Sukses

Serba-serbi Gangguan Tidur yang Terjadi pada Anak

Gangguan tidur yang terjadi pada anak dapat mempengaruhi aktivitas tumbuh kembangnya. Yuk, ketahui serba-serbi gangguan tidur yang terjadi pada anak bersama dr. Irma Rismayanty di sini.

Tidur merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan manusia, khususnya anak-anak. Kebutuhan tidur pada anak semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia anak.

Tahapan tidur pada bayi dan anak dapat dikelompokkan menjadi: tidur aktif atau REM (Rapid Eye Movement) dan tidur lelap atau non-REM (Rapid Eye Movement). Pada saat tidur, terjadi perbaikan sel-sel otak, dan produksi sekitar 75% hormon tubuh.

Siklus tidur mempunyai keterkaitan dengan hormon tubuh. Hormon pertumbuhan disekresi pada awal periode tidur lelap dan dihambat selama tidur REM (Rapid Eye Movement), yang berhubungan dengan mimpi.

Dokter Marc Weissbluth dalam bukunya Healthy Sleep Habits, dan Happy Child mengatakan bahwa apabila anak tidak cukup tidur, maka badan tidak dapat menyelesaikan tahapan yang diperlukan untuk perbaikan otot, pengaturan pikiran dan memori, serta pelepasan hormon yang mengatur pertumbuhan dan nafsu makan. Hal ini menggambarkan pentingnya hubungan antara tidur dan tumbuh kembang anak.

Tidur yang cukup tidak secara multak diukur berdasarkan jumlah jam tidur dalam sehari. Beberapa tanda anak cukup tidur adalah jika anak dapat tertidur dengan mudah di malam hari, dapat terbangun dengan mudah di waktu normal pada pagi hari, dan tidak memerlukan tidur siang yang melebihi kebutuhan sesuai perkembangannya.

Anak dapat dikatakan mendapatkan istirahat yang cukup apabila memenuhi jadwal tidur dalam sehari yang teratur, total waktu tidur, tidur siang, dan konsilidasi tidur yang baik secara seimbang.

Kekhawatiran orangtua terhadap pola tidur anak ternyata merupakan salah satu masalah yang sering dikonsultasikan kepada dokter anak. Pasalnya, gangguan tidur yang sering kali terjadi pada anak dapat mengganggu kenyamanan tidur anak tersebut.

Beberapa gangguan tidur yang dapat terjadi pada anak, antara lain:

  • Night Waking

Night waking didefinisikan sebagai bangun dan menangis 1 kali atau lebih antara tengah malam hingga jam 5.00 pagi. Night waking terjadi paling sedikit 4 malam dalam seminggu, dan dalam 4 minggu dalam sebulan. Kira-kira 25% gangguan tidur ini terjadi pada bayi antara umur 6 bulan dan 12 bulan.

  • Night terrors (pavor nocturn)

Night terrors umumnya terjadi pada anak berumur 18 bulan hingga 5 tahun. Night terrors adalah kondisi anak yang sedang tidur lalu tiba-tiba duduk, berteriak, tampak bingung, disorientasi, mata terbelalak, dan terlihat sangat ketakutan. Anak tersebut walaupun sedang terbangun tetapi ia tidak mengenal orangtuanya atau orang lain. Kondisi ini hanya berlangsung beberapa menit, kemudian anak tidur kembali. Namun demikian, kondisi ini juga dapat berlangsung lama.

Karena ini bukan mimpi, maka keesokan harinya anak tidak akan mengingat kejadian yang ia alami tersebut. Peristiwa ini biasanya terjadi pada keadaan anak yang sedang sakit, stres, kurang tidur, namun dapat juga terjadi tanpa faktor yang jelas.

  • Somnambulism (tidur berjalan)

Somnambulism sering terjadi pada anak besar atau remaja, antara umur 5 dan 7 tahun, dan sering dipengaruhi oleh riwayat keluarga dengan gangguan serupa. Pada kondisi somnambulism, anak terbangun dari tempat tidurnya, lalu berjalan, naik tangga, atau ke kamar mandi dengan mata terbuka, bahkan anak bisa sampai keluar rumah yang dapat membahayakan hidupnya.

Saat anak mengalami kondisi ini, ia tidak dapat menjawab pertanyaan. Umumnya, kondisi ini berlangsung sebentar, hanya beberapa menit, kemudian anak tertidur kembali.

