Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Hati-Hati, Gejala Flek Paru pada Anak Beda dengan Orang Dewasa

Hati-Hati, Gejala Flek Paru pada Anak Beda dengan Orang Dewasa

Dewasa dan anak-anak bisa kena flek paru alias tuberkulosis. Anda wajib tahu, gejala flek paru pada anak beda dengan orang dewasa.

Klikdokter.com, Jakarta Flek paru, atau istilah medisnya adalah tuberkulosis (TBC), adalah salah satu penyakit menular yang berbahaya. Disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, TBC bisa menyerang siapa saja. Soal gejala, Anda wajib tahu bahwa gejala flek paru pada anak beda dengan orang dewasa.

Di Indonesia, meski sudah ada kemajuan luar biasa selama dekade terakhir, TBC tetap menjadi salah satu dari empat penyebab utama kematian.

TBC dapat menginfeksi hampir semua organ tubuh, seperti kulit, usus, tulang, dan lain-lain. Namun, TBC paling sering menyerang paru (karenanya banyak awam menyebutnya flek paru). TBC bisa mematikan, tetapi di sisi lain bisa sembuh total jika dilakukan pengobatan yang benar.

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, tidak semua orang yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis akan terkena TBC.

“Hal ini tergantung pada daya tahan tubuh. Jika seseorang memiliki daya tahan tubuh yang kuat, maka kuman TBC tidak akan berkembang. Namun, jika daya tahan tubuh lemah, kuman TBC dapat berkembang menjadi penyakit TB,” katanya.

Faktor risiko tuberkulosis

Secara umum, seseorang berisiko tinggi terkena TBC terbagi dalam dua kategori, yaitu:

  • Orang-orang yang baru saja terinfeksi bakteri TBC, meliputi:

  • Kontak langsung dengan seseorang yang terinfeksi TBC
  • Seseorang yang bermigrasi dari area dengan tingkat kejadian TBC yang tinggi
  • Anak-anak berusia di bawah 5 tahun yang memiliki tes TBC positif
  • Kelompok dengan tingkat penularan TBC yang tinggi, seperti tunawisma, pengguna narkoba suntik, dan seseorang dengan infeksi HIV
  • Mereka yang bekerja atau tinggal dengan orang-orang yang berisiko tinggi terkena TBC di fasilitas atau institusi seperti rumah sakit, tempat penampungan tunawisma, fasilitas pemasyarakatan, panti jompo, dan lain-lain.
  • Orang-orang yang dengan kondisi medis yang melemahkan sistem imunitas

Bayi dan anak-anak umumnya masih memiliki ketahanan tubuh yang rendah. Selain itu, orang-orang dengan kondisi di bawah ini juga rentan mengalami TBC:

  • Infeksi HIV
  • Penyalahgunaan zat
  • Silikosis
  • Diabetes
  • Penyakit ginjal yang berat
  • Berat badan rendah
  • Transplantasi organ
  • Kanker di kepala dan leher
  • Perawatan medis seperti kortikosteroid dan transplantasi organ
  • Penanganan khusus untuk rheumatoid artritis atau penyakit Crohn

Perbedaan gejala TBC pada anak-anak dan dewasa

Pada orang dewasa, gejala penyakit TBC cukup mudah dikenali. “Gejalanya meliputi batuk berdahak lebih dari 2 minggu, batuk darah, demam, keringat dingin pada malam hari, penurunan nafsu makan dan berat badan, sesak napas, nyeri dada, dan perbesaran kelenjar getah bening,” dr. Reza menyebutkan.

Beda dengan orang dewasa, gejala TBC pada anak lebih sulit dikenali karena terkadang gejalanya kurang jelas, terutama pada anak-anak yang usianya masih kurang dari 7 tahun.

“Gejala TBC yang paling sering ditemukan pada anak adalah batuk dan sesak napas. Selain itu, gejala lain yang cukup sering terjadi adalah berat badan yang kurang, sehingga anak mengalami malnutrisi atau gizi buruk. Berat badan pada anak dengan TBC sulit naik, bahkan setelah beberapa bulan dilakukan upaya peningkatan berat badan,” jelas dr. Reza.

“Gejala lainnya pada anak demam tanpa sebab yang jelas, perbesaran kelenjar getah bening pada leher, ketiak, dan selangkangan, serta pembengkakan tulang atau sendi pada panggul, lutut, dan jari,” lanjutnya.

Bila anak maupun Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas, segera lakukan pemeriksaan dengan dokter.

“Selain itu, jika ada anggota keluarga atau pengasuh anak yang terinfeksi TBC, Anda juga harus memeriksakan anak ke dokter. Berbeda dengan orang dewasa, pemeriksaan dahak untuk diagnosis TBC pada anak cenderung sulit, karena biasanya anak kesulitan untuk mengeluarkan dahaknya,” kata dr. Reza mengingatkan.

Oleh karena itu, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan tes Mantoux pada kulit dan rontgen dada untuk membantu diagnosis TBC pada anak. Bila terbukti terinfeksi, dokter akan segera melakukan pengobatan. Jika tidak terbukti, tapi ada orang-orang yang terinfeksi TBC, dokter akan memberikan obat untuk mencegah TBC  pada anak.

Mengingat gejala flek paru pada anak beda dengan orang dewasa, orang tua perlu tahu cara mengidentifikasinya. Pasalnya, mengenali TBC pada anak lebih sulit, karena kumpulan gejalanya bisa menyerupai penyakit lain pada saluran pernapasan. Maka dari itu, orang tua perlu mengawasi kondisi anak dan segera membawanya ke dokter untuk memastikan diagnosis. Bila terdeteksi dini, peluang sembuh pun makin besar.

(RN/RPA)

1 Komentar