Sukses

Mitos dan Fakta Seputar Vaksinasi

Vaksin efektif untuk mencegah beberapa penyakit yang mengancam nyawa. Meski demikian, banyak mitos yang beredar di masyarakat tentang vaksin yang harus diluruskan!

Vaksinasi adalah salah satu cara agar tubuh kebal terhadap suatu penyakit. Vaksin dapat diberikan kepada anak-anak maupun orang dewasa. Vaksin bekerja dengan meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh secara alami.

Nantinya, ketika ada virus atau bakteri menginfeksi tubuh kita, sistem kekebalan tubuh dapat segera merespons dan mengatasinya.

Program vaksinasi yang dilakukan di seluruh dunia telah membantu meningkatkan kesehatan masyarakat. Antara lain, dengan cara menurunkan penyebaran penyakit, menurunkan disablitas, serta mengurangi jumlah kematian bayi.

Walaupun secara ilmiah vaksin terbukti efektif dan aman digunakan, namun masih banyak mitos-mitos yang beredar. Umumnya, mitos tersebut berisi tentang penjelasan yang keliru.

Oleh karena itu, ketahui beberapa fakta dan mitos vaksin yang harus diluruskan lewat ulasan berikut ini.

1 dari 4 halaman

1. Mitos: Vaksin Mengandung Bahan Berbahaya

Faktanya: Vaksin mengandung bahan-bahan yang aman untuk tubuh manusia. Vaksin juga menggunakan bahan alami yang mengandung dosis rendah. Bahkan, beberapa bahan vaksin didapat dari lingkungan sekitar.

Contohnya, thimerosal merupakan senyawa yang mengandung merkuri. Senyawa ini adalah pengawet yang banyak digunakan untuk vaksin multidosis.  Namun nyatanya, tubuh kita secara alami sudah biasa terpapar merkuri dari susu, makanan laut, atau

cairan lensa kontak.

Selain itu tidak ada bukti yang menyatakan jumlah thimerosal di dalam vaksin dapat menimbulkan risiko kesehatan. Sekarang sudah banyak vaksin dosis tunggal yang mengurangi penggunaan thimerosal di dalam bahannya.

Artikel Lainnya: Wajib Tahu, Ini 5 Vaksin yang Ditanggung BPJS Kesehatan!

2. Mitos: Vaksin Sebabkan Autisme dan Sindrom Kematian Bayi Mendadak

Faktanya: Vaksin sangat aman. Sebagian besar reaksi vaksin biasanya bersifat sementara dan ringan, misalnya saja seperti demam atau nyeri di lengan. Jarang ditemukan efek samping serius setelah seseorang disuntik vaksin.

Justru, Anda berisiko mengalami efek samping parah atau komplikasi ketika terkena penyakit yang sebetulnya bisa dicegah dengan vaksinasi.  Contohnya, jika terkena penyakit polio, Anda dapat mengalami komplikasi kelumpuhan. Lalu, jika terkena campak, Anda dapat mengalami ensefalitis (radang selaput otak) dan kebutaan.

Terlebih, beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi umumnya mengakibatkan kematian. Manfaat vaksinasi jauh lebih besar daripada risikonya. Tanpa vaksinasi, akan lebih banyak kasus penyakit dan kematian yang akan terjadi.

Ilmuwan masih belum tahu pasti penyebab autisme dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS atau sudden infant death syndrome). Maka sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan pemberian vaksin sebagai penyebab autisme atau SIDS.

Artikel Lainnya: Inilah 10 Vaksin yang Diperlukan Orang Dewasa

2 dari 4 halaman

3. Mitos: Lebih baik terinfeksi alami daripada mendapat kekebalan melalui vaksinasi

Faktanya: Banyak infeksi penyakit yang berisiko mengalami komplikasi serius. Untuk menghindari risiko tersebut, beberapa penyakit bisa dicegah dengan vaksin atau imunisasi.

Vaksinasi dapat merangsang sistem imun tubuh untuk menghasilkan respons kekebalan yang sama dengan infeksi alami. Akan tetapi, vaksinasi tidak akan menyebabkan seseorang benar-benar tertular penyakit atau bahkan mengalami komplikasi.

4. Mitos: Anak Saya Tidak Perlu Divaksinasi Karena Anak Lain di Sekitarnya Sudah Kebal

Faktanya: Kekebalan kelompok atau herd immunity dibentuk saat komunitas dari populasi besar diberikan vaksinasi untuk mencegah penyakit menular. Alhasil, risiko wabah di populasi tersebut bisa berkurang.

Bayi, wanita hamil, atau orang dengan gangguan sistem imun yang tidak dapat menerima vaksin akan bergantung dengan jenis perlindungan ini. Namun, jika banyak orang yang hanya mengandalkan herd immunity sebagai pencegahan infeksi penyakit, kekebalan kelompok ini akan segera hilang.

Artikel Lainnya: Bumil Digigit Hewan Liar, Bolehkah Suntik Vaksin Rabies?

3 dari 4 halaman

5. Mitos: Seorang Anak Bisa Tertular Penyakit dari Vaksin.

Faktanya: Risiko vaksin menyebabkan penyakit sangat kecil. Sebagian besar vaksin adalah virus/bakteri yang dinonaktifkan/dimatikan. Tidak mungkin tertular penyakit dari vaksin.

Beberapa vaksin pada dasarnya mengandung organisme hidup. Ketika tubuh divaksinasi, normalnya hanya menyebabkan efek samping atau kondisi kesehatan yang ringan.

Misalnya, vaksin cacar air dapat menyebabkan ruam di tubuh anak, tetapi hanya beberapa bintik yang muncul. Ruam ini tidak berbahaya, malah menunjukkan bahwa vaksin itu bekerja baik di dalam tubuh.

Demikian beberapa mitos tentang vaksin yang beredar di masyarakat, faktanya juga sudah diluruskan. Disarankan untuk memberikan vaksin sesuai jadwal, usia, dosis, dan kebutuhan masing-masing kondisi.

Dengan begitu, Anda bisa terhindar dari penyakit. Berkonsultasilah kepada dokter apabila membutuhkan informasi tambahan mengenai vaksin ini. Untuk lebih praktisnya, gunakan fitur Live Chat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar