Sukses

Kulit Kering, Apa Penyebabnya?

Kondisi kulit kering kerap kali dialami oleh sebagian orang. Sebenarnya, hal apa yang menjadi penyebab kulit kering ini? Berikut info medis dari dr. Melyarna Putri.

Sebagian besar orang mungkin memiliki kondisi kulit kering. Dalam dunia medis, kulit kering ini disebut dengan xerosis kutis atau asteatosis. Kondisi kulit kering ini akan membuat kulit terasa kasar dan bersisik. Angka kejadian kulit kering ini akan meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Beberapa tempat yang paling sering terlihat kering adalah kulit bagian tulang kering, bagian bawah panggul, dan garis aksila bagian belakang. Namun, pada kasus yang lebih parah, kulit kering juga akan terlihat pada bagian wajah.

Kulit memiliki pelindung yang disebut dengan skin barrier. Fungsi barrier pada kulit diperankan oleh lapisan teratas pada kulit, atau stratum korneum/lapisan tanduk.

Menurut jurnal yang ditulis oleh Ghadially. dkk, kelainan fungsi barrier terjadi pada kondisi kulit yang kering. Pada awalnya, kondisi ini sering tidak disadari oleh penderitanya. Namun, apabila dibiarkan berlanjut maka dapat menyebabkan peradangan dan cracking (kulit pecah-pecah). Ketika terbentuk celah pada lapisan kulit, atau cracking, maka kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada kulit akan meningkat. Ketika infeksi tersebut terjadi, maka akan menyebabkan kulit terasa gatal, panas, dan tidak nyaman.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan kulit kering? Kondisi kulit yang kering dapat disebabkan faktor internal dari dalam tubuh dan faktor eksternal dari luar tubuh.

Faktor internal dari dalam tubuh yang dapat menyebabkan kekeringan pada kulit, misalnya pada kondisi malnutrisi/kekurangan gizi, insufisiensi ginjal/penurunan fungsi ginjal, dan kelainan bawaan kulit – seperti iktiosis vulgaris/kondisi kulit kering parah karena faktor bawaan, dan atopi/kelainan kulit karena adanya faktor alergi. Kondisi medis yang disebutkan tersebut menyebabkan kulit kehilangan kelembapannya.

Kelembapan di dalam kulit ditentukan oleh beberapa hal, misalnya kandungan air di stratum korneum, derajat penyerapan air, dan kandungan lemak di kulit.

Kandungan air di stratum korneum dan derajat penyerapan air akan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya usia. Sebum atau lemak di kulit bertugas untuk melumasi lapisan tanduk, sehingga apabila produksinya berkurang maka akan menyebabkan kulit menjadi lebih kering.

Menurut jurnal yang ditulis oleh Ghadially. dkk, peran lemak dalam stratum korneum yang diperankan oleh seramid, kolesterol, dan asam lemak bebas ternyata memang produksinya berkurang seiring dengan peningkatan usia. Penurunan produksi ketiga hal ini menyebabkan kulit semakin kehilangan kelembapannya. Penurunan kelembapan kulit terjadi dimulai pada usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 50 tahun.

Di saat sudah mencapai usia 50 tahun, walaupun pada beberapa kasus dapat terjadi sebelum usia 50 tahun, seorang wanita biasanya akan masuk ke dalam fase menopause. Menopause ini memberikan peran dalam perubahan yang terjadi pada kulit. Ketika menopause, elastisitas kulit akan menurun, jumlah kolagen yang menentukan kekenyalan kulit menurun, timbulnya keriput, dan kulit akan menjadi lebih kering. Hal ini disebabkan karena menopause akan menurunkan hormon estrogen. Terapi hormonal terbukti dapat meningkatkan kelembapan kulit dan menurunkan risiko terjadinya kerutan di kulit.

Selain kondisi yang disebutkan di atas, terdapat kebiasaan atau paparan dari luar yang dapat memperparah kondisi kulit kering. Kulit yang kering dapat diperparah dengan suhu udara yang dingin, iklim yang kering, dan kebiasaan mandi/berendam saat mandi dalam waktu yang lama.  

0 Komentar

Belum ada komentar