Sukses

Terapi Oksigen Hiperbarik, Manfaat dan Risikonya

Dalam dunia kesehatan, oksigen dapat digunakan untuk penyembuhan luka bahkan cedera otak. Pengobatan ini disebut dengan terapi oksigen hiperbarik.

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh berita kebakaran di Rumah Sakit Mintoharjo pada unit terapi oksigen hiperbarik. Empat orang pasien yang sedang menjalani terapi meninggal akibat peristiwa nahas tersebut. Lalu banyak masyarakat yang bertanya-tanya, apa sebenarnya terapi oksigen hiperbarik itu?

Mengenal Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian oksigen dengan kadar 100% dengan tekanan di atas tekanan udara normal (2-2.5 kali tekanan udara normal). Ada dua jenis ruangan untuk terapi oksigen hiperbarik yaitu ruangan yang hanya dapat ditempati oleh satu pasien dan ruangan yang dapat ditempati oleh beberapa pasien.

Terapi oksigen hiperbarik memanfaatkan darah untuk mengantarkan oksigen dengan konsentrasi tinggi ke jaringan tubuh. Durasi terapi biasanya 90 hingga 120 menit.

Kegunaan Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik ditujukan secara langsung pada keadaan tubuh yang kekurangan oksigen, penyumbatan pembuluh darah, dan pembengkakan jaringan tubuh. Terapi oksigen hiperbarik dapat digunakan pada berbagai kondisi, di antaranya:

  • Cedera akibat penurunan tekanan mendadak saat menyelam.
  • Emboli udara.
  • Keracunan karbon monoksida.
  • Membantu penyembuhan luka.
  • Membantu penyembuhan cangkok kulit.
  • Cedera akibat kecelakaan tabrakan.
  • Cedera otak.
  • Memperlambat cedera akibat radiasi.
  • Sakit kepala.
  • Masalah pendengaran (tuli mendadak).
  • Penyumbatan pembuluh darah mata.
  • Luka pada penyandang diabetes.
  • Luka bakar.
  • Infeksi tulang.
  • Dll.

Peringatan

Terapi oksigen hiperbarik tidak dapat dilakukan jika Anda memiliki penyakit paru-paru, mengonsumsi obat-obatan tertentu, mempunyai gangguan pada sel darah merah, demam tinggi, hamil, kejang, dan beberapa kondisi lainnya.

Sebagaimana terapi lainnya, terapi oksigen hiperbarik mempunyai manfaat dan risiko. Salah satu risiko yang dapat terjadi adalah barotrauma (cedera akibat tekanan tinggi) yang menyebabkan gangguan pada telinga, sinus, gigi, dan paru-paru. Kemungkinan efek samping lainnya adalah keracunan oksigen dan perubahan daya penglihatan.

Namun demikian, komplikasi ini sangat jarang terjadi. Jadi sebenarnya terapi oksigen hiperbarik aman, asalkan dilakukan sesuai dengan indikasi serta prosedur yang benar.

 

Sumber:

Kranke P, Bennett MH, Martyn-St James M, Schnabel A, Debus SE, Weibel S. Hyperbaric oxygen therapy for chronic wounds. The Cochrane database of systematic reviews. 2015;6

Bennett MH, French C, Schnabel A, Wasiak J, Kranke P, Weibel S. Normobaric and hyperbaric oxygen therapy for the treatment and prevention of migraine and cluster headache. The Cochrane database of systematic reviews. 2015;12

Wang F, Wang Y, Sun T, Yu HL. Hyperbaric oxygen therapy for the treatment of traumatic brain injury: a meta-analysis. Neurological sciences : official journal of the Italian Neurological Society and of the Italian Society of Clinical Neurophysiology. 2016

Raman G, Kupelnick B, Chew P, Lau J.  A Horizon Scan: Uses of Hyperbaric Oxygen Therapy. AHRQ Technology Assessments. Rockville (MD)2006.

0 Komentar

Belum ada komentar