Sukses

Kenapa Seseorang Bisa “Baper”?

“Baper” merupakan suatu kondisi yang sering terjadi di kalangan masyarakat sekarang. Sebenarnya, apa alasan seseorang bisa “baper”? Berikut info medis dari dr. Muhammad Anwar Irzan.

“Baper” (terbawa perasaan) atau bersikap terlalu sensitif ternyata memiliki penjelasan medis dalam ilmu psikiatri.

“Baper” atau dalam bahasa medis dikenal sebagai Highly Sensitive Person adalah terminologi yang digunakan untuk kondisi di mana seseorang memiliki sensitivitas sensorik emosi tinggi yang diukur dengan Highly Sensitive Person Scale.

Proses sensoris ini berkaitan dengan sistem saraf. Dalam sebuah penelitian, penggunaan skala ini ternyata memperlihatkan bahwa orang yang “baperan’’ memiliki jumlah nilai yang lebih tinggi pada produksi dari reaktivitas emosi dan empati serta respons yang sensitif terhadap rangsangan.

Dalam kultur barat, terlalu sensitif atau “baper” akan membuat seseorang sulit diterima secara sosial dan kultural. Namun, High Sensitive Person atau orang yang terlalu “baper” (terbawa perasaan) bukanlah suatu penyakit.

Orang dengan perasaan yang sensitif dikarakteristikan dengan orang yang kurang mampu atau kurang berani untuk mengambil suatu risiko, menyukai ketenangan atau lebih sering digambarkan dengan orang yang lebih senang menyendiri, sangat termotivasi untuk menghindari berbagai rangsangan emosional, lebih menyenangi percakapan yang mendalam, serta memiliki kesulitan untuk suatu perbedaan atau suatu yang tidak ideal.

Walaupun kondisi ini berbeda dengan kondisi orang pemalu, tidak ada terapi atau penyembuhan dari kondisi ini. Pasalnya, menjadi sensitif atau peka terhadap lingkungan yang kita lalui bukan masalah sama sekali. Namun sikap “baper” atau terlalu sensitif ini dapat menyebabkan timbunya beberapa masalah, seperti kesulitan bekerja, kesulitan berkonsentrasi, dan gangguan emosi, yang tentunya dapat mempengaruhi kehidupan Anda secara keseluruhan. 

0 Komentar

Belum ada komentar