  • Nightmares (mimpi buruk)

Nightmare Paling sering terjadi pada anak berumur 4-6 tahun, walaupun studi membuktikan bahwa 25% anak berumur 6-12 tahun masih dapat mengalami mimpi buruk. Ketika kondisi ini terjadi, anak akan terbangun sepenuhnya dan tampak ketakutan. Hal ini biasanya dapat membuat sang anak selalu teringat akan isi dari mimpi buruknya tersebut, namun dapat ditenangkan oleh orangtua. Seperti night terrors, nightmare ini mudah timbul bila ada faktor stres.

Mimpi buruk dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa faktor yang dapat mencetuskan mimpi buruk, di antaranya:

  • Mengonsumsi makanan khusus pada malam hari, seperti coklat, keju dan minuman bersoda.
  • Menonton program televisi tertentu.
  • Masa inkubasi penyakit.
  • Rasa khawatir akan sesuatu.

Oleh karena itu, sikap orangtua sebaiknya menenangkan dan mendampingi, yakinkan bahwa itu hanyalah sebuah mimpi dan bukan kejadian yang sebenarnya. Bila kejadian ini berulang secara teratur, maka perlu diketahui latar belakangnya dan bila perlu konsultasikan hal ini ke psikolog.

  • Sleep Refusal (bedtime struggles)

Sleep refusal adalah kondisi anak yang menolak untuk tidur dengan cara menarik perhatian orangtua, misalnya dengan meminta sesuatu secara berulang-ulang, seperti meminta minum, pergi ke toilet, ataupun meminta makanan.

Pada umumnya, masalah ini dapat ditangani dengan menciptakan apa yang disebut dengan good sleep hygiene, yaitu lingkungan tenang, cukup gelap dengan suhu yang nyaman. Selain itu, masalah ini dapat juga dapat ditangani dengan menciptakan waktu tidur yang rutin, menempatkan anak di tempat tidur sebelum jam tidur dan tidak mendapat paparan menakutkan atau aktivitas yang berlebihan 1 jam sebelum anak tertidur. Cara ini sebaiknya dimulai sedini mungkin agar dapat menjadi suatu tindakan mencegah yang merupakan penanganan utama dari gangguan tidur pada anak bila dikerjakan secara konsisten.

  • Night walking

Night walking adalah kondisi anak yang terbangun pada malam hari, dapat disertai tangisan yang lama, dan kejadiannya berulang-ulang. Hal ini bila dibiarkan tentunya merupakan sumber stres bagi orangtua. Banyak faktor yang dapat membuat anak terbangun malam hari, misalnya infeksi telinga.

Tindakan penanganan yang dapat dilakukan untuk menangani night walking adalah dengan memberikan ketrampilan self-soothing pada anak. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan menerapkan good sleep hygiene, seperti yang telah disebutkan di atas. Dan apabila anak bila anak menangis pastikan bahwa tidak ada masalah fisik terjadi.

  • Sleep paralysis (kelumpuhan waktu tidur)

Sleep paralysis terjadi pada anak besar atau remaja. Kondisi ini terjadi pada waktu anak baru saja tertidur, dan dengan mendadak kondisi badan, tangan dan kaki anak menjadi tidak dapat bergerak. Kondisi ini biasanya hanya berlangsung selama beberapa detik, dan berakhir secara spontan atau segera berakhir bila orang yang mengalaminya disentuh. Hampir semua orang pernah mengalami keadaan ini, seperti yang disebut sebagai “ketindihan”.

  • Sleep starts (miyoclonus nocturnal)

Miyoclonus nocturnal berupa serangan mioklonus atau mioklonik yang terjadi pada anak yang baru saja tertidur. Ini merupakan bentuk fisiologik mioklonus. Kondisi ini bukan epilepsi dan tidak perlu pengobatan.

  • Bed wetting (ngompol)

Ngompol biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur malam dan anak dapat bangun secara mendadak. Hal ini termasuk salah satu gangguan tidur. Kondisi ini terjadi sehubungan dengan anak yang masih mempunyai kesulitan kontrol terhadap fungsi kandung kemih pada malam hari, yang biasanya dicapai pada umur 3 tahun.

Pada umur 6 bulan, rata-rata anak mengompol setiap 2 jam. Pada kondisi seperti ini, popok sekali pakai yang berkualitas memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kualitas tidur bayi sepanjang malam.

Sebagai orangtua, Anda harus dapat membedakan antara anak dengan waktu tidur yang singkat (short sleeper) dan anak dengan kurang tidur. Pasalnya, kurang tidur dapat menyebabkan anak tampak mengantuk yang nantinya akan mempengaruhi aspek kognitif, akademik dan perilaku selama siang hari. Bila gangguan tidur berlanjut atau mempengaruhi aktivitas anak pada siang hari, ada baiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter.

0 Komentar

Belum ada komentar