Sukses

Benarkah Bahan Kimia Plastik Bisa Picu Pria Jadi Feminin?

Menurut kabar yang beredar, bahan kimia plastik bisa memicu pria jadi feminin. Benarkah demikian? Berikut ulasannya.

Saat ini pemerintah sedang mencoba menerapkan peraturan baru untuk mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Pasalnya, produksi plastik meningkat setiap tahunnya, yakni bisa lebih dari 300 juta ton pada tahun 2010 dan diprediksi meningkat di tahun 2016 ini.

Namun, tahukah Anda bahwa bahan kimia yang terdapat pada plastik dapat mempengaruhi kesehatan Anda?

Plastik dapat mengandung bahan kimia seperti phthalates, bisphenol A (BPA) atau difenil eter bifenil yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Berikut beberapa penelitian yang mengaitkan antara bahan kimia yang terdapat pada plastik dengan kesehatan manusia:

Penelitian 1

Menurut penelitian yang dilakukan pada hewan (tikus) sebagai model yang telah dipaparkan bahan kimia plastik dengan dosis yang lebih tinggi ditemukan bahwa terjadi perubahan pada organ testis tikus tersebut.

Testis merupakan organ penghasil hormon reproduksi bagi laki-laki yang terpapar oleh bahan kimia phthalates dikaitkan dengan rendahnya produksi hormon testosteron sehingga mengakibatkan terganggunya alat kelamin tersebut.

Fenomena ini dikenal sebagai sindrom PHTHALATE yang dapat mempengaruhi perkembangan seksual pada hewan di kemudian hari.

Penelitian 2

Penelitian lain mengungkapkan tentang paparan zat phthalate yang tinggi dapat menggangu perkembangan saluran reproduksi laki-laki, yaitu mengurangi jarak anogenital antara penis dan anus, testis tidak turun dan kelainan testis yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi. Namun hal ini perlu diteliti lebih lanjut dengan populasi yang lebih beragam dan dalam skala yang lebih besar.

Penelitian 3

Penelitian lain menungkapkan bahwa bahan kimia dalam plastik (phthalate) dapat mempengaruhi kualitas dari semen/sperma. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas dari sperma, seperti motilitas sperma, fungsi sperma dan kesuburan pria.

Namun terkait hal ini, penelitian lanjutan masih sangat diperlukan untuk mendukung kepastian dari penelitian sebelumnya. Pasalnya, penelitian terkait paparan terhadap phthalate masih sangat terbatas dan tidak konsisten.

Bisphenol A (BPA) banyak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari kita, seperti kaleng makanan, botol susu anak, dan wadah makanan lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk dapat memperhatikan label “BPA free” pada wadah makanan yang berbahan plastik.

Pasalnya, bahan plastik yang mengandung BPA ini disebutkan mempunyai efek buruk terhadap hormon tiroid, fungsi hipofisis dan reproduksi hewan sehingga dapat menyebabkan resistensi insulin dan penurunan produksi sperma, hilangnya diferensiasi seks pada otak dan perilaku pada tikus yang digunakan sebagai bahan penelitian.

Penelitian 4

Penelitian tentang efek BPA yang dilakukan di Jepang oleh Sugiura-Ogasawara et al, pada tahun 2005 mengaitkan antara kadar BPA serum dengan keguguran berulang pada wanita hamil.

Di samping itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Takeuchi dan Tsutsumi pada tahun 2002 dan Takeuchi .et al pada tahun 2004 menunjukan adanya korelasi positif antara konsentrasi BPA dalam serum dengan tidak adanya sirkulasi hormon testosteron total pada pria maupun wanita. Testosteron ini dikaitkan dengan hormon maskulinitas pada pria. Namun demikian, penelitian ini masih perlu ditelaah lebih lanjut untuk mendukung penelitian yang telah ada.

Sejumlah bahan kimia yang digunakan pada plastik ini, selain dapat merugikan lingkungan, juga dapat berbahaya bagi kesehatan kita. Pasalnya bahan kimia pada plastik ini memiliki dampak negatif, misalnya pada fungsi endokrin, reproduksi atau perkembangan seksual.

Dan perlu Anda ketahui, penelitian bahan kimia pada plastik terhadap manusia memang masih sangat terbatas. Namun, jika kita mengetahui akan dampak negatif yang dapat ditimbulkannya, tidak ada salahnya jika kita lebih berhati-hati terhadap penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari.

0 Komentar

Belum ada komentar