Sukses

Waspada FoMO! Gangguan Jiwa Akibat Media Sosial

Pernahkah Anda merasa sangat cemas jika tidak terhubung dengan akun media sosial, walau hanya beberapa menit? Jika ya, hati-hati terkena gangguan FoMO!

Apakah Anda pengguna jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Path dan sejenisnya? Media jejaring sosial memang menjadi budaya tersendiri saat ini. Kita dapat dengan bebas terhubung serta menunjukkan eksistensi kepada orang lain di seluruh dunia, dan semua orang pun dibebaskan untuk mengakses kehidupan kita tanpa batas.

Tapi orang akan mulai gelisah jika ponselnya tertinggal, karena menghalangi dia untuk dapat terhubung oleh dunianya di jejaring sosial. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, orang bahkan sangat takut dan cemas jika tidak terhubung dengan akunnya walau hanya beberapa menit. Jika itu sampai terjadi maka waspadalah, mungkin secara tidak sadar kita telah terkena sebuah gangguan kejiwaan yang disebut dengan FoMO (Fear of Missing Out).

Tentang Gangguan FoMO

FoMO pertama kali dikemukakan oleh seorang ilmuwan asal Inggris  bernama dr. Andrew K. Przybylski. Menurutnya, FoMO merupakan adanya dorongan berlebihan untuk mengikuti tren. Dalam hal ini, tren yang dimaksud adalah mengikuti status terkini milik akun orang lain secara berlebihan.

Atau dengan kata lain, FoMo merupakan sebuah gangguan di mana penderitanya sangat kecanduan terhadap Internet terutama jejaring media sosial. Bahkan penderita FoMO sering merasa cemas dan takut jika sesaat tidak terkoneksi dengan akunnya. Sebagian penderita FoMO tidak menyadari bahwa dirinya telah mengidap penyakit tersebut, bahkan gangguan yang dirasakan dianggap suatu kebiasaan yang wajar pada saat ini.

Penyebab Gangguan FoMO

Penyebab pasti gangguan FoMO belum diketahui, namun faktor sosial dan lingkungan menjadi pemicu utama FoMO. Pada dasarnya FoMO bukanlah sebuah diagnostik medis, karena diagnosis tersebut tidak tercantum dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa). Namun, FoMO merupakan suatu masalah sosial yang harus ditangani, karena jika tidak maka akan berdampak buruk bagi penderitanya.

Beberapa teori menyebutkan amigdala dan serotonin dianggap sebagai faktor penyebab timbulnya gangguan FoMO ini.

  • Amigdala

Pada amigdala, kerja yang berlebihan dari bagian otak ini dapat mengakibatkan timbulnya gangguan FoMO. Amigdala sendiri merupakan bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa takut dan mempersiapkan diri untuk kejadian darurat. Jadi, para penderita merasa takut jika berjauhan dengan ponsel karena mereka tidak ingin terlambat mendapatkan informasi terbaru dari media sosial.

  • Serotonin

Selain itu, menurunnya kadar serotonin dalam tubuh juga dianggap sebagai penyebab gangguan FoMO. Serotonin merupakan suatu zat pada sistem saraf pusat yang dipercaya sebagai pemberi perasaan nyaman dan senang. Sehingga kekurangan hormon ini akan memberikan perasaan cemas, takut, dan perasaan ingin melakukan suatu hal secara berulang (obsessive compulsive). Itu sebabnya kekurangan hormon ini menyebabkan rasa cemas dan selalu penasaran untuk melihat akun media sosial secara berulang.

Meski demikian, teori-teori tersebut masih menjadi sekadar teori yang masih diteliti oleh para ahli.

Gejala Gangguan FoMO

Untuk mengetahui apakah kita termasuk salah satu penderita gangguan ini, berikut adalah beberapa gejala penderita FoMO:

  1. Tidak dapat melepaskan diri dari ponsel.

Takut tertinggal informasi terbaru di media sosial membuat penderita FoMO tidak dapat berpisah dari ponselnya. Ponsel harus senantiasa ada pada saat melakukan aktivitas sehari-hari. Maka apabila penderita lupa meletakkan ponsel atau meninggalkannya di rumah, maka orang tersebut seperti tertimpa musibah besar dan tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan normal.

  1. Cemas dan gelisah jika belum mengecek akun media sosial.

Menurut sebuah penelitian, pengidap FoMO mampu mengecek akun jejaring sosialnya setiap 30 detik sampai 10 menit sekali. Bahkan, pada saat beribadah pun penderita FoMO tidak dapat berkonsentrasi dan terburu-buru dalam beribadah, sebab yang dipikirkan hanya mengecek akun jejaring sosialnya. Para penderita FoMO sangat takut dan cemas untuk didahului orang lain dalam hal mengetahui informasi dan berkomentar terhadap suatu status.

  1. Lebih mementingkan hubungan dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata.

Orang yang memiliki gangguan FoMO lebih tertarik untuk berhubungan dengan orang-orang di media sosial dibandingkan rekan di sekitarnya. Bagi penderita FoMO, mereka lebih mementingkan berkomunikasi dengan rekan-rekannya di media sosial dibandingkan mengobrol dengan teman-teman atau pasangannya.

  1. Terobsesi dengan status dan postingan orang lain.

Penderita FoMO selalu ingin tahu mengenai keadaan terkini orang lain dengan cara mengamati wall teman jejaring sosialnya secara berlebihan. Mereka akan melakukan kegiatan tersebut secara berulang-ulang, apalagi jika penderita dihantui rasa cemburu akan status orang lain, maka frekuensi untuk melihat akun orang tersebut menjadi lebih sering. Akibat perilakunya ini, waktu orang-orang yang menderita FoMO  akan habis hanya untuk melihat kehidupan orang lain.  

  1. Selalu ingin eksis.

Penderita FoMO selalu men-share setiap kegiatan yang dilakukannya. Penderita akan merasa depresi jika akunnya sedikit dilihat orang, namun dia akan merasa sangat gembira jika akunnya banyak like dan dikomentari orang lain. Seperti penjelasan sebelumnya, penderita akan selalu melihat akun pribadinya secara berulang-ulang dalam waktu singkat guna melihat respon orang lain terhadap eksistensinya.

Jika Anda menderita beberapa gejala tersebut, segeralah untuk mulai menjaga jarak dengan akun media sosial Anda. Jika gangguan dirasa sangat berat, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Pada akhirnya, gangguan FoMO ini akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi penderitanya. Penderita akan kehabisan waktu untuk menjelajah dunia maya dan mengabaikan kehidupan nyata. Meningkatnya angka perceraian dan produktivitas yang menurun pada usia produktif merupakan sebagian kecil akibat buruk dari FoMO. 

Untuk itu, penting bagi pengguna jaringan media sosial untuk lebih bijak dalam menggunakan akunnya, agar kita dapat  terhindar dari dampak negatif media sosial. 

0 Komentar

Belum ada komentar