Sukses

Pentingnya Berkomunikasi dengan Anak tentang Kekerasan

Kekerasan dapat dengan mudah ditemukan di sekitar anak, baik dari acara televisi, game ataupun dari media online. Ketahui lebih dalam tentang pentingnya berkomunkasi dengan anak tentang kekerasan bersama dr. Dina Kusumawardhani berikut ini.

Kekerasan, terkadang hadir tanpa kita sadari di acara-acara televisi, game, atau media online. Kekerasan tersebut, termasuk di dalamnya perkelahian, kecelakaan, pembunuhan dan kekerasan jenis lainnya.

Respons setiap anak terkait kekerasan yang ada di sekitarnya dapat berbeda-beda. Pada sebagian besar anak, kekerasan yang mereka lihat tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan pada diri mereka. Namun demikian, kekerasan tersebut juga dapat mereka tiru dan mereka praktikkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Walaupun ada lembaga penyensor, namun tak jarang masih banyak anak yang secara tidak sengaja menyaksikan hal-hal yang berbau kekerasan tersebut.

Nah, setelah Anda mengetahui bahwa anak Anda meyaksikan hal-hal yang berbau kekerasan, cobalah lakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Tanyakan tentang apa yang diketahui anak Anda dan bagaimana perasaan Anak Anda terkait apa yang dilihatnya. Cobalah untuk mendiskusikan tentang yang anak Anda ketahui. Jika ia berada di dalam rumah, mungkin Anda dapat mengamati secara saksama. Namun, jangan sampai lupa untuk menanyakan apa yang diketahui terakit hal-hal yang berbau kekerasan, saat mungkin di sekolah atau dari teman-temannya.
  2. Perhatikan responsnya terhadap kejadian tersebut. Anak Anda mungkin merasa sedih, marah, atau bahkan takut. Ketika hal ini terjadi, peran orangtua sangatlah diperlukan. Anak harus dapat mengandalkan orangtua untuk mengekspresikan perasaan mereka. Jika Anda, sebagai orangtua, ingin mendiskusikan hal tersebut, cobalah untuk merubah konteksnya agar sesuai dengan usia anak Anda.
  3. Kurangi akses yang terus-menerus. Dengan adanya berita 24 jam nonstop, tentu hal ini dapat memiliki risiko tersendiri bagi anak. Karenanya, Anda harus dapat membatasi Anak Anda, termasuk jika anak Anda memiliki akses di kamarnya. Anda harus dapat mengingatkannya untuk dapat mengontrol apa yang mereka kerjakan.
  4. Hindari membahasnya di waktu sebelum tidur. Jangan membahas hal-hal berbau kekerasan pada Anak di waktu anak akan tidur. Pasalnya, hal ini dapat meningkatkan risiko anak mengalami mimpi buruk. Anda dapat mencoba untuk membicarakan hal ini di waktu pagi hari.
  5. Ingatkan anak bahwa selain orangtua masih ada orang lain seperti keluarga dan juga guru di sekolah yang senantiasa dapat melindungi dirinya.
  6. Ceritakan juga apa yang Anda rasakan. Hal ini dilakukan untuk membantu anak Anda mengetahui tentang kejadian tersebut secara lebih baik.
  7. Ceritakan pada anak tentang kejadian kekerasan dan cara menghadapinya atau menghindarinya. Anak Anda perlu mengetahui apa yang harus dilakukannya jika ia menghadapi hal-hal berbau kekerasan.
  8. Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak. Pada anak yang lebih kecil biasanya akan lebih banyak menerima penjelasan orangtua. Sedangkan pada anak yang usianya sudah besar, biasanya akan disertai dengan argumen-argumen yang datang dari anak. Dengarkanlah argumen tersebut dan arahkan agar anak dapat memahami hal ini dengan lebih baik dan benar.
  9. Imbangi dengan cerita-cerita yang baik. Hal ini termasuk dengan mencontohkan tokoh-tokoh yang baik, seperti dokter, sukarelawan dan tokoh-tokoh pahlawan.
  10. Perhatikan respon Anak Anda. Lihat dan pantau apa yang mereka rasakan dan lakukan sehari-hari.

Dengan memahami dan mengerti apa yang orangtua harus lakukan, maka hal ini dapat membantu Anak dalam menghadapi hal-hal berbau kekerasan yang ada di sekitarnya. Selain itu, hal ini juga turut dapat membantu menyaring informasi yang didapatkan oleh anak sehingga anak dapat benar-benar mendapatkan informasi yang sesuai dengan usianya. Jangan ragu untuk dapat berkonsultasi dengan dokter jika permasalahan yang dihadapi lebih serius dan tidak dapat diatasi. 

0 Komentar

Belum ada komentar