknya hubungan dapat terjadi karena seseorang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk berbelanja, menutup hutang dengan berbohong, dan menutup diri secara emosional dan fisik dari orang lain.
  • Konsekuensi yang jelas. Pertanyaan yang banyak ditanyakan adalah apakah seseorang yang menghabiskan lebih banyak dari uang yang seharusnya membuat orang tersebut menjadi seseorang yang kecanduan belanja? Jawabanya tidak. Namun ketika ada pola, tren atau konsekuensi, maka hal ini terjadi dapat terjadi. Selain itu, hal ini juga bisa terjadi karena orang tersebut mempunyai masalah.

Bagaimana cara menghadapinya?

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi hal ini, yakni:

  • Singkirkan semua kartu kredit Anda, bayarlah barang dengan tunai atau menggunakan debit.
  • Jangan berbelanja sendirian karena akan mencetuskan berbelanja yang berlebihan.
  • Bicarakan dengan dokter mengenai kemungkinan adanya depresi yang Anda rasakan sehubungan dengan kondisi kecanduan belanja.

Perlu diketahui, kecanduan merupakan hal jangka panjang yang mempengaruhi prioritas motivasi penderitanya. Tidak ada obat yang dapat digunakan untuk mengatasi hal ini. Namun, hal ini bisa dikendalikan secara efektif.

Beberapa terapi yang dapat membantu mengendalikan kondisi kecanduan belanja, antara lain:

  • Cognitive Behavioral Therapy Treatment

Berdasarkan Mayo Clinic, program terapi perilaku kognitif/Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah pilihan utama dalam modifikasi perilaku. Bentuk terapi ini pada intinya adalah satu pasien berhadapan dengan satu terapis di sesi regular interval, yang biasanya dilakukan seminggu sekali. CBT merupakan jenis terapi yang populer karena terapi jenis ini tidak menggunakan obat-obatan dan termasuk jenis terapi noninvasive, sehingga memungkinkan penderita untuk memiliki kendali lebih akan pilihan kesembuhannya.

  • Metode Terapi Lain
Terkadang, CBT akan dimodifikasi dengan mengumpulkan penderita lain di dalam satu grup yang di pandu satu atau lebih terapis. Pendekatan ini biasanya lebih populer, karena dengan ini penderita mendapatkan dukungan dan mengetahui bukan mereka sendiri yang menderita kecanduan tersebut. Pengurangan dalam rasa bersalah dan malu menjadi cara yang lebih efektif untuk mengurangi kekambuhan.

0 Komentar

Belum ada komentar