Sukses

Bermain Boneka Dapat Sebabkan Gangguan Makan pada Anak

Bermain boneka yang memiliki figur langsing dan sempurna dapat menimbulkan gangguan persepsi bentuk tubuh ideal pada anak perempuan. Lalu, apa hubungannya bermain boneka dan gangguan makan pada anak? Berikut ulasannya.

Boneka sudah merupakan mainan wajib bagi anak-anak perempuan pada umumnya. Boneka yang dijual dewasa ini sangat beragam, mulai dari yang berbentuk hewan hingga berbentuk anak perempuan sekalipun.

Boneka perempuan yang tersedia pun sangat bervariasi. Ada boneka yang tampak biasa, dalam artian tidak memakai banyak makeup wajah, tampilan wajahnya seperti pada umumnya, memiliki bentuk tubuh yang terlihat normal seperti perempuan-perempuan di dunia nyata.

Namun demikian, ada pula boneka yang diciptakan mengikuti impian ideal semua wanita di dunia. Boneka ini memiliki wajah yang cantik, pipi tirus, hidung mancung, lengkap dengan makeup wajah yang membuatnya lebih cantik dan menarik.

Selain itu, bentuk dan ukuran tubuhnya pun diciptakan sedemikian rupa, yang lagi-lagi merupakan idaman para wanita. Lengan yang kecil, paha dan betis yang langsing, dada dan bokong yang berisi, serta perut yang rata. Boneka ini pun hadir dengan berbagai busana yang modis dan keren. Singkatnya, boneka ini diciptakan bak model atau artis Hollywood ternama.

Tahukah Anda bahwa boneka tersebut dapat mempengaruhi sikap anak perempuan yang memainkannya?

Perlu Anda ketahui, Anak belajar dengan meniru. Dengan demikian, anak perempuan pun secara tak langsung dapat terpengaruh dengan boneka yang ia mainkan sehari-hari. Apakah itu boneka biasa yang nampak lebih “nyata”, ataukah si boneka cantik nan modis. Pola pikir dan persepsi anak akan bentuk wajah dan tubuhnya sedikit banyak akan terpengaruh oleh boneka yang sering ia mainkan.

Banyak penelitian melaporkan bahwa anak-anak perempuan yang memainkan boneka cantik bertubuh ideal akan memiliki pandangan bahwa bentuk tubuh dan wajah ideal yang harus dimiliki olehnya adalah seperti boneka tersebut.

Penelitian yang dilakukan, di Belanda, Inggris, Australia, dan Amerika ini mendapatkan hasil yang kurang lebih sama, yakni sang anak akan berusaha untuk mendapatkan figur tubuh yang ideal sedemikian rupa, sampai-sampai mempengaruhi pola makannya.

Sementara itu, anak-anak perempuan yang sehari-harinya bermain dengan boneka perempuan yang bertampang dan bertubuh biasa saja akan memiliki persepsi bentuk tubuh dan wajah yang lebih realistis. Dengan demikian, mereka pun tidak berusaha untuk mengubah pola makan sedemikian rupa dengan tujuan mendapatkan bentuk tubuh yang super ideal seperti boneka tersebut.

Usaha untuk mendapatkan wajah dan tubuh seperti boneka cantik nan ideal tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu aspek psikis dan fisik anak. Apabila hal tersebut berkembang menjadi obsesi yang berlebihan, tentunya hal tersebut akan menjadi sangat tidak sehat dan menggangu fungsi sosial dan kesehatan sang anak.

Menurut peneltian yang dilakukan oleh Brownell dan Napolitano serta Pedersen dan Markee, bentuk tubuh seperti boneka yang di idam-idamkan tersebut adalah tidak realistis. Bahkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Norton .dkk, kemungkinan seorang wanita memiliki figur tubuh seperti sang boneka secara alami – tanpa operasi plastik – adalah 1 berbanding 100.000!

Melihat seriusnya dampak yang dapat ditimbulkan, menjadi suatu hal yang sangat penting bagi para orangtua untuk lebih bijaksana dalam memilihkan mainan bagi putri tercintanya.

0 Komentar

Belum ada komentar