Sukses

Waspada FoMO! Gangguan Jiwa akibat Media Sosial

Kecanduan media sosial dapat berdampak buruk, salah satunya sindrom Fear of Missing Out (FoMO). Apa itu FoMO? Simak di sini.

Apa Anda gemar menggunakan Instagram, Facebook, Twitter, TikTok, dan sejenisnya? Media sosial memang sering membuat penggunanya kecanduan. 

Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, seseorang bisa sangat takut dan cemas bila tidak terhubung dengan akunnya walau hanya beberapa menit. 

Jika hal itu sampai terjadi, maka waspadalah! Mungkin, secara tidak sadar Anda telah terkena sebuah gangguan yang disebut FoMO (Fear of Missing Out).

1 dari 5 halaman

Tentang Gangguan FoMO

FoMO adalah sebuah perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau memiliki pengalaman yang lebih baik dibanding Anda. 

Hal ini melibatkan rasa iri yang mendalam. Akhirnya, dapat memengaruhi kepercayaan diri. Gangguan FoMO sering diperburuk oleh media sosial.

FoMO bukan hanya perasaan tentang hal-hal yang mungkin lebih baik dari yang Anda dapat saat ini. Tetapi, juga melibatkan adanya perasaan kehilangan akan sesuatu yang dirasa penting. 

Perasaan ini dapat berlaku bagi siapa saja. Lalu, bisa membuat Anda selalu merasa tidak berdaya dan melewatkan sesuatu yang besar.

Artikel Lainnya: Usia Berapa Anak Diperbolehkan Bermain Media Sosial?

2 dari 5 halaman

Penyebab dan Gejala Gangguan FoMO

Sebenarnya, FoMO sudah ada sejak berabad-abad lalu. Namun, ketika media sosial muncul, gangguan ini mulai terlihat dan lebih banyak diteliti. 

Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan FoMO dan memberikan dampak buruk.

Media sosial mempercepat fenomena FoMO dalam berbagai cara. Hal ini terjadi karena media sosial menyediakan ruang untuk dapat “membandingkan” kehidupan Anda dengan kehidupan orang lain yang terlihat “luar biasa”.

Kehidupan orang lain yang sering dilihat di media sosial membuat apa yang Anda anggap normal menjadi berbeda. Anda merasa kehidupan pribadi lebih buruk dibandingkan kehidupan teman-teman yang terlihat di media sosial. 

Media sosial seperti menciptakan platform untuk “menyombongkan diri”. Di sana, beragam benda, peristiwa, dan kebahagiaan tampaknya saling bersaing. 

Artikel Lainnya: Sadfishing, Tren Pamer Kesedihan di Media Sosial

Banyak orang yang membandingkan pengalaman mereka yang terbaik dan sempurna. Hal inilah yang mungkin akhirnya membuat bertanya-tanya dan berpikir apa yang kurang dari diri atau hidup Anda.

Penelitian menemukan, anak remaja cenderung lebih sering menggunakan media sosial dan akhirnya mengalami FoMO. 

Anak perempuan yang mengalami depresi cenderung lebih sering menggunakan media sosial. Sedangkan, pada anak laki-laki, kecemasan adalah penyebab dari penggunaan media sosial yang lebih sering. 

Hal ini membuktikan, penggunaan media sosial dapat menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi akibat FoMO.

FoMO juga dapat dialami oleh segala usia berdasarkan beberapa penelitian. Sebuah penelitian dalam jurnal Psychiatry Research menemukan, FoMO berhubungan dengan penggunaan telepon genggam dan media sosial. Namun, hubungan ini tidak bergantung pada usia atau jenis kelamin.

Artikel Lainnya: Berapa Lama Idealnya Detoks Media Sosial yang Efektif?

3 dari 5 halaman

Dampak Buruk FoMO

Gangguan FoMO dapat berbahaya, karena dapat meningkatkan rasa tidak bahagia dan ketidakpuasan dalam hidup. 

Akibatnya, hal ini dapat meningkatkan keinginan untuk terus menggunakan media sosial. 

Selain itu, FoMO dapat menyebabkan keterlibatan yang lebih besar dalam perilaku tidak sehat. 

Penelitian dalam jurnal Computers and Human Behavior menemukan, FoMO dihubungkan dengan gangguan mengemudi yang dalam beberapa kasus dapat mematikan.

Artikel Lainnya: Berapa Lama Waktu Ideal Menggunakan Media Sosial dalam Sehari?

4 dari 5 halaman

Cara Mengatasi FoMO

Jangan khawatir, berikut beberapa tips untuk mengatasi gangguan FoMO: 

1. Ubah Fokus Anda

Dibanding fokus pada kekurangan yang dimiliki, cobalah perhatikan apa yang telah Anda miliki. 

Walaupun terdengar sulit karena melihat hal-hal yang tidak bisa dimiliki atau dilakukan di media sosial, namun hal ini perlu dilakukan. 

Anda dapat mengikuti akun orang-orang yang memberikan dampak positif pada kehidupan. Unfollow orang-orang yang cenderung sombong dan memberi dampak buruk pada diri.

2. Buat Jurnal Pribadi

Sering kali orang menggunakan media sosial sebagai sebuah “jurnal elektronik” untuk menyimpan apa yang sudah dilakukan atau dialami. 

Namun, hal ini dapat membuat Anda berharap akan komentar orang lain terhadap pengalaman Anda dan akhirnya jadi ketergantungan dengan komentar tersebut. 

Cobalah untuk membuat jurnal pribadi tanpa memerlukan “pengakuan” publik yang sering didapat dari media sosial. Dengan melakukan hal ini, Anda dapat terbantu lepas dari FoMO.

Artikel Lainnya: Depresi Akibat Media Sosial, Apakah Mungkin?

3. Carilah Hubungan dengan Orang di Dunia Nyata

Sering kali Anda merasa kesepian dan mulai mencari hubungan dengan orang lain di media sosial. 

Sayangnya, menggunakan media sosial untuk mencari hubungan belum tentu dapat berdampak baik. 

Akan lebih baik bila Anda membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar, seperti keluarga dan teman.

4. Fokus pada Rasa Syukur

Penelitian menunjukkan, terlibat dalam aktivitas yang meningkatkan rasa syukur dapat meningkatkan semangat Anda dan orang-orang di sekitar. 

Walaupun terkesan sulit, Anda dapat mulai mencoba untuk fokus pada nikmat yang sudah dimiliki. Ini ketimbang memikirkan kekurangan bila membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. 

Harus disadari, apa yang dilihat di media sosial belum tentu sesuai dengan keadaan asli pemilik akun. Anda tak selalu tahu cerita sepenuhnya di balik gambar-gambar yang dilihat.

Jadi, gunakan media sosial dengan lebih bijak ya! Ingin tahu informasi menarik lainnya seputar kesehatan fisik dan mental? Download aplikasi Klikdokter. Anda pun bisa konsultasi ke dokter dan psikolog lebih cepat lewat LiveChat.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar